Maaf, jika semua ini terjadi pada kita. Ah, padaku lebih tepatnya. Pada hatiku yang tidak bisa biasa saja terhadapmu. Selalu menganggapmu lebih dari seorang sahabat. Lalu, tawamu, tawaku, hangatmu, jahilmu, dan seluruh kenyamanan itu berubah menjadi lebih dingin dibanding sebuah ruang kosong pekat tanpa penghuni. Iya, semua karena keberlebihanku dalam memperlakukanmu sebagai yang paling istimewa. Padahal, kau tahu? Itu kulakukan karena aku begitu takut berdiri sendiri tanpamu. Namun, jika justru itu membuatmu melangkah menjauh dariku, baiklah, aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.

Tidakkah semua bisa diperbaiki? Temui aku lagi sebagai sahabatmu. Sebagai seseorang yang bisa membuatmu tertawa lepas karena kebodohanku ketika kau jahili. Masalah bagaimana hatiku, itu urusanku. Setidaknya aku bisa menjadi sahabat terbaik dalam hidupmu, Aku bisa memberi dan terus memberi, sebagai sahabatmu. Aku berjanji, tidak akan lagi mengganggu urusan hatimu. Aku berjanji, akan memperlakukanmu seperti sahabatku juga. Jika aku melanggar, kau boleh pergi lebih jauh dari sekarang.

Sungguh, aku tidak mampu jika harus melihat punggungmu semakin menjauh. Aku terbiasa berteduh di bawah matamu. Jika lantas kau tak mau lagi melihatku, aku tak punya lagi tempat untuk bersembunyi dari duka. Harus di mana lagi aku tinggal jika matamu tidak lagi membuka pintu untukku?

Terima aku, sebagai sahabat dalam hidupmu. Aku hanya ingin melihat kau yang dulu lagi. Tidak lebih. Aku berjanji, tidak akan mengganggu hatimu, lebih dari seorang sahabat…