Terlalu naif memang jika dikatakan, aku tidak ingin menikah. Tentu saja aku ingin menikah suatu saat nanti, belum saat ini. Saat dimana aku ingin mengembangkan sayapku selebar-lebarnya, saat tawaku masih bisa kubawa lari sebebas-bebasnya tanpa ada beban seorang pria yang harus kumasakkan setiap pagi, menyiapkannya bekal makan siang, membereskan seluruh sudut-sudut ruangan, mengandung janin imut dalam rahimku, tersenyum mempesona setiap pagi, membacakan dongeng sebelum tidur untuk si kecil dan membuat rumah senyaman surga. Untuk saat ini aku ingin pergi sendiri dan berlari jauh, berkelana menjelajahi seluruh bebatuan yang kupijak, apapun yang kulihat, aku hanya ingin menjerit sekencang-kencangnya dan menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku, meniupkan gelembung-gelembung kecil ke angkasa serta menari solo di bawah bulan purnama. Bak seorang gadis remaja yang menikmati masa mudanya, begitulah. Sangat bahagia. Tetapi, jarum jam terus berjalan, detik demi detik telah berubah menjadi menit, menit berbuah menjadi jam dan begitulah seterusnya hingga membuatku tidak merasakan bahwa inilah saatnya, kata-kata yang sebenarnya sudah lumayan lama mengiang-ngiang dalam benakku serta upaya membuat hatiku pilu tidak pernah gagal.

Suatu pagi saat Ibu membangunkanku dengan suaranya yang lembut, aku menatap garis-garis di keningnya semakin tampak tak luput juga rambutnya yang memutih, ia tersenyum padaku. Oh Tuhan, mau tidak mau waktu akan membuatku seperti Ibuku, aku diam membeku, seluruh tubuhku seketika ngilu membayangkan itu. Membayangkan betapa sulitnya menjadi ibu. Hal yang pasti mampir dalam benak semua wanita.

Aku belum siap untuk itu semua, masih ada secercah ketidakpercayaan diri apakah aku bisa menjadi seorang istri yang sesungguhnya untuk suamiku sekaligus ibu yang baik untuk anak-anakku kelak? Apa aku sudah siap, berdiri disaksikan seluruh anggota keluarga dengan gaun putih membalut tubuhku dan seorang pria menggenggam tanganku di atas altar? Semua terasa terlalu rumit untuk dipikirkan, cukup tersenyum, berencana dan jalani saja.

Jika menikah itu perkara, aku, kamu dan cinta, aku yakin siapapun bisa menjalaninya tidak terkecuali denganku. Tetapi tidak semudah itu, menikah itu memiliki banyak perkara, tentang kita yang harus membenahi dan memantaskan diri, doa keluarga yang saling merestui dan kehadiran Tuhan sebagai saksi.

Sulit memang saat aku berada pada fase dimana aku ingin berdiri sendiri dan seakan-akan tidak membutuhkan cinta tetapi dimana waktu itu aku harus sudah siap kalau-kalau seorang pria mempersuntingku. Bukan, bukan bertindak murahan dengan menerima siapapun yang mempersuntingku, tentu saja tidak. Aku akan menerima dia yang pantas. Bukan juga bertindak sok jual mahal, ini tentang masa depan, jangan hanya mempertimbangkan soal cinta tetapi perjuangkan dia yang pantas. Memantaskan diri dulu, cinta yang pantas akan menghampiri kemudian. Karena cintapun butuh kualitas, memangnya wanita mana yang menginginkan pria sembrono dan tidak nyambung kalau diajak ngobrol? Tidak ada satupun. Cinta? siapapun bisa memberi cinta, bagaimana dengan pengorbanan, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, ketanggung jawaban dan kecerdasan dia yang bisa menjalani hubungan dengan baik? Hubungan yang hanya didasari oleh cinta tanpa perjuangan ataupun kesetiaan, apalah itu semua. Karena dari sini, lubuk hati yang terdalam aku menginginkan pria dengan komitmen yang besar dan kuat. Lucu memang jika diusiaku yang sudah tidak tergolong remaja ini masih saja memikirkan soal kriteria, mentang-mentang begitu bukan berarti aku harus menurunkan standarku. Sekali lagi, ini pilihan untuk masa depan yang akan kujalani seumur hidupku, bukan seperti main lotre dan kadaluarsa saat 6 bulan berikutnya atau mungkin pilihan presiden yang akan berlaku selama 7 tahun, ini akan berlaku selama-lamanya dan aku tidak mau dibuatnya tersiksa. Tidak terlalu muluk-muluk untuk membayangkan rumah tangga yang sempurna, setiap keluarga pasti akan ada sedikit hambatan, aku mengerti dan akan memahaminya lagi. Maka dari itu, aku sedang berjuang memperbaiki diri mulai hari ini.

