Untuk sahabatku "D",

Di

Tempat

Aku berharap kamu sedang membuka dan membaca suratku ini. Jika kamu telah membaca surat ini, berarti kamu telah sampai di Jerman dengan selamat. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena membuatmu selamat sampai tujuan.

Karena aku mengetahui dengan baik, kalau Jerman adalah negara yang menjadi destinasimu untuk menimba ilmu. Meskipun aku juga mengetahui, bahwa sebenarnya kamu sangat ingin menjejakan kakimu itu di Perancis. Sebuah negara yang sangat ingin kamu kunjungi, sebuah negara yang selalu kamu sebut sebagai negara sejuta cinta dan impian,

Advertisement

sebuah negara yang mampu mebuatmu berimajinasi dan menghasilkan tulisan-tulisan yang mengagumkan.

Oh iya, seperti biasa aku terlalu banyak basa-basi sampai lupa menanyakan kabarmu.

Bagaimana kabarmu di sana? Hal menarik apa saja yang kamu temui di sana? Bagaimana dengan kulinernya, adakah makanan yang kamu sukai? Jangan lupa ceritkan semua di surat balasanmu ya…

Aku tahu, di era globalisasi ini surat menyurat adalah hal yang kuno. Banyak teman kita yang akan menertawakan kita, bila mengetahui bahwa kita surat menyurat.

Tapi kita sangat menyukai kegiatan ini. Karena kamu sangat menyukai mengumpulkan post card dan aku sangat menyukai mengumpulkan perangko. Jadi bisa membuat kenangan sekaligus mengumpulkan koleksi dengan cara ini.

Di surat ini, aku juga menyertakan beberapa foto senja dan matahari yang terbenam dari beberapa pantai yang sedang aku kunjungi (pasti kamu sudah melihat fotonya, maaf ya hasil fotoku tidak sebagus punyamu).

Aku ingat kamu selalu tersenyum ketika hari beranjak sore dan melihat matahari yang akan terbenam. Kamu akan berkata bahwa melihat matahari terbenam akan mebuat hatimu terasa nyaman. Kamu juga berkata, setiap matahari terbenam kamu selalu berdoa kepada Tuhan dan mengucapkan terima kasih karena telah memberikan anugerah kepada alam yang begitu indah dan berharap masih diberikan hari esok untuk dapat melihat senja yang datang dan matahari yang terbenam perlahan.

Hei sahabat, aku ingin bertanya apakah di Jerman kamu juga dapat mengambil foto senja dan matahari yang terbenam? Adakah pantai yang seindah pantai-pantai di Indonesia yang memiliki pemandangan sore yang mengaggumkan? Jika ada kirimkan aku fotonya agar aku juga bisa mengkoleksi pemandangan tersebut.

oh iya! saat aku sedang menulis surat ini, tak sengaja aku melihat tanggal. Tebak apa yang terbesit di pikiranku? yaps, sekarang tanggal 9 Juli. Ternyata kita sudah besahabat selama delapan tahun.

Persahabatan yang terjalin dari pertemuan saat melihat pembagian kelas siswa baru di SMA dulu. Tiba-tiba memori di otakku kembali mengingatkan pertemuan tersebut. Saat itu, hari menjelang sore dan kegiatan mos telah berakhir.

Saat itu, kita sedang serius memperhatikan nama masing-masing. Saat kamu menemukan kelasmu, ternyata aku juga menemukan kelasku. Kita berdua berada di kelas yang sama, jarak nama kita hanya dibatasi sekitar sepuluh murid.

Kamu yang melihat itu langsung tersenyum padaku dan memperkenalkan namamu, lalu aku membalas senyummu dan memperkenalkan namaku.

Memori tersebut masih melekat dengan jelas di pikiranku. Tidak berapa lama setelah perkenalan itu kita bertukar nomor HP (waktu itu medsos belum terkenal seperti sekarang ini), lalu kita melihat-lihat tulisan di mading sebentar dan matamu tertuju pada salah satu foto yang ada puisinya.

Kamu bercerita suatu saat kamu juga ingin menghiasi mading dengan karya dari tulisanmu dan foto-foto yang kamu hasilkan.

Setelah puas melihat mading, kita berdua melangkahkan kaki keluar ruangan. Saat itulah, kamu terdiam sambil tersenyum memandang langit yang berubah menjadi jingga dan matahari yang perlahan terbenam di ufuk barat.

Aku memang menyukai pemandangan tersebut, tetapi aku heran melihatmu tersenyum. Saat aku menanyakan alasannya, kamu bilang dengan melihat matahari terbenam itu bisa membuatmu senang. Lalu, kita melangkahkan kaki keluar dari gerbang sekolah dan aku hanya tersenyum keheranan mendengar alasanmu.

Langkah kaki kita saat itu, begitu tenang dan berirama, seolah sedang menari dengan irama musik yang mengalun pelan. mungkin orang-orang yang melihat kita mengobrol, pasti mengira kita adalah sekumpulan cewek aneh yang hobi membicarakan buku dibandingkan make up.

Tahun telah berganti, pengumuman kenaikan kelas telah dipajang di dinding mading. Kita dibagi kelas yang berbeda. Kamu masuk kelas IPS dan aku kelas IPA. Telah banyak kejadian menarik yang berlalu dalam setahun itu, entah itu kejadian yang menyenangkan atau menyebalkan.

Persahabatan antara kita makin terjalin erat, seperti arus air di sungai yang mengalir tanpa batas. Jika yang lainnya bertanya, kenapa aku selalu berkata persahabatan kita seperti arus sungai? Aku akan menjawab karena kita memiliki perbedaan yang banyak dan persamaan di kita hanya sama-sama menyukai novel. Tetapi karena perbedaan itulah kita menjadi dekat.

Kita berdua seperti sekumpulan air yang bersatu di sungai. Terkadang karena perubahan lebar sungai dan volume air di sungai, arus di sungai tersebut bisa berubah dari pelan ke deras dan dari deras ke pelan. Seperti persahabatan kita ini.

Aku membayangkan lebar sungai itu adalah lingkungan pertemanan kita di sekolah dan volume air itu adalah jumlah teman kita. Lalu, Arus sungai itu adalah warna dari persahabatan kita.

Hey sahabatku, sepertinya surat yang kutuliskan ini sudah sangat panjang. Tanpa sadar aku telah mengajakmu bernostalgia dengan tulisanku ini. Tetapi aku berharap kamu akan senang saat membaca tulisanku ini dan kamu juga dapat mengingat kenangan tersebut. Jangan lupa membalas suratku ya, ceritakan kesehariaanmu di sana. Kamu juga boleh menceritakan kenangan-kenangan kita. Aku pasti akan sangat senang membaca suratmu itu.

nb : oh iya, kamu juga mendapat salam dari sahabat kita yang lain seperti "G" dan "R".

Salam Sayang,

Dari

Sahabatmu "T"