Hai, apa kabar diriku yang tak pernah jera mengenal cinta? Kamu sudah seringkali terluka, untuk kedua kalinya.

Sosokku memang bisa dibilang setia, bukannya aku menyombongkan diri. Pasalnya. aku pernah membina hubungan selama hampir 5 tahun namun kandas karena ia memilih pergi bersama wanita lain. Lalu, selama setahun aku mencoba mengais puing hati, mencoba merekatkannya agar bisa kupajang kembali dengan harapan siapa tau ada seseorang yang sudi melihat pajangan tersebut walau sebenarnya tidak rapih. Dan benar saja untuk kedua kalinya aku merasakan sakit hati lagi setelah pertemuan dengan seseorang yang ternyata belum bisa melupakan masa lalunya.

Banyak dari teman-temanku yang menggelengkan kepala heran, sepertinya aku tak jera untuk mengenal dan kehilangan cinta. Sebenarnya aku bukan sosok yang gampang membuka hati untuk seseorang, namun kemarin aku mencoba untuk membuka hati agar aku bisa mengerti apa arti menerima seseorang yang baru walau aku tau sebenarnya dibalik pertemuan akan ada lambaian tangan perpisahan, dan pertemuan itu singkat. Sesingkat, petir yang menyambar menemani derasnya hujan.

Kusyukuri semua kejadian dibalik semua ini walau sebenarnya aku kecewa. Mengikhlaskan segalanya memang tidaklah mudah, namun aku sadar dengan keadaan seperti ini, seharusnya aku lebih memperhatikan dan membahagiakan diriku sendiri dengan cara lebih berhati-hati dan tidak menaruh rasa bahkan percaya terhadap seseorang.

Aku mencoba berdamai dengan segalanya, demi melupakan kalian yang pernah mengisi hariku. Segala cara kini sedang kugeluti dan memang sebenarnya ini hobiku. Mulai dari memasak, membaca buku motivasi, memetik gitar mencipta lagu, menulis apapun yang kurasa dalam narasi, sampai memotret apapun yang sebenarnya kutumpahkan perasaanku dalam foto.

Advertisement

Mungkin Tuhan menyentilku, di saat aku sedang sibuk-sibuknya menebar benih cinta pada lelaki yang belum halal sebenarnya aku tidak sedang menjadi diriku sendiri. Seringkali, aku lupa bahwa banyak kegiatan dan momen berharga yang aku lewati, salah satunya adalah hobi-hobiku.

Dulu aku ingat, di saat aku ingin sekali berpergian ke sebuah curug di dekat rumahku. Ia yang bukan siapa-siapaku melarangku dengan alasan keselamatan. Padahal aku tau, aku bisa menjaga diriku dan hal ini sudah biasa kulakukan sebelum aku bersamanya. Lalu, ketika aku ingin ke suatu kota dengan menaiki motor matic hitamku, kamu kembali melarangku dengan alasan keselamatan.

Wahai diriku yang terkurung sebenarnya kamu tersiksa dengan keadaan seperti ini. Aku mohon kepadamu, ikuti kata hatimu. Jika ia tidak bisa menerima segala kesukaanmu yang bahkan itu passion mu, sebenarnya kamu sedang kehilangan arah hidup hanya saja kamu lupa bahwa hidupmu sedang dikendalikan olehnya. Bersikaplah tegas pada dirimu sendiri dan pada orang-orang yang tak bisa menerima kesukaanmu. Kamu berhak bahagia atas jalanmu sendiri, menjadi petualang memang mengasyikkan.

Tetapi, ingat jangan menjadi petualang cinta (lagi) cukup kamu bertualang menikmati alam, karena alam sebenarnya tidak akan pernah berkhianat padamu. Yakinlah, sahabat baik untukmu sebeneranya adalah hobi-hobimu yang sempat kamu tinggalkan sebentar.

Untuk diriku, tidak semua hal melulu tentang cinta pada pasangan. Masih ada cinta yang selalu menerimamu dengan segala kekurangan. Cinta-Nya, Keluarga, Para sahabat, dan Hobimu yang sempat kau tinggalkan.