Kita meninggalkan jejak atas langkah kaki yang perlahan melebur bersama ombak di pasir pantai, menikmati tempiasnya yang sesekali menyentuh wajah. Bahagia terasa disini, di balik tawamu dan lari-lari kecil kita yang tanpa terasa memakan waktu cukup lama. Kamu adalah sosok yang melengkapi hari, tak hanya saat ini. tapi setiap 24 jam berganti. Senjaku, seperti matahari yang terbenam. Hadirmu ku nantikan setiap hari meski sebentar. Kita setia ya? Kamu setia menjengukku, dan aku setia menunggumu. aku tak pernah merasa sepi meski sesekali kamu menghilang, karena selalu ada caramu melenyapkan bentuk sendiri yang tak jarang meradang.

Aku merekam semuanya dengan jelas dalam memori hati dan pikiranku. bahkan secuil cubitan tanganmu yang mendarat di pipiku masih terasa hangat melekat, tersenyum mengingatnya. kita pernah mesra berdua, semua berawal dari persahabatan yang kukira selamanya akan sama. ternyata tidak. Benar kata mereka, tak ada persahabatan dengan perbedaan jenis kelamin yang bisa betahan lama. salah satu nya tentu akan kalah, kalah oleh rasa. dan kali ini aku adalah pemeran utama dari cerita. aku merebahkan hati tanpa sengaja dalam pelukanmu. sosok yang dulu cuma teman biasa, tapi kenyamanan muncul seiring dengan berjuta prosa yang kita ciptakan di senggang waktu yang ada. sampai pada akhirnya kita berfikir untuk harus membuat kisah berdua.

Kamu tau bagaimana rasanya di peluk oleh rindu? Senyummu, tatapanmu, manjamu, dan segala candaan kita di atas pasir putih ini mengisyaratkanku untuk meminta sedikit cintamu atas waktu yang sempat tak terjamah oleh pertemuan kita. Aku menikmati petualanganku sendirian disini. Iya, di tempat ini aku kembali. Kembali untuk merangkul sedikit cerita yang hampir terlupakan. Tempat dimana kita menorehkan isi hati sambil menunggu malam membawa kita pulang. Senjaku, kalau saja langit bisa protes mungkin dia adalah yang paling banyak mengkritik kehadiranku. Kenapa sering sekali aku datang untuk menangis dan kenapa berkali-kali aku datang tanpamu. Hanya dengan sekuntum edelweiss darimu yang kau bilang bisa menjadi teman pengganti ketika rindu sedang bertamu. Ahh.. sesak. Sekali lagi rindu membuncah datang menggulung seperti ombak, dan kamu tau? Sekarang aku tenggelam. Aku masih mencari alasan kenapa aku berdarah-darah. Biasanya, denganmu aku melihat perahu nelayan yang terombang-ambing adalah bentuk lukisan indah dari Sang Maha Romantis. Sayangnya kali ini tidak, apa yang kulihat adalah bentuk gambar hitam putih tanpa pesona apa-apa. Tanpamu…

Aku menjejakkan kaki tanpa alas mengikuti alur bibir pantai. Jauh dan semakin jauh berharap di ujung langkahku bisa menemukanmu. Tapi apa ada? Kosong. Sampai pada masa dimana semua terasa penat dan aku ingin menghentikan segalanya. Tulangku runtuh, jiwaku juga. Di sisi sebelah timur pantai ini, sungai kecil mengalir mengikuti arus sampai ke muara. Aku mengakhiri tatapan mataku kemudian mengarah pada mentari yang setiap detiknya semakin menohok masuk kedalam. Bagian paling ujung dari singgasana samudera yang memerah seperti hati kita yang sedang terbakar. Oleh asmara mungkin. Kolaborasi antara hangatnya sinar dan sejuknya angin laut seolah menggenggam lembut jemariku menemani hamparan langit barat dunia yang semakin menggelap.

Gelap dan pekat, rasaku untukmu juga begitu. Kalau mengibaratkanmu bukanlah sebuah dosa, kau itu seperti senja dan aku adalah sinarnya. Obsesiku mengharuskan kita untuk terus bersama. karena ketika kau tenggelam, aku juga.