Bagiku jatuh cinta punya kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan sebuah kalimat yang hanya cukup aku tuliskan. Mungkin banyak dari orang-orang di luar sana, yang bilang kalau jatuh cinta itu berjuta rasanya, ya mungkin bisa dibilang seperti itu, tapi bagiku, jatuh cinta membuatku merasa seperti ada seratus bahkan seribu kupu-kupu terbang memenuhi isi kepalaku setiap hari.

Oh, mungkin tidak hanya dalam hitungan hari tapi dalam hitungan bulan bahkan tahun. Banyak juga dari mereka yang berpikir bahwa cinta adalah hal yang mudah berganti dan hilang begitu saja saat waktu berlalu. Tapi lagi-lagi tidak buatku. Cinta buatku itu sesuatu yang hidup di dalam hati dan walaupun waktu berlalu, cinta itu bukan hilang atau tergantikan, hanya ada dua pilihan yang ada, semakin bertumbuh walau kita tidak menyadarinya, atau perlahan memudar tapi bukan berarti menghilang tanpa jejak.

Bagiku jika berbicara soal cinta, kamulah semua duniaku tentang cinta. Aku masih ingat betul bagaimana begitu manisnya pertemuan pertama kita. Bukan sebuah kencan buta yang terkadang orang dewasa lakukan. Aku memulainya di saat orang lain merasa bahwa aku masih terlalu hijau dan muda untuk jatuh cinta. Aku setuju dengan apa yang dikatakan orang, bahwa cinta datang tanpa kita menyadarinya, dimulai dari sesuatu yang tidak terduga dan tidak terpikirkan sebelumnya.

Kamu yang saat itu masuk ke ruangan kelas 3 SD ku sebagai seorang murid pindahan baru, dengan begitu manisnya caramu menyapa dan hangatnya bergaul dengan lingkungan yang tentu saja baru bagimu, sungguh membuatku betul-betul jadi gila setiap kali melihatmu. Entah darimana perasaan itu datang, yang jelas sejak itu seolah hanya kamu yang aku lihat. Mungkin hanya sebatas cinta monyet seperti yang biasa dikatakan mereka di luar sana, tapi bagiku lagi-lagi bukan seperti itu.

Waktu boleh terus berganti dan memang begitu banyak pria lain yang bisa kubandingkan denganmu seiring waktu yang terus bergulir, tapi tahun demi tahun yang berganti jadi saksi bisu bagaimana aku malah semakin menggilaimu dalam hatiku. Sebuah pepatah bijak yang pernah aku baca, jika seseorang ditakdirkan untukmu suatu saat entah kapan dan bagaimana caranya, akan selalu ada jalan untuk dipertemukan kembali. Dan itu nyatanya berlaku buatku, memang bukan penantian yang singkat bagiku untuk bisa kembali bertemu lagi melihatmu. Delapan tahun perjalanan itu, aku rasa cukup untuk meyakinkanku seberapa besar rasa itu buatmu selama ini.

Advertisement

Kamu tahu rasanya bisa kembali menemukanmu setelah 8 tahun berlalu? Tidak banyak kata yang bisa aku katakan saat itu, karena terlalu banyak luapan bahagia di hatiku yang rasanya betul-betul meluber. Singkatnya tidak lama setelah itu masing-masing dari kita setuju bahwa tidak ada lagi kamu dan aku, melainkan hanya ada kita. Bagiku ini perasaan jatuh cinta terbaik yang aku rasakan, saat penantian itu akhirnya meghasilkan buah yang begitu manis. Karena sebuah penantian pasti akan ada ujungnya, dan di ujung penantian dengan hujaman ribuan rindu yang terasa seperi ribuan tahun bagiku itu, akhirnya aku bisa kembali menemukanmu.

Waktu terus berputar, membawa kita terlelap dalam indahnya jatuh cinta. Kita selalu yakin bahwa cintalah yang jadi juaranya di hati. Sebuah mimpi untuk berjalan bersama dalam balutan gaun pengantin putih serta tuxedo hitam tentu seringkali jadi sebait doa yang kita panjatkan. Aku masih ingat, mimpi itu juga jadi satu topik pembicaraan hangat yang menggoreskan senyum simpul yang begitu manis di wajah kita dulu, hingga siapapun yang melihatnya, mereka pasti tahu, bahwa kita sedang jatuh di hangatnya cinta.

