Kamu adalah sebuah efek kupu -kupu yang kerap kali membuat hati ini luluh lantah ditelan harapan. Kerapkali kau buat diriku berkhayal dalam sebuah realita yang sebenarnya tidak ada.

Ada masa-masa dimana aku menciptakan suatu dimensi dimana aku adalah raja yang memilikimu sebagai permaisurinya. Namun akhirnya kisah itu mengantarkan ku kepada sebuah titik bifurkasi yang semakin membuat ku terpaku dan melupakan keseluruhan yang kumiliki.

Ada sebuah jalan yang melintang panjang, entah itu bergaris diagonal ataupun horizontal yang seakan membuat ku lelah seperti halnya garis yang tercipta secara vertikal. Kerap kali aku juga dibuat bungkam dalam sebuah tanya yang tak pernah bisa ku ucapkan secara lantang dalam menjawabnya, mungkin sekedar membisik dan mengakuinya secara sepihak sedikit membuatku agak riang setelah lama menelan pil penantian.

Aku juga tidak begitu mengerti tentang rasa yang sebenarnya ada didalam hatimu. Ini seperti sesuatu yang tidak adil, bahkan ini sepertinya jauh dari kata adil. Membiarkan diriku sendiri bertahan terhadap sesuatu yang tidak ingin menginginkanku bertahan adalah sebuah ironi yang nyaris memecah tangis.

Terkadang dalam mencinta seorang lelaki memang harus menelan pil pahit sendirian. Bagai seuntai lidah yang merasakan pekat nya obat demi kesehatan anggota tubuh lainnya. Tadinya aku sedikit tidak percaya, bahwa kepakan kupu-kupu yang kecil dapat membuat sebuah tornado besar di brazil sana.

Advertisement

Namun kini aku mulai sedikit mempercayai, bahwa sekecil apapun bentuk sesuatu, tidak menutup kemungkinan ada kerusakan besar yang ditimbulkannya. Seperti halnya harapan ini, meski sedikit yang kuterima. Rasa sakit itu begitu cepat membesar dan merenggut kebebasan.

Bagaimana mungkin aku yang rela mengikat diriku sendiri, malah menjadikanmu seseorang yang liar dan bebas berlalu lalang kesana kemari. Bagaimana mungkin aku yang kau tatap tajam saat menatap luar malah membuat kamu bermata besar yang mampu menangkap segala gambaran laki-laki yang ada?

Ini salahku atau bagaimana? Kenapa sedemikian remuk hatiku dibakar cemburu yang mana kamu bukan sama sekali milikku. Namun lagi-lagi aku harus kembali terpaku dan tak bisa berlari. Karena cinta yang ku miliki tak lagi membiarkan ku pergi dan mencari yang lain.

Semoga pada akhirnya kamu pun akan mengerti bahwa bertahan tanpa kepastian itu cukup menyakitkan. Meski kerap kali senyumanku melengkung dan mengembang. Hal itu tidak menjanjikan aku tidak terluka bukan? Berusaha kuat diatas hati yang rapuh itu cukup membuatku kepayahan. Bila benar engkau ingin tinggal, tinggalah sekarang juga.

Apakah masih banyak ragu yang menutup mata hatimu dalam menatapku?