Aku ingat kemarin itu adalah musim hujan, dan pada saat itu kau dan aku memutuskan saling mengenal pribadi lebih dalam, berharap kau dan aku saling melengkapi, berharap bahwa kala itu kita menjalani hubungan yang terakhir kalinya dari yang kesekian kali, dari beberapa luka yang pernah tertoreh oleh mereka yang sempat datang sebelumnya, memberi bahagia kemudian perlahan pergi meninggalkan luka.

Kau dan aku tak lagi ingin seperti kisah-kisah kita yang pernah berlalu dan kita pun saling berkomitmen semoga perjalanan asmara ini adalah perjalanan terakhir kita, namun waktu ternyata mengubah segalanya, jarak membuat keadaan berubah 180 derajat,komitmen pun tak lagi sejalan, pada saat itu musim hujan belum berganti dan kau yang harus pergi ke suatu daerah meninggalkan aku yang saat itu masih menetap di satu kota, karena kau lulus dengan pekerjaan yang sempat kau daftari di sebuah kota lain, Alhamdulillah akhirnya, doa yang selalu ku panjatkan untukmu saat itu diijabah.

Dan pada suatu malam, kau datang mengunjungiku di tempattku, ingin berpamitan denganku, aku sedikit kaget karna kabar kepergianmu tak kau beritahukan sebelumnya bahwa ternyata kau akan pergi malam itu, rasanya saat berada di dakatmu saat itu campur aduk namun yang paling terasa adalah kesedihan karna aku pun tak menyadari bahwa mataku meneteskan air mata saat kau bilang “aku sudah harus pergi sayang”, aku menangis tersedu-sedu, aku ingin memelukmu sebelum pergi namun aku takut, takut tak bisa ku lepasakan pelukan itu.

Banyak yang terbesit di kepalaku kala itu, aku berpikir bagaimana kisah kita berikutnya setelah perpisahan ini? namun aku ingin berusaha tetap denganmu meski harus terpisah jarak, aku tak ingin berhenti sampai disitu saja, aku ingin menjadi pendukung langkahmu menjejaki karir untuk masa depan, namun saat itu keraguan juga datang menghampiriku aku berpikir apakah setelah kau di daerah itu kau akan selalu mengingatku?

Kau pun tak bisa menjamin itu, namun yang ku tegaskan padamu saat itu adalah jika kau menemukan seorang yang lebih baik dari pada diriku disana maka beritahu aku agar aku tak lagi "menunggu" jangan pergi begitu saja, berpamitanlah seperti saat pertama kau ingin bersamaku, kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk, begitupun saat kau ingin meninggalkan.

Advertisement

Waktu demi waktu berjalan, hari demi hari berlalu namun kabar darimu pun seakan tak pernah ada, setiap hari aku menunggu kabar darimu, sampai berbulan bulan aku tetap menunggu dengan sabarnya, aku menelepon nomormu tak pernah kau jawab, aku mengirimkan pesan, chat di sosmedmu namun tak sedikitpun kau gubris juga, hingga akhirnya suatu hari aku diam, aku belajar tak menunggumu lagi, sampai suatu ketika kau hadir menelpon di nomorku dan bahagianya aku menjawab teleponmu saat itu karena ternyata kau masih mengingatku di sini.

Kupertanyakan segala tanya yang ada selama ini, tentang bagaimana kau sungguh tega tak memberi kabar sampai berbulan-bulan? Sampai teman-temanku menganggap aku bodoh menunggu orang yang tak pasti sepertimu, namun tak kuhiraukan perkataan mereka, aku belajar bagaimana aku sabar menghadapi keadaan saat itu, aku terus belajar menunggumu pulang.

Kau pun menjawab setiap tanyaku, bahwa kau disibukkan oleh banyak pekerjaan, oleh tuntutan dari atasan, oleh sebuah target yang harus kau capai, namun dalam benakku apakah waktumu saharian dengan 24 jam disibukkan dengan pekerjaan? Tidak kan? Pikirku saat itu adalah sesibuk apapun orang dia pasti memiliki waktu untuk rehat walau itu hanya sejam, namun kau bahkan dalam waktu rehatmu pun mungkin tak berniat membalas pesan dan juga chat yang kukirimkan, sungguh kuanggap dirimu keterterlaluan saat itu. Kau tak tahu setiap hari aku harus menanggung sepi dan kerinduan akan hadirmu, meski hanya via suara namun saat itu aku sangat berharap kau hadir walau kau hanya memiliki waktu semenit bercerita.

