"November rain kembali mengalun, setelah lama tak kutemui hujan pada malam panjang gersang kemarin."

Apa kabar? Masihkah menyebut aku dan kau dengan kita? Aku masih disini, di tempat yang sama, dengan cangkir kopi yang sama, bolehlah angin menghembuskan rinduku padamu disana, tak ingin mengusik, hanya menyapa saja.
Seperti yang sudah-sudah, tak henti aku meneguk secangkir rindu yang selalu terasa hangat meski dingin menyeruak. Betapa waktu begitu hebat, meski singkat, nyatanya telah mampu membuatku jatuh hati padamu hanya dalam beberapa kali tatap.

Aku penasaran, apakah kau masih meneguk cangkir rindumu dengan aroma dan rasa yang sama? Apa kau juga penasaran dengan rasa cangkir rinduku?
Rupanya, gerimis asin yang jatuh dan mendarat pada cangkirku telah menambah rasa kenikmatan seduhan kopiku. Mau mencobanya? Pernahkah kau menikmati kopi asin pada malam dingin di tepian jendela kamar? Inilah yang setiap hari kulakukan, mencoba untuk membunuh rindu yang semakin liar menjalar memenuhi sekat-sekat kekosongan hati yang tertawan.

Kuhirup aroma hujan yang menyegarkan sejenak garba penciumanku. Kutatap jalanan basah dengan lalu lalang orang, pulang dari lelah untuk mendaratkan pelukan di rumah yang hangat. Betapa aku merindukan hal itu. Sudah habis masaku mendustai hati. Inilah yang terjadi, bagaimana bisa aku tak menemuimu di malam hujan, sedangkan kau menjadi satu-satunya alasan kerinduan yang ingin kutemui saat hujan datang.

Bintang-bintang meredup, bulan apalagi, mataku terus mengabur, berkaca basah, pecah dan melebur dalam hampa. Aku tak pernah benar-benar takut akan resiko mencintai seperti ini.

Advertisement

Bukankah cinta pada akhirnya selalu membuat orang berubah? Dari waras menjadi gila, dari awas menjadi buta, dari lemah menjadi kuat, dari sedih menjadi bahagia. Dan banyak perubahan-perubahan yang tak bisa kujelaskan. Terlalu ajaib, terlalu misteri.

Lalu sudahkah kau merasakan perubahan itu? Kita tak pernah berjanji, kau pun tahu aku tak pernah menyukai butir-butir janji manis yang semu dan hanya menguap pada letupan bibir. Buatku tak semudah itu, bahkan kesetiaan saja tak cukup menjaga dua hati tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan. Klise? Memang. Tapi jika untuk mengikat janji saja begitu rapuh, lalu bagaimana bisa memperjuangkan untuk bersatu?

Sekarang harus bagaimana lagi? Mengetukmu berkali-kali juga tak kunjung membuat kita bersua, tapi kau tenang saja, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyerah tanpa ada alasan jelas untukku benar-benar meninggalkan. Tapi selayaknya kau, aku juga butuh satu kepastian. Jika merasa sama, mengapa harus mengelak, mengapa harus melawan hati? Meleburlah, mari berjalan beriringan dan saling menggenggam tangan.

Entah ini sudah ke berapa kali seduhan. Ku ingin kau menikmatinya pula, secangkir rindu dengan dua sendok kehangatan, dan satu sendok kemurnian. Nikmati dan teguklah ditengah aroma hujan.