Mereka mengejekku karena ketidak sempurnaanku. Mereka mengataiku bahwa aku sudah sepantasnya tak hidup di dunia lagi. Semua yang dulu menerimaku, kini menolakku. Fisikku sudah tak sempurna lagi karena sebuah inseden.

Kini aku dianggap sampah, sudah tak berguna. Mereka mengira aku sebagai beban. Memang aku sudah tak bisa melakukan pekerjaan yang dulu kujalani. Tapi aku tetap bertekad untuk tetap hidup sebagai diriku sendiri.

Aku ingin semua yang telah aku persiapkan, semua yang aku inginkan tercapai. Walaupun berbagai rintangan akan aku raih cita citaku. Biarlah hal ini berlalu. Aku ingin tetap fokus pada tujuanku. Aku akan menganggap mereka, pembully-ku adalah halang rintang yang ditujukan untukku. Aku akan mendengar ejekan mereka untuk menyemangati hidupku.

Mereka mewarnai perjalananku untuk meraih impianku. Membuat rintangan sehingga menjadikan aku lebih kuat menghadapi masalah.

Juga masalah dikehidupan nyataku akan menguatkanku suatu saat nanti. Juga aku akan ingin membalas mereka yang mengejek, membully-ku, tapi sebisa mungkin aku tahan. Karena aku tahu mereka tidak seperti diriku. Aku yang istimewa ini. Aku akan membiarkan mereka menilai diriku, yang paling penting aku akan meraih cita citaku.

Advertisement

Dan inilah aku.

Lembaran kisah hidupku. Yang kutulis dengan pena, ku gambar dengan suka yang diwarnai yang diwarnai oleh duka. Masa laluku abu abu, sudah lama berlalu, tak diwarnai apapun, dan juga telah luntur oleh waktu. Masa depanku adalah cermin gambarku saat ini, belum tertulis, belum terlukis, dan terwarnai. Lembaran masa depan yang masih kosong, belum kotor.

Akan kutuliskan lembaran lembaran ini, dan akan kuceritakan sepenggal kisah dariku.