Bu, bolehkah aku tidak tumbuh besar? Bolehkah aku tidak tumbuh menjadi wanita dewasa? Bolehkah aku hanya menjadi anak-anak saja? Bolehkah aku tidak tumbuh seperti yang kau inginkan?

Bu, aku rindu pada hal-hal bahagia. Aku kesullitan bernafas rasanya setiap kali aku tak mampu melewati hariku dengan baik. Aku lelah bermimpi buruk, juga leleh menggantungkan harapanku setinggi langit seperti yang engkau ajarkan, bu..

Bu, kalau aku bisa inginku menarik kembali ucapanku. Menarik kembali harapanku untuk tumbuh dewasa secepat mungkin.

"Ternyata bu, dewasa tak senikmat hidangan makananmu"

Bu, rasanya aku ingin berhenti untuk tumbuh setiap hari. Sulit sekali rasanya mengatasi hal secara dewasa. Rasanya aku gagal, bu. Gagal menjadi wanita dewasa yang tangguh nan cantik dan elok budi.

Advertisement

Setiap kali kulihat jarum jam, dadaku semakin berat. Pertanyaanku semakin menggunung. Mampukah aku bertahan setiap hari? Mampukah aku lewati? Apa yang harus ku lakukan? Adakah yang berkenan membantuku?

"Ternyata bu, dewasa tak seindah bermain boneka"

Dan engkau tahu bu, aku benci menghapus air mataku sendiri. Aku benci terisak tanpa mampu bercerita pada seorang pun. Aku benci harapanku tak pernah jadi nyata. Dan aku hampir benci untuk hidup, bu.

Maaf bu, maaf ketika engkau baca ini, aku mengecewakanmu. Maaf aku tidak hidup dengan baik. Maaf bu, aku selalu mengeluh dan lebih menjadi anak-anak,

Bu, jika sekiranya aku harus dewasa, mohon bantulah aku. Tolong sampaikan pada Tuhan, ampuni aku. Tolong sampaikan pada Tuhan, tolonglah aku, ringankan bebanku, beri aku kekuatan. Ku mohon, bu. Karena Tuhan akan selalu mendengar doamu.

Terakhir bu, terimakasih untuk segalanya. Maaf membuat matamu berair membaca rayuan putrimu ini. Sehatlah selalu,bu. Cium dan pelukku untukmu dari sini.