Semuanya sudah terlambat saat aku menyadari kamulah yang seharusnya bersamaku. Ada banyak hal yang aku dengar tentang penyesalan di dunia ini, namun tak kusangka aku sendiri lah kini yang mengalami sebuah penyesalan. Ke naïf an ku akhirnya membuatku terperdaya, menenggelamkan diriku sendiri dalam suatu penyesalan.

Seandainya saja bisa kuulangi waktu, tanpa pikir panjang lagi kamulah yang seharusnya denganku.

Awalnya semua baik – baik saja saat pertama kali kita saling mengenal, kita masih sama sama anak baru di universitas yang sama saat itu. Singkat cerita kita bisa berkenalan berkat seorang sahabatmu yang belum lama ini pernah menjadi kekasihku.

Sungguh tak pernah terbesit dipikiranku sedikitpun untuk menjadi orang sejahat ini, apalagi kepada pria sehebat kamu. Aku orang yang kau cintai dan dia sahabatmu yang telah kau kenal jauh sebelum aku, kini telah mengkhianatimu, ya kami berdua mengkhianatimu. Ternyata kau telah salah memilih seorang yang kau pikir dapat menyatukan kita kita berdua, yang justru malah itulah awal dari semua petaka.

Tak kusangka dia, sahabatmu lebih dulu memikat hatiku, dia datang dengan menawarkan segala janji dan memberikan semuanya atas nama cinta, hingga mengungkapkan cintanya, entah mengapa rasa ketertarikanku lebih besar terhadap dirinya hingga tak dapat dipungkiri pengkhianatan ini terjadi.

Advertisement

Sejujurnya aku merasa aku telah mengkhianatimu walau belum pernah kita menjalin hubungan sebelumnya. Rasa bersalah ini ada, rasa bersalah ini terus menggangguku dan tentu saja hubunganku dengannya. Berat rasanya menjalin hubungan yang tercipta dari suatu pengkhianatan, malu rasanya mengakui bahwa kamulah yang seharusnya bersamaku.

Tak butuh waktu lama lagi untuk aku berpikir bahwa sebaiknya aku mengakhiri hubungan dengan dirinya, meski ia tak terima dengan keputusanku namun inilah yang terbaik daripada terus dihantui rasa bersalah padamu dan merusak persahabatanmu dengannya.

Tentu saja aku tahu diri, meskipun aku sudah memutuskan hubungan dengannya bukan berarti lantas aku dapat meminta hatimu kembali. Meskipun kamu tak pernah membenciku atas kebodohan yang aku lakukan, sungguh aku merasa tak pantas bersisian denganmu. Saat malam telah datang dan aku masih memikirkanmu, berpikir apa yang bisa aku lakukan untukmu dan berkata dalam hati “tak pantaskah aku mendapatkan satu kesempatan lagi?”

Kumohon sambutlah dengan tangan terbuka permohonan maafku ini kasih..

Sejak itu hari-hari yang kulalui terasa selalu muram bagaikan ditemani awan hitam, tak sengaja kita berpapasan disuatu tempat dan dengan rasa tak percaya dengan apa yang aku lihat, namun ini sungguh nyata, aku tertegun saat melihat senyummu tertuju padaku, senyum yang sangat aku rindukan yang kupikir aku takan pernah melihatnya lagi setelah kesalahan yang aku lakukan, senyuman tulus yang terus terngiang dikepalaku.

Berbagai rasa sakit yang ku terpakan padamu tak lantas membuatmu membenciku, yang justru membuatku semakin jatuh hati. Meskipun tentu saja aku mengerti ada rasa sakit dan kecewa yang terpatri dihatimu karena kebodohanku namun kamu mampu mengalahkan ketirnya rasa itu.

Kesabaranmu meluluhkan hatiku, ketegaranmu menampakkan kuatnya jiwa.

Hingga akhirnya kini aku menyadari.

Perpisahan tak dapat ditawar lagi.

Bukannya aku tak ingin bersamamu, aku tau kamu memang tak membenciku, namun aku yang harus tau diri dan berkaca, apakah aku pantas mendampingimu sebagai orng spesial yang ada di hidupmu, mengingat aku pernah melakukan kebodohan dengan meninggalkanmu. Biarlah kita cari jalan masing-masing, hal ini lebih baik daripada aku kembali melukai hatimu disuatu hari nanti.

Karena kamu adalah seorang yang aku sayangi, melukaimu sama seperti menghujam jantungku sendiri dengan belati, pedih, sama seperti yang kamu rasakan. Pergilah, bila memang takdir tak mengizinkan kita merajut asa berdua. Namun bila nantinya takdir berkata lain, akan kugenggam erat hatimu tanpa lelah bersanding mendapingimu dengan setulus jiwa.

Akhir cerita kisah kita memberikan pelajaran berharga dalam hidupku sekaligus hikmah yang juga patut ku syukuri agar aku dapat lebih mawas diri dalam mencari kekasih hati yang tak hanya mengumbar janji janji di awal kisahnya. Hingga tiba hari terakhir aku melihatmu di tempat yang sama saat kita pernah menghabiskan waktu berdua, aku terpaku tertegun memandangmu semakin menjauh hingga benar-benar hilang dari pendangan mata.

Kamulah kisah yang selalu ku ingat, kamulah cinta yang ingin selalu kugenggam, kamu yang jelas terpatri diingatanku hingga kini bahkan selamanya.