Sekalipun hubungan yang telah kita ciptakan ini tergolong sekilas dan tak bertujuan ketahuilah bahwa penghianatan selalu menyelipkan luka kepada mereka yang pernah berani menaruh rasa. begitupun aku.

Perasaan memang tak dapat dipaksakan, tapi berbicara baik-baik perihal kelanjutan hubungan ini kurasa tidak serumit menurunkan rumus-rumus fisika.

Aku sadar perasaan seseorang memang tak dapat dipaksan, namun bukan berarti kau bisa seenaknya pergi mencari yang lain tanpa menuntaskan dulu segala perihal kita. Toh aku juga mana mungkin memaksa mempertahankan sesuatu yang pada kenyataannya aku tahu bahwa aku bukan lagi yang diberartikan.

Iya, aku juga paham kau sedang mencari sosok wanita sempurna untuk masa depanmu kelak, tapi apa dengan mengorbankan perasaanku dulukah satu-satunya cara untuk kau menemukannya? tidakkah kau berfikir aku juga manusia biasa yang hatinya juga “layak” untuk dihargai seperti diriku menghargai seluruhmu? renungkan !

Aku tak membenci ataupun menyesali, hanya tak menyangka ternyata ketulusanku selama ini berpihak pada yang salah, pada sosok yang tak mengerti tanggung jawab.

Advertisement

Dulu sebelum aku mengizinkanmu masuk di kehidupanku. meskipun tak banyak, tetapi ada juga beberapa yang datang menawarkan diri untuk menemani kesendirianku. Namun berkat perpaduan janji-janji dan usaha yang telah kau buat akhirnya aku menetapkan pilihan kepada kamulah aku berbagi. dan saat ini saat dimana ketulusanku tercurah semua hanya untukmu, kau memilih pergi dengan mudahnya berpaling dengan yang lain. Seolah kau memberikan penjelasan bahwa ini hukuman untukku karena terlalu mudah percaya omonganmu dulu. Terimaksih.

Aku tidak butuh klarifikasimu yang kenyataanya makin memojokkanku, aku muak. Aku hanya ingin kau mengakui sisi pecundang memang telah menjadi bagian dari dirimu tak peduli dengan wanita siapapun itu. Mendua adalah tentang kesukaanmu.

Menjelaskan tentang ini itu, tentang segala yang menjadi alasanmu berpaling, hanya membuat emosiku kian meninggi dan siap-siap menelaanmu hidup-hidup. Aku bukan wanita bodoh yang bisa dikelabui kata-kata manis disaat fakta-faka kebusukanmu telah berbaris rapi didepan mataku. Aku hanya ingin kau mengakui “mendua adalah memang tentang kesukaanmu” dan setelah itu kau boleh pergi dengan wanitamu, sesukamu.

Aku memang tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya, tapi sakit “hati” yang saya rasa tidak bisa hilang begitu saja dengan memberinya penjelasan.

Bagaimanapun jahatnya kamu, bagaimanapun cara kamu bermain-main dengan perasaan saya, tetap saya tak punya hak penuh untuk menyaalahkanmu sepenuhnya. Iya memang. Tapi harus kau ketahui saat cinta menguasai seluruhmu yang berperang bukan lagi logika tapi hati. Berulang kali aku jelaskan pada diri saya sendiri khususnya untuk hati, pihak yang paling terluka. Tapi sebagaimanapun usahaku tetap lukanya makin menganga lebar.

Dari caramu bertingkah dihadaapanku saat penghiatanmu bukan lagi menjadi rahasia seakan kau berfikir kata maaf maaf maaf dan maaf akan membuat segalanya seketika baik-baik saja termasuk hatiku, haha sebegitu tak pedulinya kah kau sampai lupa rasanya saat harapan dibalas kekecewaan, saat kesetiaan ditukar penghianatan? Kalau memang ia, berdoalah semoga juga tuhan lupa bahwa karma berlaku untuk semua yang menyalahi aturan, dan kau adalah pemeran utamanya.

Dari wanita yang dulu kehadirannya mungkin tak pernah kau anggap ada