Selamat malam, dan apa kabarmu hari ini? Sudahkah kau lupa denganku semenjak hari kita memutuskan untuk saling melepaskan? Jika ingatan tentangku masih tersisa, aku ucapkan terima kasih. Jika pun tidak, semoga kau lekas berbahagia dengan penggantiku.

Setelah hari-hari menyakitkan itu.

Biar kuceritakan keadaanku setelah kau lepaskan. Seperti apa yang dulu sering aku katakan, tak akan kau temui aku lagi setelah hari kepergianmu. Jika saja matamu masih menyaksikanku dihadapanmu, kupastikan itu bukanlah aku. Kalau kau kebingungan atas hilangku, carilah aku disetiap tempat kita pernah bertemu, kalau tak ada, mungkin aku masih tinggal dalam lukaku. Sungguh hidup berbahagialah meski dengan mudah kau mampu mematikan kebahagiaanku.

Kita akhirnya menyerah pada perbedaan.

Aku pernah begitu percaya bahwa kau ada untuk menjadikan kita ada. Benar saja, kehadiranmu menjadikanku lengkap. Seketika itu hidup menjadi semakin jelas dalam dekap. Kita tak pernah berhenti untuk saling menatap. Matamu selalu memberi tahu bahwa hanya padaku kau ingin menetap. Tapi apa boleh buat, kita hanya saling berharap. Perbedaan itu tak akan membuat kita menjadi genap. Karena itu kau memutuskan pergi saat aku masih terlelap.

Tenanglah, langit itu masih sama, mungkin hanya perasaan kita yang berpindah.

Memaksakan keadaan hanya membuatmu semakin nelangsa. Hari dimana aku masih sangat mencintaimu ternyata menjadi hari yang sama saat kau telah belajar mencintai orang lain. Aku pun akhirnya menyerah atas nama kebahagiaanmu. Setelah mengetahui perpindahan hatimu, aku tidak menjadi baik-baik saja. Rasa sakitku bertambah, bagaimana mungkin di titik terburuk keadaanku, kau justru berbahagia dengan anak manusia lainnya? Bukankah perbedaan itu yang membuatmu pergi? Jika ada hal lain, mengapa aku harus mengetahuinya setelah puas menghujanimu dengan seluruh kepercayaan? Sepintar itukah kau mematikan rasa? Secepat itukah kau berpindah dan menganggapku tak pernah ada? Kau pun hanya diam tak berucap. Perlahan pergi tanpa jawaban memunggungiku yang perlahan hilang bersama banyak pertanyaan.

Sampaikan salamku pada orang lain itu.

Jika aku pernah menyakitimu, membuatmu kecewa atas ketidaksanggupanku menyamaimu biarkan aku mengucap maaf. Aku pernah begitu sangat erat menggenggam tanganmu hingga tak menyadari bahwa kehilanganmu sudah nyata di depan mataku. Dia berhasil memenangkanmu setelah banyak upaya kulakukan untuk mempertahankanmu. Sampaikan pada orang itu bagaimana aku pernah ada dalam hidupmu dan bagaimana aku akhirnya berhenti memilikimu. Tetapi jika kau takut hal itu akan menyakitinya silakan anggap kita hanya cerita yang tak pernah ada. Semoga dia selalu berbahagia mendampingimu, selalu ada dalam segala keterpurukan hidupmu. Meski tempat itu pernah begitu sangat aku impikan. Aku sedang belajar melepaskanmu.

Pada akhirnya yang asing akan kembali asing.

Maaf karena aku pernah ada dalam hidupmu, berharap kita akan menua bersama sampai hanya penyakit pikun yang akan membuat kita saling lupa. Maaf untuk hari-hari menyakitkan saat aku belum bisa mengikhlaskanmu, untuk semua rasa kebencian yang masih tumbuh dalam rasaku. Maaf jika tak kau temui lagi aku pada diriku. Jika cinta bisa membuatmu pergi maka dengan luka aku pamit. Berjalanlah meski aku terdiam, berlarilah saat aku masih belajar berdiri lagi.