Advertisement

Bukan masalah yang terlalu menyakitkan jika aku harus menunggumu untuk beberapa saat saja, menunggu cinta yang pantas. Tuhan itu baik, Dia telah memberiku waktu untuk mempersiapkan diriku menjadi wanita yang benar-benar matang, bersiap untuk berjumpa dengan pria yang tidak akan pernah kuduga. Bukannya terlalu percaya diri hanya saja mencoba untuk meyakinkan diri bahwa prilaku kelak pasti akan datang menghampiri. Tuhan punya rencana yang pasti tidak akan pernah teringkari, Dia tahu bagaimana dan kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan kita. Aku belum tahu apalagi mengenalmu, tetapi doa selalu menyertai di setiap sujudku, semoga waktu mempertemukan kita cukup seperti air yang mengalir dengan tenang dan damai, tidak perlu terburu-buru karena masih ada mimpi yang kusisakan untukku, setelah itu akan kugantikan dengan mimpiku bersamamu. Aku akan berdansa di bawah bulan purnama bersamamu, menuliskan lagu dan kau menyanyikannya untukku, kita bergandeng tangan menjelajahi apa yang ada di depan mata kita, mengabadikan momen disetiap langkah dan berlumur tepung bersama.

Siapun dirimu, aku sedang menunggumu disini. Tidak memimpikanmu, hanya saja berharap dan terus berdoa untukmu. Satu hal tentang cinta yang kutahu, cinta itu tahu dan butuh waktu. Tenang saja, seiring waktu berlalu langkah kakimu dan kakiku akan segera bertemu. Tentu saja, kupersiapkan semuanya untukmu, mulai dari belajar membenahi diri menjadi yang lebih baik juga mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam menyikapi semua hal, tidak tentang diriku saja, aku akan belajar memasak untukmu, belajar mengasuh dan mendidik anak. Kau akan senang mendengarnya, karena disini aku sedang memperjuangkan diriku menjadi istri yang baik untukmu.

Aku sabar menantimu, percayalah, sabarku tidak ada batasnya. Jika ada batasnya, bukan sabar lagikan namanya? Sembari aku menunggu, disini aku berusaha memanfaatkan waktu dengan mempersiapkan pribadiku menjadi wanita yang luar biasa untukmu. Setidaknya, aku ingin membuatmu bangga serta mengukir senyum yang pasti indah di bibirmu.

Saat membayangkan usiaku yang mulai bertambah dan sisa hidupku semakin berkurang, satu hal yang kuinginkan darimu, yaitu menerimaku. Tidak mendesak Tuhan untuk segera mempertemukanku denganmu, justru aku berterima kasih karena Tuhan sudah memberiku waktu. Semoga Tuhan selalu menjagamu dengan baik.

Karena pada dasarnya menikah bukanlah sesuatu yang gampang untuk dikatakan apalagi dilakukan. Sekali lagi kutegaskan bahwa ini soal masa depan, kehidupan selama-lamanya bahkan di akhirat kelak, soal bagaimana kita akan memberikan keturunan pada generasi selanjutnya, tentang pandangan kualitas diriku dimata masyarakat, keluarga dan Tuhan, tentang bagaimana kau akan membentukku kelak, menjadi seorang istri yang suka menyantunikah? istri yang pandai bergaulkah? istri yang sholehahkan? bahkan atau istri yang suka menghambur-hamburkan uang? Saat aku telah memilihmu untuk menjadi pasanganku, kau akan akan menjadi bagian dari hidupku, darahmu akan mengalir dalam nadiku, senyummu akan terus terukir di ingatanku, maka dari itu, persiapkan juga dirimu untukku.