Sayang., saat ini aku menyapamu dengan tulisan ini. Mungkin sudah biasa kau kusapa dengan doaku yang mengudara untukmu. Apa kamu sudah bahagia disana? Pasti Tuhan mengabulkan apa pintamu sekarang, karena kamu sudah lebih dekat dengan-Nya. Kamu sudah lebih tenang disana karena tidak akan kubuat kamu jengkel dan kesal karena sikap-sikapku lagi. Tapi apa disana kamu masih memperhatikanku?

Andai waktu bisa kuulang, dimana aku ingin memperbaiki semua salahku dan sikap-sikap bodohku untukmu. Akan kuperbaikki setiap kepingan hatimu yang kuhancurkan. Aku mencintaimu, sungguh ingin memelukmu di setiap malam yang kini kulalui sendiri tanpamu. Malam ini begitu menyiksaku dengan keheningan yang membuatku teramat rindu, rindu ini amat tebal untukmu.

Di waktu itu, dipertengkaran yang aku sesali sampai saat ini, butiran air matamu amat banyak kau tumpahkan untukku. Sayang, saat itu kebodohanku membuatmu begitu bersedih. Tapi kerasnya hatiku membiarkan deraian air matamu jatuh dengan sia-sia. Kulepaskan hatimu yang teramat kuat menggenggam hatiku dan akupun pergi berlalu. Apa setiap kata maaf dari hatiku saat ini kau dengar? Apa kamupun mau memaafkanku?

Hari itu kudengar kamu sakit, hari dimana aku tak pernah mendapat telfon atau bbm darimu lagi. Hari itu sudah seminggu kita tidak berkomunikasi. Karena pertengakaran kita sebelumnya, membuatku acuh terhadap kesehatanmu. Pikirku saat itu mungkin kamu hanya mencari perhatianku agar kita kembali menjalani semua dengan kasih.

Tapi tunggu akupun luluh dan menemuimu, disaat itu aku berharap semua akan kembali dan baik-baik saja, tapi kenapa saat kutemui tanganmu telah begitu dingin saat kugenggam? Mengapa mukamu begitu pucat saat kupandang? Mengapa mereka menutupmu dengan kain putih itu? Dan tak kudengar lagi suaramu yang selalu memanggilku "sayang". Terlambatkah aku menemuimu? Apa kamu sedang menghukumku?

Advertisement

Ternyata hari itu menjadi hari terakhirku bertemu denganmu, menatapmu. Sayang, bisakah ragamu kembali mendekapku disini? Bisakah suaramu kudengar kembali? Kau tahu kan bahwa aku seorang yang kuat dan sulit untuk mengeluarkan air mata, tapi saat ini yang hanya ingin aku lakukan adalah menangis. Rasanya ingin kuhabiskan seluruh air mataku. Rasanya ingin kumaki diriku yang begitu sering membuatmu luka atas semua sikapku. Apa setiap luka dariku yang membuatmu benar – benar pergi jauh dariku? Sangat jauh bahkan sulit kukejar dengan kedua kakiku.

Mungkin di keadaan ini lebih baik aku berteman dengan bayangmu, aku bebas berimajinasi akan hal indah saat bersamamu, daripada kau nyata bersamaku, pasti bahagianya takkan sama.

Aku lebih baik melihatmu menangis dihadapanku dan membantumu menghapusnya, dibandingkan aku tak pernah melihatmu menangis dan tak bisa memelukmu lagi. Sayang, kamu salah satu sosok terhebat dihidupku. Yang aku tahu setiap kebohongan dulu yang aku buat untukmu, kamu itu tahu akan kebohonganku dan kamu berpura baik-baik saja atas sikapku. Kini hanya untaian doa yang bisa aku kirimkan untukmu sebagai permohonan maafku atas semua kesalahanku, sebagai penyesalan yang begitu teramat dariku. Berbahagialah dan tenang disana yaa sayang..Tuhan akan menjagamu dengan baik disana, dan aku tetap menjagamu didalam hatiku dan dengan doaku dari sini.