Aku selalu bertemu dengannya. Setiap pagi saat hendak ke kampus dan menjelang senja setelah dari kampus. Aku tak menggerutu. Dia adalah hal baru dalam hidupku. Tapi orang-orang yang semobil denganku, kerap kali memaki. Mereka sudah bosan bertemu dengannya. Mereka bilang, dia biang kerok segala urusan. Bahkan ada yang pernah dipecat gara-gara dia. Macet. Aku dan mereka memanggilnya macet.

“Harusnya jalan ini diperluas saja. Jadi sepuluh ruas.”

Aku diam saja bila supir angkot dan penumpang lain sudah mulai menggerutu. Pertama, aku belum merasa dirugikan oleh macet. Kuliah perdanaku baru mulai tanggal dua puluh lima nanti. Dan hari itu aku ke kampus hanya sekadar mengikuti kegiatan prodi. Kembali ke rumah pun aku tak buru-buru. Tapi supir angkot sepertinya punya jadwal penting yang makin dijepit macet. Aku turut berduka cita.

Kedua, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika tiba di rumah lebih cepat. Untung saja macet sedikit membantu. Terima kasih.

Kalau seandainya kita membiarkan macet mengalir tanpa kita tuntut apa-apa, mungkin akan terasa lebih cepat. Kita sering meneriaki macet secara tidak langsung di jalanan. Membunyikan klakson mobil dengan tidak sabaran, berteriak-teriak seperti di hutan, bahkan sampai rela berjalan kaki meninggalkan kendaraan di belakang. Dengan begitu macet terasa semakin menekan. Ah, menyedihkan sekali.

Advertisement

Ini sama seperti cinta, Angin. Jika kau menuntut cinta dengan semua keinginanmu, maka kau tak akan bisa merasakan kebahagiaan cinta. Biarkan saja cinta mengalir tanpa syarat, seperti kata Bung Emka. Semua yang ada di dunia sudah ditentukan porsinya masing-masing. Kita tak perlu kebakaran jenggot mempercepat sesuatu yang sejatinya harus berjalan lambat. Begitu pun sebaliknya.

Tapi aku sadar, manusia memang susah mengontrol nafsu dan emosi. Sampai kapan pun, kita masih harus banyak belajar akan dua hal itu.

Alasanku juga begitu. Aku mencintaimu. Oleh karena itu aku tak menuntut apa-apa darimu. Jika kau pergi, berhembus, dan hilang. Silakan. Aku keberatan memang. Tapi aku tak punya hak menahanmu untuk tinggal. Semua punya kemungkinan, Angin. Aku percaya itu. Takdir tak pernah salah. Kita yang terlalu banyak berharap darinya.