Untukmu, yang ku tulis indah dengan ketulusan.

Dulu aku pernah mencoba untuk melupakanmu.

Ternyata Tuhan punya rencana lain untuk kita sekarang.

Aku mulai banyak berharap dengan keadaan yang mempertemukan kita.

Jangan buru-buru berlalu, aku hampir sempurna menyusun kembali impian indah denganmu.

Advertisement

Tapi, kau yang ku percaya kenapa mulai berdusta.

Kau memilih menghilang tanpa kabar.

Kau bisa bayangkan hidupku disini dengan kebingungan?

Semudah itukah kau meninggalkan ketika kau bosan?

Secepat itukah kau berpaling ketika aku mulai nggak penting?

Aku disini masih mengharapkanmu hampir menyerah.

Selepas kau pergi, setiap hari aku merasa seperti mimpi.

Saat sepi, sering kali ku coba menghadirkan lagi bayangmu ke dalam pikiranku dan menghidupkan kembali rasa dihatiku untukmu.

Perihnya luka kehilangan yang perlahan mulai tertutup, kini kembali menganga karena ulahku sendiri.

Aku semakin sulit melupakanmu. Aku masih hidup dalam bayang-bayangmu.

Semua ku lakukan karena aku rindu.

Aku rindu dimana kita berbagi cerita bersama.

Aku juga rindu dimana ponselku dipenuhi pesan singkat darimu.

Aku rindu kamu yang dulu ada untukku.

Aku masih percaya kau akan kembali lagi suatu saat nanti.

Hingga sampai pada titik lelahku, kau hadir tanpa ku inginkan.

Kau menyusun kembali puing-puing harapan yang sempat ku hancurkan.

Ternyata masih tak berubah. Posisimu masih sama dihatiku.

Rasaku untukmu bahkan semakin besar mengalahkan rasa kecewaku dulu.

Aku sampai lupa gimana caranya dulu aku bisa sembuh dari rasa sakitku.

Dulu aku berharap penantian ini akan segera berakhir dengan jawaban yang pasti.

Kau memang bersamaku. Tapi, kau masih membuatku hidup dalam angan-angan.

Kau masih hadir sesuka hatimu.

Rasa berharap ini memang belum bisa berkurang sepenuhnya tapi, aku telah ragu untuk melebihkannya.

Dariku, yang masih menunggumu kembali dengan janji takkan pergi lagi.