Hai yang kurindukan.

Apa kabar, Cinta? Bagaimana kabarnya kembang api malam tahun baru kemarin? Apakah cantik? Aku tak bisa bertanya apakah ia sama seperti tahun lalu atau tidak, sebab kita tahu, tak ada kembang api yang kita lihat bersama saat 1 Januari 2016. Kita pun tak melihatnya di detik terakhir 31 Desember 2014, apalagi tahun-tahun sebelumnya.

Mendengar ceritamu beberapa hari lalu, sepertinya kau bahagia. Maaf jika aku tak bisa tertawa bersamamu. Jika kau tanya apa aku bahagia? Aku hanya bisa menjawab, aku pun banyak tertawa. Namun, apakah tawa dapat menjamin adanya rasa gembira? Selalu ada tangis usai tawa. Mungkin aku hanya sedikit teringat harapan kecil di masa lalu, saat kita ingin lekas meninggalkan dunia penuh meja kaca dan rapido. Dengan begitu, kita dapat mengenyam taburan bunga api warna-warni bersama. Akan tetapi, sepertinya meski meja kaca pergi, layar kaca memaksa kita tetap bersembunyi.

Sekali lagi, mungkin hanya aku yang lebih mengharapkannya dibandingkan dirimu. Diriku pernah bercerita padamu, tentang sebuah pilihan dalam memandang seseorang. Setiap manusia yang pernah hidup bersama kita itu selalu mengukirkan kenangan. Yakni sebagai kobaran api yang pernah menyakiti kita, atau selayaknya kembang api indah yang pernah menemani tawa kita. Kini aku hanya takut aku lupa bagaimana kerlipan rupa warna bunga api itu di langit. Aku tak ingin melihatnya saat masa remaja ini telah habis, sebab bila masa remaja ini habis, itu pertanda impianku hanyalah sebuah khayalan. Dengan begitu, artinya aku telah menjadikanmu sebagai kobaran api yang kubenci.

Cinta, mungkin kau marah karena aku membisu. Maaf jika aku menjadi sombong. Detik ini aku hanya lelah berharap akan datangnya dongeng pengantar tidur yang lain. Seakan rasa penasaran akan kisah hidupmu telah hangus bersama ledakan kembang api. Apakah aku sedang marah? Ya, aku marah! Kulempar boneka beruang berdasi merah jambu, kurobek potret bayangan dua insan, dan kubakar semua harapan palsu yang pernah tersimpan. Seperti dalam film Never Said Goodbye, aku berharap bisa seperti Xiao You yang mengutuk Junho jatuh ke dalam jurang.

Advertisement

Jangan pernah kembali! Cinta juga seperti tinta pena, ia bisa habis atau mengering sia-sia. Ia tak bisa tenang hanya dengan ditemani beruang bisu. Saat menangis, tak bisa mendadak tertawa dengan gambar Apple or Pineapple. Apakah menurutmu cukup dengan bertanya “Apa kabar?”, “Kau kemana?”, “Kau kenapa?”. Aku heran, kau sungguh tak tahu, atau pura-pura tak tahu, jika terkadang seseorang tak butuh kata namun rasa. Perasaan di saat seseorang berada di sampingnya, benar-benar di sampingnya, yang tak sekadar kata dalam teks atau telepon.

Kau sudah tak punya kisah untuk diiceritakan, jika ada pun kau harus berpikir dan berjuang menemukannya. Aku pun begitu. Entah memang hidupmu yang penuh rahasia atau aku yang tak kunjung sanggup mengerti keadaan. Lalu apa yang akan kita harapkan? Bersandingan tidak, bicara pun tidak. Lalu kenapa kita harus memaksa bersama? Untuk menikah? Menikah lalu mematung bisu? Atau bertahan, menunggu uang menyuruh kita libur kerja, lantas berusaha bergembira? Namun, Cinta, jangan cemas, setidaknya detik ini, aku masih merindukanmu.

Bulan ini, dalam permulaan tahun ini, kau bertambah dewasa. Semoga hati kita, perasaan kita, dan pemikiran kita semakin dewasa pula. Atau haruskah kita seperti taburan meriah di festival kembang api itu? Berlomba mencapai titik tertinggi angkasa. Melihat siapa yang terindah. Lalu menanti siapa yang akan meluruh ke bumi lebih dulu. Lantas kembali menanti melesatnya kembang api berikutnya, yang entah ada atau tidak.

Cinta, jika kau membaca surat ini, dan kau sungguh merindukanku pula. Kumohon sempatkanlah, tuliskan kisah manis pengantar tidur untukku. Aku mohon! Aku ingin jiwaku kembali, dan aku… Aku merindukanmu yang dulu.

Salam Tahun Baru, Dari Hati Untuk Cinta.