Tawaran menuju Sulawesi Tenggara bukanlah tawaran pertama, setelah berbulan bulan menunggu datangnya tawaran itu lagi, disaat waktu sudah berpihak. Akhirnya tawaran itu datang juga. Ibukota Sulawesi Tenggara, Kendari.

Empat bulan berada disana, yang mulanya untuk berlibur sebulan, namun diberi tawaran untuk ikut bekerja di kantor om. Menjadi tawaran yang sebenarnya membuat ambigu. Kota ini panas, nggak punya temen, dan tidak ada lokasi wisata terdekat yang menjadi daya tarik tersendiri, untuk dipameran ke rekan rekan di kota asal, Malang.

Namun lain halnya ketika saya mencoba untuk memutar pandangan saya tentang cara menikmati traveling dari sisi pandang yang berbeda. Ketika kebanyakan traveler menikmati traveling dengan keindahan alam dan kotanya. Saya kini mulai menikmati kota kecil ini dengan mendekat pada masyarakatnya, dan mencari keindahan dari rasa syukur saya itu sendiri, karena telah sempat melihat Kota Lulo ini.

Beruntung rekanan kerja om ini usianya tidak jauh berbeda dari saya. Jadi masih ada sedikit penghibur kejenuhan berada di kota kecil ini. Di ibukota kendari ini sangat sulit mendapatkan air bersih, rata rata air bersih hanya bisa di dapat seminggu dua kali. Jadi, kalau di Malang kita bisa mandi sampai habisin air, beda hal nya di kendari kita harus meminim penggunaan air, atau kita memilih untuk membeli air satu tangki Rp 30.000. (Pelajaran 1 – Hemat Air)

Di kota ini juga tidak ada Mall yang berlantai lantai dan megah. Mall terbaik dan teramai, bangunannya hanya 3 lantai. Kurang lebih seperti Batos di Batu, Jawa Timur. Jadi kalau kita pergi kesana sendirian, nggak bakal nyasar, karna eskalatornya cuma satu. Jalan raya di kendaripun juga mudah untuk di ingat, saya yang masi beberapa hari disana saja sudah naik motor keliling sendiri kalau suntuk dirumah.