Tubing? Awalnya kata ini sangat asing bagi saya ketika saya mendapat tawaran dari teman saya untuk tubing di Salatiga. Sayapun mulai mengetikkan kata tubing dalam browser saya untuk melihat sebenarnya apakah tubing itu. Setelah membuka beberapa website, mengertilah saya bahwa tubing hampir sejenis dengan rafting, namun pada umumnya tubing menggunakan ban.

Kita akan menunggang ban untuk menyusuri sungai. Nyali saya sedikit ciut, mengingat saya memiliki phobia terhadap air yang terlalu banyak dan tidak bisa berenang sedikitpun. Namun ternyata, keingintahuan saya lebih besar daripada rasa takut yang saya miliki. Sayapun mengiyakan tawaran teman saya tersebut.

Rabu pagi, berangkatlah saya dari Solo. Setelah melalui 1,5 jam, sampailah saya pada kota Salatiga. Dari Salatiga, saya beserta 3 teman saya yang lain meluncur menuju lokasi yang terletak di desa Sambirejo, kota Semarang. Panitia sudah memberitahu kami untuk berkumpul di balai desa.

Setiba di balai desa, kami diberi sedikit penjelasan oleh panitia mengenai medan yang akan kami lalui. Mereka menjelaskan bahwa tubing ini sedikit berbeda dengan tubing lainnya, medannya justru lebih mirip dengan rafting. Sungainya lebih lebar dan pada titik-titik tertentu memiliki aliran yang deras. Pada beberaoa titik juga mungkin ada rintangan berupa patok, patahan, ataupun batu besar.

Ada 2 buah jalur yang disediakan, yaitu 4 kilometer dan 9 kilometer. Seketika itu, ketiga teman saya langsung memilih untuk mengikuti jalur 9 kilometer. Pucatlah saya! Teman-teman saya juga memilih menggunakan 4 buah ban tanpa pemandu di dalam. Baiklah, saya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.

Advertisement

Pelampung sudah terpasang, ban sudah diangkut ke atas mobil. Kami diantar dengan menggunakan mobil bersama dengan satu rombongan lainnya yang berasal dari Susukan. Bahkan ada anak kecil yang kira-kira masih SD ikut dalam rombongan tersebut. Sayapun mulai dihinggapi malu, pantanglah bagi saya untuk mundur! Sesuai yang diberitahukan oleh panitia sebelumnya, kami menyusuri tepian sungai yang berjarak kurang lebih 300 meter sebelum kami sampai pada tempat start.

Begitu sampai di tempat start, terlihatlah sebuah sungai yang cukup lebar dengan arus yang cukup deras. Lalu terbayanglah jarak 9 kilometer itu dalam kepala saya, mulailah ketakutan-ketakutan itu menghantui pikiran saya. Bagaimana jika saya terbalik? Bagaimana jika saya nanti tenggelam? Bagaimana dan bagaimana? Lalu saya mencoba menenangkan diri dengan menceburkan kedua kaki saya terlebih dahulu ke air, agar saya lebih mudah beradaptasi nantinya. Setidaknya itulah harapan saya. Kemudian saya mensugesti diri saya, ketakutan itu hanya ada di pikiran saya, bukan di dunia nyata. Jika saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu apakah saya akan berhasil atau tidak. Satu-satunya yang harus saya lawan adalah diri saya sendiri, ketakutan saya.

Berangkatlah saya menyusuri sungai tersebut bersama teman-teman. Awalnya memang arus tidak terlalu deras, perasaan saya masih sangat tenang. Saya mulai menikmati perjalanan ini, hingga tibalah kami pada arus yang cukup deras. Perahu kami tidak melaju dengan begitu baik sedangkan di depan kami terdapat rerimbuhan pohon yang menjuntai ke arah sungai. Ban kamipun menuju ke arah tersebut, kami berusaha meminimalisir resiko terbalik dengan cara merebahkan badan kami sehingga ban kami dapat lebih stabil.

Namun pada akhirnya, ban kami tetap terbalik. Saya merasakan tubuh saya masuk ke dalam air, satu-satunya yang saya pikirkan adalah saya harus dapat berdiri. Ah, akhirnya saya bisa berdiri! Celakanya, arusnya ternyata lebih deras sehingga tubuh saya terseret oleh arus. Tangan saya masih coba untuk meraih ban agar saya bisa kembali, namun sia-sia saja, saya tetap terseret oleh arus. Beruntunglah saya, teman saya dapat meraih tangan saya. Namun, tetap saja kami terbawa arus. Saya mulai merasakan sakit karena kaki terbentur bebatuan yang ada di bawah.

