Beberapa bulan lalu, ketika saya baru saja lulus sidang, saya sangat bahagia kalau bertemu dengan orang-orang. Karena pertanyaan semacam, kapan selesaikan skripsi? atau kapan wisuda? bisa dijawab dengan tegas dan pasti. Saat itu, rasanya semua persoalan dan kegundahan saya bisa dengan mudahnya ditutupi dengan senyum bahagia sehabis sidang skripsi.

Namun ternyata, pada hari itulah pintu dunia baru terbuka. Dalam hati saya membatin, "oh tidak! nightmare telah dimulai."

Kalian tahu, apa yang paling ditakutkan oleh mahasiswa pasca wisuda? Iya, bertemu dengan keluarga besar. Ketika ada acara keluarga apa pun, saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak berinteraksi dengan orang yang lebih tua dari saya. Saya lebih memilih bermain dengan sepupu saya yang kecil-kecil dan yang masih sekolah. Tujuannya sudah sangat jelas: untuk menghindari pertanyaan berikutnya, seperti: kapan kerja?, mau kerja di mana?, dan mana pacarnya?

Sungguh, senyum manis dan jidat lebar yang tertuliskan "BARU SAJA WISUDA" tidak dapat berarti apa-apa.

Yang membuat kondisi saya tampak semakin menyedihkan adalah ketika saya dipandang melalui kakak perempuan saya. Yang umurnya hanya terpaut satu tahun di atas saya. Dia punya kepribadian menarik, punya pekerjaan bagus, cantik, supel, cerdas, pandai membuat suasana menjadi menyenangkan, dan yang pasti punya pacar. Siapalah saya jika disejajarkan dengan dia? Wah, wah, saya sudah pengangguran, jomblo juga. Benar-benar menyedihkan.

Advertisement

Tidak berhenti sampai di situ saja. Ada satu kejadian yang membuat saya sedih. Ketika beberapa hari yang lalu saya sedang berada di Jakarta bersama dengan kakak saya untuk menemui temannya. Momen yang paling saya takutkan akhirnya benar-benar terjadi. Kami duduk bertiga di Tokyo Belly sambil makan dan mengobrol santai. Kakak saya dan temannya terlihat asyik bercerita dan membicarakan hal-hal yang mereka ketahui. Sementara saya, hanya sesekali menimpali dan tersenyum kecil karena tidak mengerti apa yang mereka bahas.

Tiba-tiba, teman kakak saya berkata demikian pada saya, "kamu kok pendiam banget sih? coba dong kayak kakakmu yang asik dan pandai ngomong." Saya hanya bisa menjawab "soalnya gak paham sama apa yang kalian bahas, hehe." Ditambah nyengir sedikit biar sedikit lebih cair suasananya. Tapi bukannya mengangguk dan berhenti berkomentar, temannya ini malah mulai menceramahi saya. Dari A sampai Z. Dan garis besarnya adalah karena dia heran kenapa kepribadian dan karakter saya tidak sama seperti kakak saya.

"Kalian diproduksinya sama, seharusnya punya kemiripan. Tapi ini malah sama sekali bertolak belakang. Je, ajarinlah adikmu biar bisa kayak kamu. Cin, kamu harus banyak-banyak belajar dari kakakmu ya. Biar bisa kayak kakakmu." Begitu satu kalimat yang dia lontarkan yang paling menancap di hati saya. Setelah itu, masih banyak omongan yang tidak saya hiraukan.

Harga diri saya terluka. Saya sempat berpikir, memangnya saya sebegitu tidak menariknya kah? Apa yang salah jika saya pendiam dan introvert? Dalam hati, saya berusaha untuk terus mencari pembenaran dan membela diri saya sendiri. Saya harus melakukan demikian, karena jika tidak, saya bisa menangis di tempat pada saat itu juga. Akhirnya saya hanya mengangguk pelan, menatap dalam pada matanya, lalu memberikan senyum lebar walaupun dia tidak tahu itu adalah senyum terpalsu yang pernah saya tunjukkan.

Ketika perjalanan pulang menuju penginapan, saya dan kakak saya diantar oleh temannya itu. Keduanya masih mengobrol dan berbicara tentang hal yang tidak saya ketahui. Lalu, mulai menangislah saya di kursi belakang mobil selama perjalanan dalam hening itu. Selain memiliki tingkat insecurity yang tinggi, saya juga seorang deep thinker. Saya hanya belum bisa melupakan apa yang dikatakannya pada saya barusan. Saya merasa gelisah dan tidak diinginkan keberadaannya.

Ini bukan karena saya dibandingkan dengan kakak saya yang jauh, jauh, jauh lebih sempurna daripada saya. Saya sedih karena saya merasa tidak dihargai sebagai diri saya sendiri. Saya dipaksa untuk menjadi orang lain, seolah-olah menjadi diri saya sendiri adalah hal terburuk yang pernah ada. Saya paham, saya adalah manusia yang punya banyak kekurangan, tapi sejauh ini saya bersyukur karena saya amat sangat mencintai diri saya sendiri.

Seseorang lalu berkata kepada saya: ekspektasi orang lain tidak akan pernah bisa mengganggumu, selama kamu tidak menjadikannya ekspektasimu sendiri.

Saat itu, saya berpikir, perkataannya ada benarnya juga. Kalimat itu menstimulasi saya dan memberikan dorongan positif bagi saya. Omongan orang lain tidak akan pernah bisa menjatuhkan saya kecuali saya membiarkan hal itu mempengaruhi saya. Dan terkadang harga diri seseorang memang harus dibuat terluka sedemikian dalam agar dia tersulut untuk membuktikan pada dunia jika dia menarik sebagai dirinya sendiri.

Setelah saya pulang, saya bergegas tidur sekaligus berusaha untuk melupakan beberapa kalimat yang menyakiti hati saya pada sore tadi. Mendadak, saya merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Karena jujur, dengan diremehkan begitu saya dapat menakar seberapa besar rasa cinta saya terhadap diri saya sendiri. Dan sebelum saya memejamkn mata seluruhnya, saya meyakinkan diri kalau saya akan terus mencintai diri saya sendiri untuk jangka waktu yang tidak bisa ditetapkan dan mungkin sampai selama-lama-lamanya.

1% dari omongan teman kakak saya mungkin berhasil membuat saya sedih dan menangis, tapi saya masih punya 99% bagian dari diri saya yang akan terus membela dan membuat saya merasa berharga karena saya unik. Dan yang paling penting adalah karena saya adalah saya, bukan orang lain.