Teruntuk mu seseorang yang selalu aku rindukan..

Teruntuk mu seseorang yang selalu aku nantikan..

Teruntukmu seseorang yang selalu aku mimpikan di setiap malam tidurku..

Teruntuk mu seseorang yang selalu kulihat fotonya di saat hari buruk tengah menghampiriku..

Teruntuk mu seseorang yang tak pernah lupa kusebut namanya di setiap sela-sela bait doaku..

Apa kabar dirimu saat ini?

Serta bagaimana dengan kesibukanmu saat ini? Apakah semuanya berjalan dengan baik-baik saja?

Lalu, apakah kamu masih ingat dengan pertemuan terakhir kita? Pertemuan yang begitu manis menurutku, dibandingkan pertemuan-pertemuan kita sebelumnya. Bagaimana kalau menurut pendapatmu?

Aku masih ingat pada saat itu, selama 324.000 detik telah kita habiskan waktu berdua untuk mencurahkan semua rindu yang selama ini kita rasakan. Dan aku masih sangat ingat jelas, ucapan apa saja yang kamu ucapkan pada saat itu, saat kamu dan aku berjalan berdua menjajaki rak-rak buku yang tersusun rapi di sebuah toko buku. Saat itu lah, banyak sekali hal-hal yang kita bicarakan berdua.

Dan kamu… Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang sama sekali selalu tak terlihat bosan ketika aku mengajak mu untuk pergi bersama ke sebuah toko buku. Tidak sama seperti laki-laki pada umumnya, yang terlihat bosan ketika aku mengajaknya untuk pergi ke sebuah toko buku. Berbeda sekali dengan dirimu yang tetap bersikap enjoy, bahkan selalu merespon dengan baik ketika aku membicarakan tentang buku-buku yang aku bicarakan pada saat itu.

Kamu juga adalah satu-satunya laki-laki pendengar terbaik yang selama ini aku kenal. Mendengarkan semuanya dengan baik setiap pembicaraan demi pembicaraan yang aku lontarkan pada saat itu. Saat detik itu pula, di mana aku seakan tidak menginginkan waktu ini terus berjalan, berjalan hingga harus mengantarkan kita kembali kepada perpisahan.

Advertisement

Kini rasanya sudah lama tidak berjumpa denganmu, aku kini sungguh merindukan semua itu.

Percayalah… Kabarku di sini baik-baik saja, sementara dengan kesibukanku saat ini juga kurasa sama seperti kesibukanmu yang sama-sama sibuk menyiapkan masa depan.

Tenanglah….. Aku tak akan mengganggu mu, apalagi mengusik mu saat ini. Mengapa? Karena aku selalu menghargai waktu yang terus berlalu, walaupun sebenarnya aku tak ikhlas untuk mengikutinya. Saat ini, yang ku minta kepadamu hanyalah fokuslah terhadap apa yang sedang kamu lakukan dan impikan selama ini. Biarkanlah saat ini aku sibuk dengan semua kesibukanku dan kamu sibuk dengan semua kesibukanmu itu sendiri.

Biarkanlah hanya waktu dan jarak yang menjadi penghalang di antara kita berdua..

Biarkanlah hujan yang akan menenggelamkan dan mengguyur semua perasaan tentang rindu ini..

Dan biarkanlah juga matahari yang akan memancarkan sinarnya ke setiap lorong-lorong gelap yang berada di rinduku ini. Janganlah sampai kamu biarkan kebencian ataupun dendam yang menjadi penghalang di antara kita berdua.

Maafkan aku.. Aku di sini hanya bisa terdiam dan mendoakan yang terbaik untuk setiap langkah dan semua usahamu itu.

Namun, ada satu pesanku teruntuk mu kasih, "Jika di tengah-tengah kesibukanmu itu nanti sudah tersedia ada sedikitnya ruang waktu untukku, maka janganlah lupa kamu untuk segera menghubungi ataupun menemuiku, walaupun itu hanya sesekali".

Ketahuilah… Saat ini di mana tempatku berpijak, aku pun tak sedikit terlupa untuk selalu mendoakan agar kesibukan yang sedang dialami antara kita saat ini cepat segera terselesaikan. Dan semoga, pada akhirnya juga nanti akan mengantarkan kita kepada pertemuan yang selama ini dirindukan…

Pertemuan yang selama ini diimpikan…

Pertemuan yang selama ini dinantikan…

Dan pertemuan yang selama ini didambakan…

Kepadamu sang pemilik rindu, terima kasih sudah mengajarkan aku menjadi Perindu Ulung. Terima kasih sudah menjadikan aku seseorang yang sabar dalam menantikan sebuah pertemuan.

Kepadamu sang pemilik rindu, aku selalu berdoa agar kamu selalu tetap menjadi dirimu sendiri, seperti yang ku kenal selama ini. Karena apa? Karena aku tak ingin, jika pertemuan kita nanti justru malah membuat aku seperti tidak mengenali mu, tidak mengenali seseorang yang selama ini kurindukan.

Kepadamu sang pemilik rindu, maafkan aku jika rinduku selama ini membuatmu terganggu ataupun marah. Tetapi ingatlah, jangan pernah sekali-kalinya kamu menyalahkan rindu ini, sebab rindu tak mempunyai alasan yang cukup pasti kepada setiap apa yang ia rindukan. Salahkan sajalah aku yang telah salah memilih dirimu untuk kujadikan seseorang yang ku rindukan.

Namun aku pun tahu dan sadar, tidak semua RINDU itu perlu diungkapkan…

Tidak semua RINDU itu perlu dituliskan…

Tidak semua RINDU itu perlu digambarkan…

Dan, tidak semua RINDU itu pula harus diketahui oleh yang dirindukan…

Terkadang, apa yang dirindukan itu hanya perlu dirasakan dan diresapi oleh setiap si perindu itu sendiri. Merasakan setiap pergantian jam demi jam, hari demi hari, hingga bulan demi bulan lalu merasakan bagaimana cara yang indah untuk merindukannya. Merasakan setiap proses alur yang sedang berjalan, lalu berlalu tanpa sedikitpun mengusiknya. Dan juga mencoba mengingat beberapa kenangan yang masih terbenak di kepala tanpa harus menghapusnya.

Karena jujur, sampai saat ini kenangan itu masih tergambar jelas, saat-saat pertemuan terakhir kita pada saat itu.

Namun, yang hanya bisa dilakukan aku, sang perindu ulung hanyalah mendoakan kamu si pemilik rindu itu, agar dapat segera menghubungi ku lagi dan bertemu dengan ku (lagi) suatu saat nanti. Entah itu seperti semacam pertemuan yang direncanakan dan berakhir manis, dan membekas seperti yang dialami sebelumnya ataukah pertemuan yang didasari tanpa diduga-duga oleh keduanya. Entahlah…

Yang jelas, seorang perindu ulung itu adalah perindu yang hebat karena ia perindu yang tidak akan pernah mau mengganggu dan mengusik kepada setiap apa yang mereka rindukan. Tetapi mereka justru lebih memilih dengan cara menunggu, lalu mendoakan agar rindunya itu dapat segera terobati dengan sebuah "PERTEMUAN".

PERTEMUAN yang selama ini ia nantikan meski tak tahu kapan itu waktunya tiba.

Mungkin itulah dia, yang baru bisa dinamakan "SANG PERINDU ULUNG".