Lagi-lagi waktu berputar.. Dan sekali lagi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Manusia boleh berharap juga berusaha, namun soal garis takdir, sang Pencipta lah yang paling tahu. Semua ekspektasi manusia di awal memang berharap semua akan berjalan baik. Tapi seperti yang kita tahu, bahwa tidak ada jalan yang bisa terlalu mudah untuk dijalani.

Semua hubungan tentu butuh perjuangan dan kedewasaan di dalamnya. Jatuh bangun untuk menjalani 731 hari bersamamu aku rasa juga sudah jadi menu makanan sehari-hari yang tidak asing buatku. Sungguh itu tidak masalah bagiku, karena cinta memang perjuangan yang harus aku usahakan tanpa perlu aku keluhkan. Tapi tahukah kamu, bahwa cinta di dalamnya juga butuh perjuangan dari kedua sisi? Tidak ada yang bisa berjalan hanya sendiri, apakah bisa sesuatu dikatakan seimbang ketika di satu sisinya ada yang berat sebelah? Atau dapatkah seseorang melangkah hanya di sebelah langkah saja untuk berjalan dengan baik dan seimbang? Jika menurutmu tidak bisa, begitu juga yang aku rasakan dengan hubungan yang dulu pernah kita yakini bisa terus berjalan hingga akhir usia ini.

Dan sekarang apakah kamu berpikir aku menyalahkanmu karena menurutku kamu tidak memperjuangkan hubungan kita? Ya… Dulu aku memang pernah memposisikan kamu untuk jadi seseorang yang bisa aku salahkan, kalau akhirnya sekarang kita tidak lagi bersama. Tapi waktu ternyata mengajarkanku hal-hal yang tidak bisa dipelajari semata hanya lewat teori saja, dari sini aku memetik sebuah pelajaran yang paling penting untuk perlahan berpikir sedikit lebih dewasa dan bijak, bahwa setidaknya jangan pernah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada hidup kita. Ada saatnya kita juga harus mengoreksi apa yang juga ada pada diri kita.

Semua manusia tercipta tidak dengan sebuah kesempurnaan, tapi dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing dimana pada akhirnya dengan sebuah kedewasaan dan hati yang lapang kita berusaha untuk bisa menerima kekurangan orang lain dan belajar untuk bisa jadi pelengkap yang tepat.

Aku menyadari bahwa pada akhirnya hadirmu yang hanya seolah mampir sebentar di hidupku itu, juga turut ambil andilku buatku untuk selangkah untuk jadi lebih dewasa. Kehadiranmu melengkapi beberapa potong puzzle yang hilang dalam diriku, walau bukan sebuah gambaran puzzle dengan sususan lengkap yang pada akhirnya kita miliki.

Oh ya, jika kamu bertanya padaku, mudahkah untuk menerima kenyataan perpisahan kita? Merelakannya tanpa harus ada air mata yang tertumpah lagi? Tentu tidak mudah pada awalnya. Aku merasa seperti serpihan kaca yang betul-betul remuk, atau mungkin lebih tepatnya, seperti butiran pasir atau bahkan debu. Tinggal meniupku sedikit saja dan aku akan benar-hilang tidak berbekas. Semua perasaan yang begitu bercampur jadi satu yang aku rasakan, tidak tahu lagi ingin menangis, marah atau kecewa bahkan berteriak.

Aku sempat menjalani kehidupan yang bisa kusebut dengan istilahku sendiri, hidup seperti zombie – terlihat hidup tapi rasanya seperti sudah mati. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, hanya meratap dan meratap, ya hanya itu saja yang bisa lakukan waktu itu. Aku tidak tahu, apakah terasa mudah bagimu melewati hari-hari tanpaku. Kadang aku berharap, kamu juga sama menderitanya dengan aku, sama-sama tahu rasanya jadi zombie sepertiku.

Sebuah kalimat dari sebuah buku yang pernah aku baca, menuliskan bahwa di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Pasti aku tidak akan merasakan apapun jika aku membaca kalimat ini saat dulu kita masih bersama, tapi saat kondisinya sudah berbeda, membaca kalimat singkat itu rasanya seperti ada sebilah pedang yang menusuk luka yang bahkan belum sempat kering. Tapi dari sana aku belajar untuk menyadari, bahwa akan ada hari dimana mereka yang datang pasti pergi. Bagaimanapun caranya, suka atau tidak suka, perpisahan itu akan datang menghampiri tanpa kita pernah tahu kapan akan datangnya hari itu.

