Halo, Bu. Masih ingat masa kecilku dulu? Aku masih, Bu. Bukan, bukan masa kecil ketika kau menjatuhkanku dari ayunan hingga Ayah marah besar. Bukan masa kecil ketika Ayah membelikanku mainan masak-masakkan dan aku tertawa riang. Masa kecil yang kumaksud adalah ketika kau bersama pria lain di dalam mobil, kau menyingkirkanku di kursi belakang bersama kakak sepupu. Lalu, di bawah remang-remang lampu mobil, kau berkata pada teman priamu,

“Jangan sampai ada yang tahu hubungan kita.”

Aku masih mengingatnya hingga kini, mungkin seumur hidupku. Bu, kau hanya ahli dalam Fisika bukan Biologi, hingga kau lupa bahwa ingatan anak kecil bisa bertahan selamanya.

Pernah juga ketika kau sedang mengirim pesan ke teman priamu yang itu menggunakan kata sayang dan aku yang duduk di sebelahmu hanya memandang diam. Kau pikir aku tak mengerti karena umurku masih belia, masih kelas empat SD, mana mungkin mengerti kata suka. Tapi kau juga lupa, Bu, bahkan ketika aku masih kelas dua SD pun aku sudah tahu apa itu menyukai. Aku tahu semua perasaan itu, Bu, hanya saja aku belum bisa mengerti.

Selama belasan tahun aku mencoba bungkam. Berpikir bahwa kau hanya mencari pelampiasan saat Ayah sedang tak ada di rumah. Dua tahun Ayah meninggalkan rumah untuk mengambil S2 adalah waktu yang lama, dan mungkin kau butuh perhatian. Yang aku tak mengerti hingga saat ini adalah tidak cukupkah kehadiranku dan adik menjadi obat rindumu pada Ayah? Tidak usah dijawab, Bu. Ini hanya pertanyaan biasa.

Advertisement

Teman priamu itu kau kenal lewat kegiatanmu di lapangan tenis. Saban sore kau sering pergi latihan tenis dan lewat kegiatan inilah kau akhirnya bertemu dengan teman priamu itu. Teka-teki ini akhirnya baru kusadari saat aku SMP, bagaimana kau sering menolak mengajakku bersamamu ke lapangan dengan alasan takut aku terkena bola.

Teman priamu pun pernah datang ke rumah. Membawakanku cokelat murahan dan sebagai gantinya mengambilmu malam itu untuk jalan-jalan, meninggalkanku dan adik di rumah. Aku lupa untuk menyampaikan terima kasih, Bu. Jika sekarang kau masih berhubungan dengannya, aku tak peduli lagi jenis hubungan apa yang kau jalani, tolong sampaikan rasa terima kasihku padanya untuk sebatang cokelat yang akhirnya menimbulkan trauma berkepanjangan.

Ayah bukanlah orang yang gampang mengekspersikan setiap perasaan yang dia rasakan. Aku sering menangis sendiri memikirkan bagaimana perasaan Ayah jika seandainya dia tahu bahwa Ibu dulu pernah selingkuh? Ah, apa itu namanya selingkuh? Hal yang Ibu lakukan belasan tahun lalu? Hal yang hingga saat ini menjadi penyebab kasarnya sikapku padamu, Bu?

Bu, kau pernah cerita bahwa Ayah pun pernah membawa seorang wanita dengan mobil dan wanita itu duduk di kursi depan, tempatmu biasa duduk. Aku ragu, Bu. Lalu, aku mulai menyelidiki telepon genggam Ayah. Hingga detik ini tak pernah kutemukan jejak-jejak perselingkuhan dalam keseharian Ayah. Dan hal ini makin membuatku miris, betapa setia Ayah pada Ibu.

Bu, maafkan aku yang sering bersikap kasar padamu. Aku tahu itu salah, tapi kau tak bisa menyalahkanku sepenuhnya. Terlalu sering aku memergokimu bermain dengan pria lain hingga perlahan-lahan mengikis rasa hormatku padamu, Bu. Semenjak SMP aku merasa bahwa kau bukanlah tempat yang tepat untuk berbagi rasa yang biasa dialami para remaja. Aku pun enggan memperbaiki hubungan kita, Bu. Cukup canda tawa pada hal-hal biasa, tanpa perlu curhat-curhatan rasa.

Aku akui, aku tak bisa bersikap seperti kebanyakan teman-temanku. Yang hampir setiap mereka punya masalah, mereka selalu lari pada ibu mereka. Menangis di pundaknya, memohon agar kepala mereka diusap dan memberikan nasihat-nasihat bijak. Aku belajar untuk kuat, untuk tidak mengadu pada siapa pun terkait masalahku, untuk tidak terlalu membutuhkanmu, meski aku tahu kau selalu ada untukku.

Terima kasih untuk semua perjuanganmu, Bu. Untuk semua keringat dan air matamu. Untuk semua uangmu dan lelahmu. Akan kubalas semua kebaikanmu, Bu. Meski tak akan pernah mencukupi. Pintaku selalu, tetaplah bersama Ayah hingga Allah memisahkan, meski hatimu mungkin sudah berlabuh di dermaga lain, tapi demi aku dan anak bungsumu, tetaplah bersama.

Agar traumaku tak memuncak, agar aku tak takut menikah. Karena aku mengerti sekarang, kau bisa memilih menikahi siapa, tapi kau tak bisa memilih untuk mencintai siapa.