Sahabat, ada banyak hal yang ingin sekali kuucapkan padamu, tapi aku tak mampu. Bukan karena gengsi. Hanya saja, aku bukanlah orang yang mampu mengucapkan kata-kata manis secara lisan pada setiap orang. Maka dari itu, tulisan ini kubuat untuk mewakilkan lisanku. Kuharap ini dapat membantu.

Jujur saja, aku menganggap diriku bukanlah seseorang yang pantas untuk kau sebut “Sahabat”. Karena katanya, sahabat adalah orang yang selalu ada, berdiri di sampingmu sekalipun dunia membencimu. Dan aku bukanlah orang itu. Tak perlu munafik, aku memang tak slalu bisa ada disaat kau butuh.

Bukannya aku tak mau. Kau tau, kan? Kita tinggal berbeda atap. Lagipula, kita mempunyai kehidupan sendiri yang harus dijalani. Walaupun begitu, aku selalu berusaha menjadi seseorang yang pantas untuk kau panggil “sahabat”. Aku memang tak selalu ada, tapi aku adalah orang yang akan berdiri di sampingmu saat dunia membencimu. Dan kupastikan, aku adalah orang yang akan menghajarmu saat kau hidup di luar kendalimu.

Sahabat, waktu yang telah kuhabiskan untuk menjadi sahabatmu selama ini bukanlah waktu yang sebentar. Tentu saja, waktuku itu tak terbuang sia-sia. Banyak sekali memori dan cerita yang telah kita ciptakan. Tawa, tangis, emosi, masalah, pelukan, pukulan, perjalanan, cinta. Semua itu kusimpan dan kuingat sebaik-baiknya agar menjadi bukti bahwa masalah sekejam apapun tak dapat memecah-belah kita.

Pertengkaran memang menjadi hal yang lumrah dalam cerita kita. Berkali-kali bertengkar, mulai dari rebutan sesuatu, kesalahpahaman, pikiran yang kadang tak sejalan, sampai menyukai seseorang yang sama, membuat kita kadang memilih berdiam diri dan lari untuk menenangkan diri.

Advertisement

Saat menghadapi arus deras, kau tak perlu balik melawannya. Biarkan dirimu mengikutinya sampai kau temukan arus yang tenang.

Dan hey, lihatlah kita sekarang. Kita masih bersahabat. Sepasang sahabat si penakluk arus.

Oh yah, apa kau masih ingat dengan janji kita untuk melangkah bersama? Mendorong saat yang lain tertinggal. Membantu saat yang lain terjatuh. Kau telah membawa langkah kaki ini menapaki hal baru, tempat baru, suasana baru. Dan kita akan tetap melangkah ke depan seiring irama jantung yang tetap berdetak.

Sahabat, kau tak perlu takut. Sekalipun masalah membuatmu terbenam sedalam-dalamnya, ada aku yang menunggumu terbit setinggi-tingginya.

Seperti mentari yang tak pernah takut terbenam, ia tau akan terbit kembali dan semua orang menanti.

Jadilah sahabatku sampai rambut kita memutih dan Tuhan memberikan kita cucu-cucu yang lucu. Terima kasih untuk seluruh cinta dan persahabatan ini, Sahabat.