Di tempat tinggalku yang sekarang, ada banyak tikus.Tikus-tikus yang berkeliaran itu membuatku dongkol bukan kepalang. Mereka selalu mengacak-acak sampah di tempatnya, membawanya melewati loteng, hanya untuk mereka gigiti dan selebihnya menjadi undangan menggiurkan bagi semut dan hewan sejenisnya.

Sayangnya, aku tak bisa berbuat banyak demi melihat tingkah laku mereka. Bukan apa-apa. Terlalu beresiko menempatkan perangkap berupa racun yang dicampur makanan, pun memasang jebakan yang membuat mereka mati seketika. Usaha tidak akan berhenti sampai di situ, karena selain harus mencari di mana letak bangkai tikus itu agar tak menimbulkan bau menyengat yang membuat mual jika mereka berhasil memakan umpan kita, aku juga harus membuang bangkai itu. Tahu sendiri bagaimana repotnya membuang. Lagipula, aku tak mau mengotori tanganku dengan sesuatu tak berguna dan kotor macam tikus.

Tapi setelah kupikir-pikir, ada begitu banyak persamaan kau dengan tikus.

Kau sama dengan tikus, menghamburkan isi hatiku layaknya sampah, menggerogotinya dan kemudian meninggalkannya teronggok berbau dan menghimpun kawanan semut serta lalat-lalat untuk berkerumun.

Kau sama dengan koruptor yang selalu diidentikkan dengan hewan omnivora ini. Kau mencuri perhatianku lewat segala tipu dayamu dengan diam-diam, berdalih tak sedikitpun menyengaja membuatku terpedaya, namun tanpa ampun bersenang-senang setelah hatiku hampir mati dan setengah gila.

Advertisement

Ya, kau persis seperti tikus, hewan kotor yang menimbulkan keresahan bagi pemilik rumah yang mencintai kedamaian, dibenci oleh mereka karena penyakit pesmu yang kau bangga-banggakan, serta membuat kalang kabut karena terlalu seringnya kau bertingkah membuat keributan.

Tapi sekali lagi, aku tak sudi harus membunuhmu dengan kedua tanganku. Aku tak ingin dicap pembunuh, meski aku sedemikian benci kepadamu. Tanganku terlalu berharga untuk harus terkotori dengan bangkaimu nanti bila aku berhasil membuatmu mati.

Atau aku harus pindah saja dari tempatku menetap agar kita tak lagi bersitatap? Sepertinya percuma. Karena aku lagi-lagi akan bertemu dengan tikus sejenismu. Dan siklus ini akan kembali terulang, entah sampai kapan berakhir dengan gamblang.

Sepertinya aku membutuhkan kucing. Yang akan tunduk dan patuh dengan seluruh perintahku untuk membungihanguskanmu. Yang tak akan membuat tanganku ataupun tempat tinggalku kotor oleh bangkai baumu. Yang akan mengejarmu dan menimbulkan teror serta ketakutan di hidupmu.Sampai kemudian engkau menyerah dan pasrah dilahapnya sampai musnah.

Pertanyaannya, di mana harus kucari kucing itu?