Kemudian, ada satu regu dari panitia yang menolong kami. Ban kamipun dipinggirkan terlebih dahulu, kemudian satu persatu dari kami ditarik. Yes! Berhasil ! Akhirnya, saya dan teman-teman dapat kembali ke dalam ban kami. Ini sangat menyenangkan, saya yang tidak bisa renangpun masih dapat terjaga keselamatannya karena ada pelampung dan tim yang sigap.

Tibalah kami di tempat pemberhentian jalur pertama. Beberapa dari tim sudah ada yang berada di pinggiran untuk memberikan instruksi agar kami beristirahat terlebih dahulu. Kami segera menepikan diri, satu persatu dari kami memanjat tepian. Lagi-lagi teman saya berulah jahil, ditariklah tangan saya hingga saya masuk ke sungai. Panik? Iya. Takut? Ah, kini takut hanyalah sebuah kata saja, bukan suatu perasaan yang membuat jantung saya berdebar kencang dan bulu kuduk saya berdiri. Selamat tinggal rasa “takut” !

Petualangan ini ternyata tak habis-habisnya memberikan saya kejutan, setelah mengalami tercebur, terbalik, diceburkan, kini di depan saya sudah ada pesta kebun! Luar biasa, tim sudah menyiapkan makanan di pinggiran sungai. Menu makanan kami kali ini cukup unik karena terdapat nasi jagung yang merupakan tanaman khas dari daerah tersebut. Tersedia juga beberapa macam gorengan dan saya bertemu dengan es buah. Ini seperti berada di secuil surga yang Tuhan turunkan ke bumi. Segar! Kebersamaan dalam kesederhanan ini membuat saya semakin bersyukur kepada Tuhan, atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya.

Setelah kami selesai menikmati hidangan yang ada, kami harus melanjutkan perjalanan kami yang masih 5 kilometer lagi. Kami akan melewati patahan yang cukup tinggi setelah ini. Satu persatu dari kami kembali menuju ban. Namun sayangnya, belum semua naik, salah satu ban kami bocor karena tersangkut. Ada-ada saja yang mewarnai perjalanan kami kali ini. Untuk itu, salah satu teman saya harus menyusuri pinggiran untuk berganti dengan ban lain setelah patahan. Saya bersama dua teman saya yang lainnya meneruskan perjalanan membawa ban yang salah satunya telah bocor. Untuk melewati patahan tersebut, kami menggunakan teknik seperti sebelumnya yaitu dengan merebahkan badan kami. Yes! Kami berhasil melewati patahan tersebut tanpa terbalik.

Bergantilah kami dengan menggunakan ban yang baru dan meneruskan perjalanan. Dayungpun dikayuh ke kanan dan kiri bergantian. Terkadang dua teman saya harus mengayuh lebih kuat agar arus yang kuat tidak menggulung kami, namun ada kalanya kami dapat bersantai mengikuti arus tanpa harus mengayuh. Begitupula dengan hidup ini bukan? Sesekali kita memang harus bekerja keras, namun ada kalanya kita bersantai-santai untuk menikmati hasil dari apa yang telah kita kerjakan.

Perjalanan ini memang panjang, namun jika kita hanya terfokus pada titik finishnya atau titik akhirnya tentunya kita tidak dapat menikmati perjalanan. Sekalipun saya awalnya memiliki ketakutan terhadap air dalam jumlah banyak, toh akhirnya saya dapat menikmati perjalanan ini! Perahu terbalik, terseret arus, terkena bebatuan, itulah bagian yang seru dari perjalanan kali ini, bukan bagian yang menakutkan. Hal tersebut hanya terletak pada pilihan saya untuk bereaksi atau merespon. Bereaksi dengan berteriak, kemudian trauma, dan menganggap ini suatu yang menakutkan atau memilih untuk merespon. Walaupun saya berteriak, namun saya segera mencari pijakan, mencari pegangan, hingga akhirnya saya bisa kembali ke ban dan menikmati lagi perjalanan.

Perjalanan ini berakhir setelah menempuh waktu kurang lebih 3 jam. Selama 3 jam, saya benar-benar melawan ketakutan saya, melawan diri saya sendiri. Tetapi, saya memperoleh reward berupa pemandangan sekitar yang begitu indah, berupa: tebing bebatuan dengan struktur yang unik, pepohonan yang rimbun, dan mengamati orang-orang yang beraktivitas di pinggir sungai. Satu kata untuk tubing di kali tuntang ini, seru!

Untuk kalian yang ingin menguji adrenalin, silahkan datang ke tubing Kali Tuntang. Kalian dapat menghubungi Bapak Zacky. Jangan takut jika anda tidak bisa berenang, saya sudah membuktikannya sendiri bahwa petualangan ini dapat kalian nikmati dengan aman. Petualangan seru sudah menanti kalian, tunggu apalagi? Segera datang!