"Katanya mempunyai banyak saudara kandung itu menyenangkan, dan katanya lagi mempunyai sedikit saudara itu juga menyenangkan"

Ini adalah kisah nyata dari seorang teman saya yang kehidupannya berbanding terbalik dengan saya 180 derajat. Baik segi positif maupun negatif. Teruntukmu sahabatku, terima kasih karena kamu telah membuka mataku, bahwa aku bukanlah seseorang yang paling terpuruk, yang mempunyai banyak masalah, dan seseorang yang tidak beruntung.

Sahabatku ini adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Kakak pertamanya seorang perempuan yang sudah menikah dan memiliki 1 anak perempuan. Adik kedua dan ketiganya seorang perempuan juga, bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta, dan adik terakhirnya seorang laki-laki tinggal di pesantren. Sahabatku sendiri adalah seorang guru TK yang kalian tahu gajinya tidak seberapa, lalu dia harus menanggung biaya kuliahnya sendiri. Sahabatku ini mengerti karena pekerjaannya yang hanya sebagai guru TK tidak banyak memakan waktu, lalu ketika ia di rumah, ia membantu ibunya mengerjakan berbagai pekerjaan rumah seperti: mengepel, cuci baju dan sebagainya.

Tetapi entah sedang lelah, atau faktor lainnya, kemarin ia menangis saat menceritakan kejadian di rumahnya. Yang dengan asiknya menyuruh-nyuruh dia seenaknya. Ibunya membanding-bandingkan dengan adiknya yang sebagai karyawan itu, persoalan jodoh. Keluarganya tidak mengerti bahwa ia sedang menyusun skripsi.

Lalu aku, aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku adalah seorang perempuan, ia telah menikah setahun yang lalu dan sekarang ia tinggal bersama suaminya, yang rumahnya agak jauh dari rumahku kurang lebih 7 km. Otomatis, aku hanya tinggal bertiga dengan bapak dan mamaku. Aku adalah karyawan di salah satu perusahaan swasta, gajiku memang cukup lumayan untuk membiayai kuliahku, membeli beberapa kebutuhan rumah, dan mengangsur biaya kredit motor.

Advertisement

Tetapi memang dasar manusia tidak pernah puas, aku berpikir hidupku sepi, tidak ada warna, ketika pulang kerja aku langsung menuju kamarku. Keluar kamar hanya untuk mandi dan melihat situasi di ruang tamu rumahku, selebihnya seperti: makan, mendengarkan musik, dan nonton tv aku habiskan di kamarku. Mamaku tidak pernah menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali. Akunya saja yang sesekali ingin membantunya sekadar mencuci piring/memasak jika tidak ada makanan di rumah.

Karena kebosananku, terkadang pulang kerja aku langsung main, dan pulang hampir larut. Mama tidak pernah memarahiku, baginya asal aku pulang, asal aku tidak bosan. Lalu, aku terus seperti itu sampai aku mendengarkan kisah dari sahabatku itu.

"Jangan pernah menyia-nyiakan hidupmu saat ini, mungkin saja kehidupanmu itu adalah dambaan orang lain. Dan jika kamu tidak menghargai hidupmu, itu sama saja kamu tidak menghargai impiannya"

Mungkin kata-kata itu benar. Banyak segi positif yang bisa aku ambil dari kehidupan sahabatku itu, setidaknya ketika aku di rumah atau sedang libur, aku tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya ketika aku sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahku, tidak ada yang mengganggu, dan biaya kuliahku terpenuhi.

Darinya aku banyak belajar. Aku dan dia bukanlah satu-satunya orang yang tidak beruntung. Bukan orang yang paling mempunyai banyak masalah.

Hai sahabat bersabarlah, ini bukanlah akhir, seharusnya ini menjadikanmu, menjadikan kita lebih kuat, lebih ikhlas. Dan lihatlah sekelilingmu, mungkin kita malah seseorang yang beruntung di muka bumi ini. Kita masih memiliki orang tua yang utuh, saudara kandung, dan teman-teman yang selalu ada.

"Teruntukmu sahabatku, E'E'Y"…