Aku masih menyimpan senyum gula jawamu dalam beberapa helai foto di laptopku. Meski kau kerap menjengkelkan, senyum gula jawamu selalu saja sukses menentramkan keresahan-keresahan dalam dadaku. Sekesal apapun aku pada sikapmu, sesakit apapun aku, senyummu selalu membuatku hanyut dalam rindu. Senyummu yang terus membayang membawaku pada rindu yang meradang. Ah, kini rindu membuatku menjadi seseorang yang plinplan. Bagaimana tidak, karena rindu, aku yang tengah marah karena kau buat kecewa dengan seketika menjadi biasa saja seolah tak terjadi apa-apa; luka menganga di dada(pun) seolah menjadi tak terasa. Meminjam kalimatnya Afgan :

"senyummu mengalihkan duniaku."

Senyummu membuatku candu. Ketika aku dalam candu dan rindu, maka membaiklah segala duka dalam dadaku. Aku sedang tidak berlebihan, seperti perempuan lainnya, aku pun ingin mengutarakan apa yang kurasakan, itu saja. Rinduku aneh, memang.

Tentang ketidakpedulianmu yang sebenarnya adalah kepedulian.

Entah sudah berapa kali kuhabiskan waktuku untuk meratapimu yang mungkin sebenarnya disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti; kau yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, padahal aku benci khawatir. Aku yang terlalu perasa dan sensitif, kerap dibuat kewalahan dengan segala sikapmu yang menurutku cukup keterlaluan. Terlebih lagi tentang ketidakpedulianmu itu, berkali-kali aku jatuh terisak hanya karena perasaanku tak kau peduliankan dalam beberapa kesempatan. Sikapmu yang demikian itu benar-benar membuatku sakit, membuatku benci.
Di sepertiga malam, dalam rindu yang tertahan, isak yang meradang, dan perasaan yang tertekan, kutemukan jawaban di atas sajadah sepertiga malam: tentangmu dan tentang ketidakpedulianmu itu. Ya, baru ku sadari segala ketidakpedulianmu itu semata-mata hanya untuk memberiku sedikit pelajaran yang penuh arti bahwa; hidup tak selamanya harus berketergantungan, bahwa menjadi perempuan itu harus mandiri, tangguh, dan tak mudah jatuh. Ya, baru kusadari bahwa ketidakpedulianmu itu sesungguhnya adalah kepedulian. Terimakasih, untukmu.

Advertisement

Jika cinta saling menguatkan, semoga luka yang berbalut khilaf bukanlah persoalan.

Dalam suatu hubungan yang terjalin antara laki – laki dan perempuan yang masing-masing saling memiliki rasa "cinta dan sayang", pada masanya, pasti akan mengalami titik pasang surut. Tak ada hubungan yang tak memiliki masalah-masalah, tak ada hubungan yang selamanya baik-baik saja (meski kita mencoba untuk baik-baik saja). Katanya, hal demikian ini wajar ada di dalam setiap hubungan. Iya, aku tau, meski sedikit terpaksa untuk menerima hal semacam ini aku mencoba untuk mewajarkan.

Kekhilafanmu beberapa waktu lalu yang begitu menyakiti perasaanku tak lantas membuatku terus menyudutkanmu atau bahkan menghakimimu. Aku mencoba untuk mengerti bahwa cinta memang butuh diuji.Tak dapat ku pungkiri, akupun pernah melakukan kesalahan. Masing-masing kita pernah melakukan kesalahan, masing-masing kita pernah melakukan kekhilafan. Meski demikian, kita selalu mencoba untuk tak saling menghakimi, karena masing-masing kita tau bahwa tak ada manusia sempurna di bumi. Cinta mebuat kita saling mengerti dan mencoba untuk saling memaafkan.

Tak ada luka yang tak menyisakan lara. untuk menyembuhkannya tak semudah menendang bola. Entah akan memakan waktu berapa lama, tapi karena cinta tulus yang tertanam dalam dada, semoga luka tak meruntuhkan cinta kita berdua.

Hei, aku memaafkanmu. Semoga kaupun memaafkanku yang hingga kini masih saja belum bisa membahagiakanmu. Semoga kita baik-baik selalu. Ah, lagi-lagi, senyum gula jawamu membuatku candu. Rindu menindihku.