Pada 23 Juli 2013 lalu, saat aku bangun tidur di pagi hari dan membuka handphone, seperti biasa ada beberapa sms masuk darinya, dan kubaca. (Itu salah satu bentuk perhatiannya padaku waktu itu). Bisa dipastikan sms-sms pada pagi hari darinya memuat beberapa catatan seperti; mengingatkanku untuk sarapan sebelum ke kantor, atau akan hal-hal berkaitan dengan tugas kantor atau yang lainnya terkait hari itu.

Tapi, pagi itu, entah semalam dia mimpi apa, hingga bunyi sms itu menurutku begitu menyiratkan makna "mendalam". Sms "janggal" seperti itu biasanya langsung aku simpan pada folder sortir dalam gadgetku. Lebih tepatnya kuabadikan.

Bunyinya begini :

"Doa ku semalam : Aku berdoa Ayah (Aku) sehat dan terlepas dari sakit ini. Dapat kerjaan yang Ayah harapkan, sehat selalu. Jika Engkau mengabulkan doaku, Tuhan, aku rela jika Kau tidak menjodohkan kami".

Setelah tiga tahun tahun lebih sehari, akhirnya doa yang diutarakannya pada Tuhannya terkabul. Tapi hanya bagian bawah dari kalimat di sms itu ; "Aku rela jika Kau tidak menjodohkan kami". Tepat pada 24 Juli 2016 lalu, dengan lantang dia mengucapkan ijab qabul bersama lelaki yang dipilihkan Tuhannya itu.

Advertisement

Kadang Tuhan tidak mengabulkan semua kata demi kata yang terangkai indah dalam setiap doa-doa kita. Kadang malah hanya mengabulkan sebagian, beberapa atau tidak semuanya. Pada intinya "mungkin" (karena aku bukan seseorang yang paham betul tentang ilmu agama), keinginan manusia bukanlah kehendak Tuhan. Untuk waktu, itu urusan Tuhan, saat itu juga, itungan hari, bulan, tahun. Sekali lagi itu urusan Tuhan.

Ya, jika memang "Tuhan kita sama", jalan ini mungkin dinilai adil untuk kita berdua. Sekali lagi aku katakan "mungkin".

Semoga saja, Tuhan mengabulkan doa-doa pada kalimat diatasnya "Aku berdoa Ayah dan terlepas dari sakit ini. Dapat kerjaan yang Ayah harapkan, sehat selalu". AMIN.

Pada hari ini aku tidak akan "memakimu" seperti hari-hari yang lalu, setidaknya pada tulisan di halaman ini. Mengapa? Karena hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke-30 (Mai Khanan Wijaya, 06 November 1986).

Mungkin doa-doaku tidak sehebat dan semanjur doa-doa yang kau kumandangkan pada Tuhanmu. Tapi tidak ada salahnya kan? jika aku yang bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan ini, mengutarakan inginku melalui lantunan doa pada-Nya.

Tapi sekali lagi, selamat telah terkabul doa-doamu. Setelah kupikir dan refleksikan dalam hening sejak semalam, sampai aku belum tidur hingga detik ini, memang sudah layak aku medapatkan sakit ini (atas jalan Tuhan yang tidak menjodohkan kita).

Lebih baik aku saja yang "berdarah-darah", daripada kamu. Aku rela, sungguh aku rela. Asal kau bahagia selalu. Asal dengan pilhan mu itu, kau bahagia, ratusan kali lipat rasa bahagianya jika dibandingkan dengan ku. Aku rela, aku rela.

Aku berjanji, mulai hari ini aku akan belajar untuk ikhlas menerima semua ini. Menerima apa yang ingin Tuhan buat dalam hidupku. Dan yang terpenting, belajar untuk mengikhlaskanmu.

Malam ini, agar bisa tidur tenang (tidur selamanya juga aku siap), kan ku kumandangkan doa ulang tahun untukmu.

Aku bukan seorang pengikut Yesus yang pandai berdoa, maka aku akan membaca dan menuliskan doa yang ku kutip dari Puji Syukur, Buku Doa dan Nyanyian Gerejawi (Katolik) halaman 140. Walau kepercayaan kita berbeda, tapi aku percaya Tuhanku bisa memaklumi itu;

"Allah yang mahakuasa, pencipta umat manusia, pada hari gembira ini kami memuji kebesaran-Mu. Engkau telah menciptakan Maimunah dengan penuh kasih. Aku bersyukur kepada-Mu karena misteri kejadiannya; sungguh ajaiblah yang telah Engkau kerjakan.

Seperti kelahiran dan hidup Yesus, membawa damai dan sukacita, semoga hidupnya pun membawa damai dan sukacita bagi sesama.

Terima kasih, ya Bapa, atas penyertaan-Mu sepanjang perjalanan hidup nya. Terima kasih pula, Engkau selalu membesarkan hatinya di saat ia mengalami duka dan kecemasan. Semoga hari bahagia ini menguatkan imannya akan Dikau.

Aku bersyukur kepada-Mu atas segala anugerah yang ia terima selama tahun yang silam. Aku bersyukur kepada-Mu karena segala simpati, persahabatan dan kasih sayang yang ia rasakan dari orangtua, sanak saudara dan handai taulan.

Aku mohon agar hari-hari yang akan ia lalui ini membawa bahagia: semoga ia dapat bekerja lancar, dan usahanya semakin berkembang. Tetapi lebih dari itu semua, semoga ia tak pernah terpisah dari-Mu, apa pun juga yang akan terjadi, sebab Engkaulah tumpuan hidupnya; semoga Engkau menyertai dia hari ini, besok, dan sepanjang hayatnya. (Amin.)".