Kecewa? Tentu.

Marah? Jelas iya.

Menyesal? YA.

Bagaimana aku tidak kecewa jika hingga saat ini aku baru tau kalau kamu meninggalkanku untuk orang lain.

Bagaimana aku tidak marah jika segala alasanmu ingin sendiri dulu adalah sebuah kebohongan.

Advertisement

Bagaimana aku tidak menyesal jika aku mempercayai semua omonganmu yg berucap masih sayang, kangen kepadaku.

Kamu – yang begitu aku banggakan di depan mereka – dengan lancarnya mengeluarkan sebuah kebohongan hanya untuk menutupi semuanya.

Kamu – yang begitu aku sayangi – menyepelekan kepedulian dan perjuanganku untuk mempertahankanmu.

Kamu – yang sampai saat ini masih aku sayangi – dengan begitu mudahnya menyingkirkanku untuk bersama wanita lain.

Kamu tau bagaimana kondisi sebuah hati di dalam tubuhku ini? Retak, mati rasa, dan dingin.

Aku disini, yang begitu memperjuangkanmu, akan berhenti.

Berhenti dari rasa kecewa.
Berhenti dari rasa marah.
Dan berhenti dari rasa menyesal.

Mungkin, ada kalanya aku akan teringat kamu dan kembali menangisi kamu. Tapi, akan aku tekadkan untuk tidak menatap punggungmu lagi. Aku akan memberikan punggungku untuk berhadapan dengan punggungmu.

Menangisimu? Itu suatu kesalahan yang terus menerus aku lakukan.

Memperjuangkanmu? Itu suatu kesakitan yang terus menerus aku genggam.

Jadi, aku berhenti dari semua kesalahan dan kesakitan itu.

Aku akan melihat keluar, ke taman, es krim, perjalanan, senyum, keramaian, dan akhirnya aku akan lahir kembali.

Mungkin tidak dengan hati yg utuh dan mulus lagi. Tapi hati yang kedua ini, setidaknya akan memberikanku sebuah harapan baru dan pengalaman batu.

Selalu ada hari esok untuk sebuah harapan.

Selamat tinggal Kamu.
Selamat tinggal Hati yang retak.
Selamat tinggal Aku yang lama.
Dan selamat tinggal masa lalu.

Aku akan hidup untuk 'saat ini', bukan untuk 'masa lalu' dan 'masa depan.