Dan bahwa setiap masalah yang datang dalam hidup, akan memberi sisi positif nya tersendiri, termasuk juga dengan perpisahan, hanya butuh pemikiran yang bijak dan dewasa untuk bisa memahaminya.

Lantas siapa atau apa yang bisa aku salahkan untuk sebuah rasa patah hati yang begitu dalam ini? Tentu saja bukan aku, bukan juga kamu. Bagiku dalam melewati masa-masa perpisahan tidak butuh begitu bersusah payah mencari siapa yang bisa dijadikan kambing hitam. Satu yang harus dipahami sebagai dasar, bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, bukankah sudah ada Sang Pencipta yang mengatur jalannya? Karena di sepanjang perjalanan hidup, kita dipertemukan dengan orang-orang yang hanya singgah sementara dan membuat kita belajar, dan ada juga yang akan ada bersama dengan kita, hingga akhir usia kita. Menerima dengan jiwa yang besar bisa dibilang sudah jadi kewajiban, lantas jika tidak, siapa lagi yang bisa membantu untuk menerima semua yang terjadi pada diri kita?

Memang belajar untuk bisa melewati sebuah hal yang tidak diharapkan dalam hidup, bukanlah hal yang mudah, tapi bukankah kita tahu, bahwa tidak ada yang sulit jika kita mau dan niat untuk belajar menerima itu semua?

Pengalaman adalah guru terbaik dan waktu juga jadi obat yang paling mujarab untuk setiap goresan luka di hati.

Memang tidak ada yang pernah bisa menjamin berapa lama waktu bisa mengobati luka itu, tapi secara tidak sadar, perlahan hati yang tergores itu akan sembuh dan ketika masa itu tiba, kita akan sangat bersyukur pernah memiliki kenangan bersama dengan dia yang ada di masa lalu, walau kita tahu, akhir ceritanya tidak sesempurna yang kita mau.

Dan jika lagi-lagi kamu bertanya, apakah aku sudah betul-betul merelakanmu untuk terbang bebas pergi dariku? Ya…. Aku sudah merelakanmu untuk pergi. Bukan karena aku membenci atau menyalahkanmu, bagiku ini saatnya bagiku untuk membenahi diri. Meyakinkan pada hati dan pikiranku sendiri bahwa seharusnya cinta tidak membuat kita jadi bodoh dan hanya melulu terperosok pada rasa kecewa bahkan kehilangan yang terlalu dalam dan berlarut-larut.

Masih banyak hal dalam diriku yang ternyata masih butuh untuk aku tata ulang. Menjalani hari walau sendiri dengan tanpa harus merasa kesepian, tertawa sungguh-sungguh dari dalam hati dan bersyukur untuk segala musim kehidupan yang aku alami. Aku menikmatinya, bahkan sangat menikmatinya. Dan aku pastikan bahwa aku bisa jadi sosok yang pantas untuk dia yang nantinya akan dipertemukan denganku.

Toh seseorang yang baik juga akan dipertemukan juga dengan seseorang yang sama baiknya bukan?

Membuka hati dan pikiran, mengerti bahwa perjalanan hidup masih sangat panjang di depan sana dan bersiap untuk jatuh cinta lagi tidak jadi hal yang menakutkan bagiku. Karena dari perpisahan itu aku belajar, bahwa jika kita ingin sungguh-sungguh mencintai dengan sebuah rasa yang pantas, disana ada ego yang harus kita kalahkan. Ada juga jutaan rasa peduli serta ada waktu yang harus bisa kita beri, dari 24 jam yang kita miliki setiap hari.

Karena lebih baik tidak membuat seseorang jatuh cinta pada kita, jika pada akhirnya hanya luka yang bisa kita beri untuknya.

Sekarang… Aku melangkahkan lagi kakiku, menegapkan badanku dan tidak lagi menoleh ke belakang selagi aku berjalan. Memang sesekali aku duduk untuk beristirahat, tapi aku tidak beristirahat sambil melamunkan apa yang ada di masa lalu, aku duduk beristirahat sebentar, untuk jadi lebih tangguh saat aku berjalan lagi. Bersyukur jadi kunci utamanya untukku melewati proses perjalanan memantaskan diri.

Suatu saat dia yang terbaik pasti akan aku temukan dan aku akan lupa bahwa aku pernah menangis karena cinta. Hidup terlalu berharga untuk menangis dan kecewa terlalu lama, ketika kita bisa jadi pribadi yang lebih baik, hal-hal baik tentu akan datang mengikuti.