Kisah yang bermula ketika suatu perjalanan panjang yang mempertemukan kita. Menempuh pendidikan S2 bersama walaupun beda angkatan. Mungkin tumbuh rasa di antara kita dan mulai dipupuk hingga 4 tahun lamanya.

Mungkin semua baik-baik saja, hingga ketika melewati tahun pertama semua hancur akibat perselingkuhan yang kau buat. Tapi hati tetap sabar menghadapinya, walaupun wanita-wanita itu menghampiriku dan marah padaku, tapi aku tetap berusaha sabar. Hatiku masih memilihmu dan menberikan kesempatan kepadamu.

Tahun pun berlalu dan kau mengulangi perselingkuhanmu dan lagi-lagi aku masih sabar dengan semua kelakuanmu. Kau meminta kesempatan terakhir untuk merubah semua tingkahlakumu dan dengan begitu bodohnya aku masih memberimu kesempatan terakhir.

Waktu pun berlalu kau mengulangi perselingkuhanmu kembali. Bagai petir di siang bolong aku melihat foto-fotomu bermesraan dengan wanita lain, tak ayal adalah mahasiswamu sendiri, tapi kau tetap tak mengakuinya, hingga pada akhirnya semua terbongkar sendiri.

Saat itu kau mengatakan kau tidak bisa memilih, kau tidak bisa melepasku dan tidak bisa melepasnya dan akan memberi kepastian dalam beberapa hari kemudian. Tapi setelah semua ku renungkan, mungkin aku harus mundur dan melepasmu. Yang menjadi penyesalanku adalah, kenapa aku harus percaya dengan semua kata-katamu selama ini? Kenapa aku harus memberimu kesempatan hingga berkali-kali? Setelah semua yang terjadi aku lebih memilih pergi walaupun mungkin hati ini begitu perih.

Advertisement

Tapi kisah masih tetap berlanjut karena masih ada masalah yang belum terselesaikan, yaitu masalah hutang yang kau tinggalkan atas namaku. Setelah perpisahan itu aku menagih hutang, karena kau berjanji akan bertanggung jawab dalam pelunasannya. Tapi apa yang ku dapat? Ketika ku tagih kau malah marah-marah dan menuduhku selama ini telah melakukan guna-guna padamu.

Dan pada akhirnya kau blokir aku dari semua akun sosmedmu.

Pikiranku berkecamuk, tapi semua ku ikhlaskan karena aku msih ingin menjaga silaturahmi denganmu. Dan pada akhirnya kau muncul kembali dan berkata ingin menikah. Kau meminta maaf atas semua yang telah terjadi. Apa yang ku dapat? Apakah ini hasil dari aku bersabar? Kau menikah tapi kau tidak mampu untuk membayar hutangmu, apakah ini tanggungjawabmu?

Kau menikah di atas penderitaanku dalam melunaskan hutang-hutangmu? Apakah wanita itu tidak tahu tentang semua hutang-hutangmu? Dengan begitu cepatnya kau menikahi wanita itu tanpa ada kepastian tentang hubungan kita?
Biarlah Tuhan yang menjawab semuanya, karena karma pasti berjalan.

Inilah akhir yang sia-sia dari perjuangan yang membantumu dari 0, inilah akhir dari semuanya. Kesia-siaan dan kekecewaan.

Semoga kau bahagia dengan pilihanmu.