Kala itu aku berusaha untuk belajar memaafkanmu, lalu kemudian kita mengusahakan yang terbaik lagi, saat itu kau bisa meluluhkan hatiku yang keras karna emosi dan amarah yang bertumpuk, kau berjanji keadaan yang sama tidak akan terjadi lagi, aku belajar memaafkanmu saat itu, hingga pada suatu hari setelah obrolan kita berakhir kau datang mengunjungiku di kota tempatku tinggal yang lumayan jauh dari kota tempatmu bekerja, sampai akhirnya kau pulang lagi tanpa pamitan, dan rasanya kau tahu jadi aku? Jadi perempuan yang hobinya menunggu, sakit rasanya!!

Seperti aku hanya kau anggap angin lalu, seperti kau tak pernah mementingkan perasaanku, hingga saat itu ku putuskan kita sudahi saja sampai disini, perjalanan kita tak layak lagi dilanjutkan, hatiku hanya akan terus sakit jika ini berlanjut, dan kau juga akan terbebani dengan keluhku, ku kirimkan padamu sebuah pesan tentang berakhirnya hubungan kita namun tak pula kau gubris akhirnya aku pun benar-benar merelakan kau, kau dengan jalanmu dan aku dengan jalanku.

Mungkin akulah yang tak mampu lagi menjadi penguatmu saat lelah, namun ku putuskan tetap akan menjadi pendukung karirmu sebagai teman biasa saja.

Hingga suatu hari saat aku tak lagi sempat memikirkanmu, saat aku lebih banyak menyibukkan diri dengan teman-teman, saat di mana aku merasakan yang namanya ramai, tak lagi sepi karna terus menunggu hadirmu juga kabarmu, tiba-tiba saja kau datang hadir menyapaku tanpa rasa bersalah sedikitpun, sungguh kau keterlaluan!

Lalu kubahas tentang pesan terakhirku padamu, dan kau katakan aku tak pernah menerima pesan apapun darimu, aku kaget. Padahal saat itu sebelumnya aku mengirimkan pesan dengan kalimat selesai pada hubungan kita, dan sekarang kau berkata kau tak membacanya? Ah. Aku tak percaya.

Saat itu, sekali lagi kau datang meyakinkan diriku dengan harapan bahwa mungkin aku akan kembali luluh dengan alasan-alasan seperti sebelumnya, tapi nyatanya kau salah jika berpikir aku akan luluh dengan beberapa alasan yang akan kau jelaskan, karna jelas rasaku padamu saat itu sudah hambar, keinginanku untuk tetap menunggu sudah hilang, perasaanku telah diberlalukan oleh waktu, oleh seseorang yang tak menghargai kehadiranku, oleh jarak yang memisahkan dan hati yang tak mungkin lagi dipersatukan, aku telah benar-benar hambar karna sikapmu, namun aku pun tak berniat mencari penggantimu.

Setelah selesainya hubungan kita aku menyibukkan diri dengan lebih banyak belajar tentang agama, tentang bagaimana mendekatkan diri pada penciptaku, karna dalam kejadian itu aku mempelajari banyak hal, salah satunya adalah bagaimana caraku untuk menjadi sebaik-baiknya perempuan.

Aku berpikir mungkin tuhan sengaja mendatangkan kau dalam hidupku untuk diuji sabar dan kuatku, terbesik dibenakku mengapa tidak aku menjadi muslimah yang diinginkan penciptaku sebagaimana dia telah menolongku dalam segala keadaan, setiap derai air mataku kala itu aku hanya memilki Tuhan yang maha besar yang senantiasa memelukku saat rapuh, hingga ku niatkan diri ini hijrah untukNya, dariNya dan hanya untukNya cinta sepenuhnya ku berikan, seperti cinta yang sepenuhnya Dia berikan untukku. Terima kasih karna mengajarkanku jadi lebih baik hingga hari ini, saya menjadi wanita yang menutup aurat diri pada lelaki yang sudah mutlak kewajibanku sebagai wanita,yang belum ku sadari sebelum mengalami keadaan pahit bersamamu. Aku wanita yang semoga dimuliakan selalu olehNya.

Sungguh keajaiban yang luar biasa bukan? Mungkin inilah yang disebut hikmah di balik kesabaran. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur menjadi aku yang kemarin, sekarang dan yang akan datang. 🙂