Seperti biasa yang kulakukan di setiap paginya, terbangun di kala mentari masih mengintip, masih malu-malu untuk terbit. Kegiatan rutin, dengan mata sayup aku mengambil ponselku, mengetik “Selamat pagi sayang”, menunggu balasan dari kamu sampai aku tertidur lagi dengan tangan yang masih menggenggam ponselku.

Kamu tau, sampai saat ini aku masih bersyukur karena aku memiliki kamu. Pria yang aku fikir di awal akan membawa aku ke rasa bahagia. Kamu pria dengan seribu tingkah konyol untuk membuat aku tertawa. Kamu selalu berhasil dengan itu, dengan semua kekonyolanmu, tidak pernah sama sekali membuat aku merasa bosan setiap kali pertemuan kita yang jarang sekali itu.

Sampai di suatu malam, pertengkaran kita yang membuat kebiasaan rutinku sudah tak lagi aku lakukan. Yaaa di pertengkaran itu, karena aku yang sudah tidak sanggup menahan rindu tebalku untukmu. Kamu tahu aku yang selalu berusaha masuk ke dalam duniamu, membuat aku selalu merasakan sakit yang teramat. Kesibukanmu yang selalu membuat aku merasa dinomorsekian di hidupmu.

Aku yang selalu menunggu balasan dari semua pesan singkat atau di semua sosmedku dengan rasa mengantuk. Aku yang selalu sabar menunggu kehadiranmu untuk sekedar datang dan memelukku, mencium keningku, yang membuatku selalu berkata “aku kangen”. Aku yang selalu merasa bukan apa-apa jika aku melihat isi ponselmu yang penuh dengan berbagai macam chat dengan bentuk dan segala bentuk perempuan lain. Ahaha, aku selalu tertawa dengan hati yang menangis mungkin di saat itu.

Mungkin ini endingnya, di semua pertengkaran yang sering terjadi di setiap harinya, di rasa sakit yang selalu aku rasakan, dan rasa malasmu meladeni sifat manjaku yang teramat itu katamu. Kata “kita pisah” mungkin kata-kata yang terbaik.

Advertisement

Tapi tahukah kamu saat kata “pisah” itu aku dengar dari kesepakatan kita, Dadaku sesak?

Kepalaku begitu berat seperti ada beban besar. Leherku serasa dicekik. Sepertinya di setiap hari ini pipiku akan selalu basah dengan air yang keluar dari mataku. Apa aku masih bisa bersyukur dengan rasa sakit ini?

Di setiap pagi aku diam-diam masih ingin membuka ponselku dan berharap ada satu pesan singkat dari kamu. Tapi tunggu, kadang aku merasa malas sekali melihat ponsel karena aku tau, ga akan ada satupun pesan dari kamu. Kamu pria yang teramat kuat yang pernah aku miliki. Jadi mungkin berpisah denganku bukan hal yang menyedihkan buat kamu.

Di malam-malam ini aku hitung malam ke-19 kita “pisah”, rasa sakit di dadaku, rasa mencekik di leherku dan rasa sakit di kepalaku masih terus aku rasakan setiap harinya. Tapi bukankah aku harus terus melewati hari-hariku tanpa kamu kan? Selalu bersemangat untuk orang lain yang harus aku bahagiain. Ada keluargaku yang harus selalu aku pikirkan.

Sudah seharusnya kamu kulupakan, sudah saatnya kamu kutiadakan dari semua fikiranku yang kosong.

Aku mencintai kamu tanpa alasan apapun, dan aku melupakan kamu dengan alasan “kita akan saling bahagia jika terpisah”