Soal jodoh aku tak pernah memilih akan seperti apa jodohku nanti. Akankah seperkasa Iko Uwais atau setampan Leonardo DiCaprio. Aku percaya bahwa Tuhan sudah menuliskan dan menggariskan siapa pendampingku kelak. Jika saja aku bisa memilih siapa jodohku aku pasti akan memilih seseorang yang sempurna iman dan akhlaknya, yang baik budinya, dan penuh dengan kesetiaan. Tapi sayangnya aku tak bisa memilih, itu menjadi rahasia Tuhan dan hanya DIA yang tahu.

"Orang yang baik akan mendapat jodoh yang baik"

Bukankah banyak orang yang selalu mengatakan seperti itu? Aku hanya berusaha untuk menjadi manusia yang baik agar ketika sudah waktunya aku untuk bertemu dengan jodohku, aku juga bertemu dengan jodoh yang baik seperti kebaikan yang selama ini aku lakukan.

"Semua kembali kepada sebatas mata memandang."

Mata satu dengan mata yang lain pasti berbeda. Baik menurutku belum tentu baik menurut yang lain. Sempurna menurutku, belum tentu sempurna menurut yang lain, semua kembali kepada masing-masing penilaian orang. Jika semua bergantung pada pendapat orang lain? Bukankah jodoh itu kita yang menjalani? Dan orang lain? Mereka hanya berkomentar!

Advertisement

Saya tidak pernah berfikir bahwa perkenalan kita kemarin adalah awal dari segalanya. Jangankan membayangkan kamu jodohku, membayangkanmu untuk menjadi teman dekatku saja tak pernah. Berawal dari sebuah perkenalan singkat yang tak disengaja lalu tanpa komunikasi sama sekali, lalu dipertemukan dalam suatu acara dan kemudian saling dekat satu sama lain. Menikmati kesendirian yang saat itu kurasakan, dan kau dengan gadismu yang begitu kau cintai.

"Jika memang ini rencana Tuhan, maka sungguh sempurna garis yang DIA tuliskan. "

Cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa dia adalah jodohku begitu sempurna, hingga aku tak pernah menyadarinya. Meski setiap hari aku harus didera teror demi teror, fitnah demi fitnah dan tuduhan-tuduhan yang memekakkan telinga karena aku dianggap merusak hubungan orang. Dari sebutan seorang PHO, PELAKOR, semua hinaan dan panggilan itu aku dapatkan setiap hari.

Sempat ingin menghentikan semua ini, tapi jika memang ini sudah jalan Tuhan, maka siapakah yang pantas dipersalahkan? Aku? Kamu? Atau dia? Atau mungkin Tuhan? Persoalan hati memang bisa terluka, tapi jika Tuhan yang bercampur tangan? Bisa apa kita?

"Dan jika aku boleh memilih siapa yang akan menjadi jodohku, tentu aku memilih seorang pria yang masih sendiri, bukan pria yang menjadi kekasih orang lain."

Lama aku bergumul dalam permasalahan hati ini, bagaimana aku akan menjalani hari-hari bahagia tapi ada hati yang masih terluka. Mengadu pada Tuhan bahwa aku tak ingin mendapatkan jodoh lelaki yang masih dicintai oleh perempuan lain. Meminta pada Tuhan untuk mengganti jodohku dengan lelaki lain yang sama berstatus sendiri seperti diriku. Lama aku menahan emosi dari tuduhan dan hinaan orang-orang tentangku. Tapi aku tak bisa, aku juga mencintainya, mencintai lelaki yang akan menjadi suamiku, mencintai lelaki yang Tuhan tulis untukku, tapi satu hal aku tak pernah merusak hubungan orang.

"Aku tidak merebut kekasihmu, hanya Tuhan menggariskan dia mantan kekasihmu untuk menjadi jodohku."

Percayalah, Tuhan sudah menggariskan siapa yang akan menjadi pasangan kita kelak, yang akan menjadi jodoh kita kelak. Jika sekarang Tuhan mengambilnya untuk menjadi pendampingku, maka Tuhan pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik dari mantan kekasihmu dulu.