Hari Ahad yang lengang, untuk kita yang sangat punya waktu terbatas bertemu, sangat sayang bila Ahad itu disia-siakan, malam sebelumnya kita sudah saling melempar janji akan bertemu di Ahad itu, dan iya kita menepati besoknya.

Tidak sulit bagi kita untuk menentukan di mana tempatnya, di sebuah kedai kopi, kau sudah sangat mengenal macam apa seleraku, aneh memang sedikit bermuluk-muluk tetapi tidak pernah menjadi alasan untuk kita bersawala.

Hari itu perjumpaan menjadi umpama cangkir kita bebas menuangkan rindu, aku bisa menatap tatapanmu sambil kau juga menatap kita beradu tatap dan itu romantis, sangat, lebih dari kontak fisik yang belum pernah kita lakukan sejauh ini.

Saling tatap adalah cara terintim kita berdua selain doa untuk menyatakan kecintaan yang amat banyak, untuk melampiaskan rindu yang tidak sedikit.

Di kedai kopi itu, aku lebih suka Irish Lemonade ketimbang minuman lainnya, dan kau tentu lebih menyukai kopi, lidah lelaki dan kopi ku kira memang semacam asimilasi kepahitan yang patut dinikmati, jika pada segelas kopi itu berupa cairan maka pada sebatang lidah lelaki itu dalam bentuk kata.

Advertisement

Hari itu menjadi Ahad yang paling singkat dalam hidupku, jarum jam seperti terburu-buru, mungkin cemburu dengan pertemuan yang mendebarkan jantung siempunya.

Hari itu aku nyaris diabetes ku kira, irish lemonade yang kecut manis diimbuh terlalu banyak senyuman manis dari garis bibirmu.

Tapi kita terlalu percaya diri, segala yang berlebih-lebihan itu benar menghancurkan, seminggu setelah Ahad berlalu, aku menunggu kabarmu di hari yang sama lengangnya, nyaris basi aku menanti kabarmu, tapi tidak putus asa, kalau-kalau semangatku mulai dingin ku panaskan di atas tungku rindu sekali lagi, sampai akhirnya sudah benar-benar basi, dibuat rengginang pun tak bisa, penantianku dibuang kekalahan.

Dua hari berselang setelah ahad itu, Selasa, aku menepuk pipiku, mencoba membangunkan diri dari lamunan merasa terlalu dicintaimu, karena waktu telah menginterupsi menyatakan itu tidak benar, kau masih menghilang, tanpa riak yang menggulung langkahmu padaku atau desau rindu yang dihembuskan perlahan-lahan, tidak ada hal semacam itu, kau enyah.

Ku dikte mataku untuk tidak terbelalak mencarimu lagi di layar handpone, ku bonsai lidahku agar tidak menyerumu di dalam doa, sudah, tidak baik memelihara luka.

Di sesak Rabu, keinginanku melengserkanmu dari pikiran sudah matang ku kira, lalu pada akhir setumpuk rutinitas di sore hari aku ingin menguji nyali di kedai kopi itu lagi, tanpa kamu, aku yakin semuanya akan semenjana.

Tiba di kedai itu 95 menit sebelum sholat Mahgrib, pramusaji menghampiri “kali ini pesan segelas irish lemonade dan secangkir strong coffee lagi mbak?” nadanya ramah, “tidak, hanya segelas irish lemonade saja mbak, terima kasih” timpalku.

Lebih kurang sepuluh menit pramusaji datang membawa pesanan, saat meletakkan segelas pesanan ia ku sergah “Mbak, kenapa hanya irish lemonade? Mana strong coffeenya?”,

Lalu pramusaji itu menggerutu “Kenapa minta dirapikan kalau ternyata masih ingin disantap, perasaan itu jangan disudahkan kalau masih terlalu mau dan punya kekuatan untuk bertahan” pungkasnya.