Bagi semua sahabat Hipwee yang sudah menikah pasti setuju dengan saya bahwa mempersiapkan pernikahan itu luar biasa stresnya, membuat kita akan mati-matian menolak bila harus mengulanginya lagi. Hal ini sudah sangat saya sadari sejak kami mengadakan acara lamaran kami, nyatanya tidak bisa dihindari, semua harus dilakoni dengan sepenuh hati demi acara seumur hidup sekali.

Kami mengadakan acara lamaran bulan Januari 2015. Bukan acara besar sebenarnya, hanya pertemuan dua keluarga dilanjutkan makan siang bersama. Lamaran dilakukan sesegera mungkin karena 2 hari setelah lamaran saya sudah harus berangkat bekerja ke Kalimantan Timur, dan dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya karena hanya memanfaatkan waktu cuti pacar saya yang hanya seminggu. Selanjutnya dia harus kembali lagi bekerja ke NTT.

Jadi dalam suasana yang genting namun bahagia, kami melaksanakan lamaran kami di kediaman saya di Serpong dan ditentukanlah perkiraan pernikahan kami akan dilaksanakan Januari tahun 2016 di area Serpong atau sekitarnya. Bisa dibayangkan betapa senewennya saya menghadapi kenyataan ini.

Pacar saya saat itu masih bekerja di Waingapu, NTT, kontraknya baru berakhir bulan Agustus 2015. Sementara saya bekerja di daerah Batu Kajang, Kalimantan Timur, kira-kira 4 jam dari bandara terdekat, Bandara Sepinggan, Balikpapan. Pada saat itu tidak terbayangkan bagaimana kami bisa mengurus persiapan pernikahan kami dengan situasi kerja seperti ini. Beruntung sekali kami mendapat banyak bantuan dari keluarga besar kami, terutama kedua orang tua kami. Mereka sangat memahami situasi kami dan memberikan banyak dukungan yang sangat meringankan beban kami dalam mempersiapkan pernikahan kami, mulai dari teknis sampai biaya.

Biaya pernikahan kami sepenuhnya ditanggung oleh orang tua kami. Kami tidak malu untuk mengakuinya karena bila pernikahan ini menggunakan uang tabungan kami, kami hanya sanggup mengadakan sakramen pernikahan di gereja tanpa undangan, tanpa resepsi. Kami pun memilih hari pernikahan dekat-dekat hari Natal agar tidak perlu membayar dekorasi lagi alias menumpang dekorasi Natal di gereja. Jadi untuk acara sebesar yang kami laksanakan, jika kami paksakan, kami bisa terlilit hutang sampai 70 tahun ke depan!

Advertisement

Dokter hanyalah jabatan pekerjaan kami. Pada prinsipnya kami tetap hanyalah pegawai biasa, dibayar gaji bulanan seperti pegawai lainnya. Lagipula orangtua kami membutuhkan acara yang manis untuk mempererat hubungan dengan sahabat dan relasi-relasi bisnis mereka jadi mereka bersedia untuk membantu mendanai acara kami. Selain itu juga, Tuhan sudah mengaturkan saya mendapat tempat kerja yang jadwal kerjanya cukup menguntungkan bagi saya yang hendak mengurus persiapan pernikahan.

Saya bekerja di sebuah klinik swasta di Batu Kajang, Kalimantan Timur. Batu Kajang merupakan daerah pertambangan batu bara dengan perusahaan utamanya PT. Kideco. 90% warga Batu Kajang bekerja di pertambangan. Meskipun klinik tempat saya bekerja bukan klinik perusahaan tetapi bekerjasama dengan cukup banyak subkontraktor di sana. Jadwal kerja saya kurang lebih hampir sama dengan jadwal kerja pegawai tambang, rotasinya 45:15. Artinya, saya bekerja selama 45 hari berturut-turut lalu mendapat libur 15 hari berturut-turut.

Bila saya sedang di Batu Kajang, saya selalu menyempatkan untuk melihat-lihat vendor dari internet, mempersiapkan konsep pernikahan, pokoknya pelan-pelan mencicil segala persiapan teknis. Nah, selanjutnya 15 hari libur yang saya dapatkan saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk mempersiapkan pernikahan saya, termasuk survey, meeting dengan vendor, kursus persiapan pernikahan, konsultasi dengan pastur, dll. Tetapi segala sesuatunya juga tidak bisa dibilang banyak kemajuan sebelum bulan Agustus karena pacar saya masih ada di NTT dan hal ini cukup menyulitkan komunikasi kami.

Setelah bulan Agustus, barulah kami bisa bersama-sama membicarakan, merencanakan dan mempersiapkan pernikahan kami dengan lebih detail. Masalahnya, setelah bulan Agustus, saya hanya punya 2x rotasi libur. Rotasi libur yang ketiga sudah bertepatan dengan hari pernikahan kami. Alhasil kami mengebut persiapan dalam 2x rotasi libur tersebut yaitu di bulan September dan November. Dua minggu di bulan September saat saya libur bisa dikategorikan sebagai 2 minggu paling mengerikan dalam hidup saya. Selama 15 hari berturut-turut, setiap hari kami berangkat paling lambat jam 6 pagi mempertimbangkan arus lalu lintas di Jakarta yang istimewa. Pulang paling cepat jam 10 malam, meeting dengan semua vendor untuk sakramen pernikahan dan resepsi.

Setiap hari, rata-rata kami meeting dengan 3 vendor. Kami susun jadwal sedemikian rupa agar rute lokasi meeting efektif dan efisien agar tidak banyak membuang waktu. Memasuki hari ke-10, kami sudah sangat kelelahan. Rasa ngantuk sangat sulit ditahan, konsentrasi sudah sangat sulit dikumpulkan untuk bicara dengan vendor. Sudah hampir tidak bisa berpikir lagi karena terlalu banyak informasi yang diterima.

Rasanya saya ingin sekali segera kembali ke Batu Kajang, tidak memikirkan ini semua karena bahkan saat saya bekerja tidak sesibuk dan sepusing ini. Lebih parah situasinya bagi pacar saya karena setelah selesai meeting, dia mengantar saya pulang ke Serpong dan dia harus kembali ke rumahnya di area Bekasi. Beruntung dia memiliki kerabat yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya, jadi terkadang dia menginap di rumah kerabatnya tersebut.

Akhirnya semua persiapan hampir selesai, sebagian besar vendor sudah deal. Saat saya libur bulan November, semuanya tinggal dikonfirmasi saja. Lalu, tiba-tiba datang bulan Januari. Semua yang sudah dipersiapkan selama setahun terjadi dalam 1 hari.

Dari suatu hal yang awalnya dirasa sangat sulit untuk dilakukan, ternyata dengan pengaturan Yang Maha Kuasa dan bantuan dari orang-orang yang menyayangi kami, semuanya bisa terlaksana dengan lancar, bahkan lebih baik daripada yang direncanakan!