Kisah kita berawal dari pertemuan biasa tanpa kesan yang dengan mudahnya terlupakan. Pikirku, kau mungkin akan sama saja seperti yang lainnya. Bagiku, kau hanyalah sebagian kecil dari orang pilihan Tuhan yang ditakdirkan bersinggungan takdir denganku. Tapi ketika kehadiranmu menjadi pengobat patah hatiku, baru aku percaya bahwa takdir kita bukan hanya bersinggunggan. Kita terlilit takdir yang sama!

Aku masih merangkai serpihan hatiku saat kau tiba-tiba menyapa dengan tulus. Aku masih berniat menepi saat kehadiranmu bahkan tidak sanggup kutolak. Aku masih dalam suasana patah hati, namun keceriaanmu seolah menerbangkan rasa sakitku. Sorot matamu seakan menjamin bahwa semua lukaku aka tersembuhkan waktu. Aku masih enggan membina hubungan, namun usahamu yang pantang menyerah membuatku bertekuk lutut. Keangkuhanku runtuh ketika dengan sederhananya kau nyatakan perasaanmu.

Ya, aku menyerahkan hatiku lagi. Kali ini tanpa syarat apapun. Belajar dari yang terdahulu, bahwa terlalu banyak syarat malah jadi menyakitkan. Hati yang kemarin sempat berkeping dan baru saja kurangkai kembali, sebuah hati yang kusadari belum sepenuhnya pulih dan utuh, kini kuserahkan padamu. Aku berharap kau menjaga dan merawatnya. Atau setidaknya jangan menghancurkannya lagi. Karena aku takut, bila remuk untuk yang kedua kali, mungkin aku tidak lagi sanggup berdiri.

Sebuah komitmen belia terlahir di tahun pertama. Begitu muda karena aku masih berseragam biru putih dan kau abu-abu. Begitu berani karena kita masih terlalu muda namun untungnya yakin. Begitu lugu, seakan perjalanan kita akan baik-baik saja tanpa halangan yang berarti. Berikrar saling setia dan tidak menyakiti satu sama lain. Yah, kita belajar banyak hal sejak itu. Belajar bagaimana menjaga hatiku yang mudah patah. Belajar bagaimana menjaga perasaanmu yang sering terbakar cemburu. Belajar bagaimana mengembalikan tawaku saat hari terlalu berat dilalui. Belajar bagaimana mengakali rindumu saat tugas sekolahku menumpuk hingga tak ada waktu bertemu.

Ya, tahun pertama memang membahagiakan. Dunia seolah memihak kita sepanjang masa. Tahun pertama adalah sepenggal waktu luar biasa. Diwarnai jatuh cinta setiap hari. Diselingi debaran-debaran kecil yang mengalirkan bahagia. Dihujani keromantisan dan rencana tentang masa depan.

Advertisement

Dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, dan delapan. Ya, di tahun-tahun itu badai mulai menyapa silih berganti. Kita mulai terlibat dalam perbedaan yang kadang berakhir lewat pertengkaran. Kita mulai berselisih karena beda pendapat. Kita mengalami suatu fase di mana banyak orang menyebutnya kejenuhan. Di saat itu rasanya seperti terjebak, tidak punya pilihan, dan merasa terpaksa menjalani sebuah hubungan. Saat itu rasanya ingin berhenti sejenak, menyepi sebentar dan beristirahat dari yang namanya status, lalu menikmati apa yang ditawarkan semesta dalam sekejap. Beruntungnya arus dunia tidak memisahkan kita.

Bahagianya kita masih terlilit takdir yang sama.

Panah asmara tidak begitu saja meninggalkan kita. Hingga akhirnya kita berhasil melewati tahun kesembilan kita. Hubungan kita berujung bahagia setelah 9 tahun berjuang. Lega rasanya kala restu dan doa itu akhirnya mengantar kita ke gerbang pernikahan. Bangga rasanya akhrnya satu persatu rencana masa depan kita menjadi kenyataan.

Tanpa terasa, sudah setahun kita menjadi sah dalam ikatan suci ini. Ya, aku menikmati peran baru sebagai seorang istri. Tersenyum mendengar igauanmu ketika kau terlalu lelah. Terbahak melihat wajah bangun tidurmu yang kadang berhias liur. Bersemangat menyiapkan kebutuhanmu sebelum berangkat kerja. Berdebar saat kau mencicipi masakanku. Tak sabar menantimu pulang kerja untuk berbagi cerita.

Lucunya, aku juga menikmati pertengkaran kita. Saat kita beradu punggung menyelamatkan ego masing-masing. Saat raga inginnya dipeluk namun hati menolak karena takut ditolak. Saat lidah menjadi kelu bahkan hanya untuk menyapa padahal inginnya berbagi canda. Di saat kita saling berhenti berbicara dalam rangka berhenti perang mulut. Rindukah kau pada omelanku di pagi hari saat kau terlalu susah dibangunkan? Kangenkah kau pada lenganku yang mencari perlindungan kala hujan deras membuatku gemetar? Karena sebetulnya aku merindukanmu di setiap marahku. Karena sesungguhnya cintaku tidak pernah berkurang walaupun tingkahmu sangatlah menjengkelkan bagiku.

Hey, masihkah merasakan debaran memabukkan itu? Getaran aneh yang rasanya menjadi candu, cuma kamu yang bisa menghadirkannya. Aku masih merasakannya walau kadang samar. Aku masih jatuh cinta walau tidak segila dulu. Aku masih menjadikanmu prioritas di atas segala yang perlu kudahulukan. Mungkin pendewasaan itu yang melembutkan perasaan kita. Membawanya lebih tenang dan tidak menggebu. Menuntunnya pada perasaan lebih tinggi dari sekadar cinta sepasang adam dan hawa.

Suamiku, mantan pacar 9 tahunku, lelaki yang berjuang bersamaku tanpa kenal menyerah, perjuangan kita belum selesai. Mauku, tetap kamu yang di sampingku. Melewati jutaan hari yang kuharap Tuhan berikan untuk kita alami. Inginku, kamu yang pertama sekaligus terakhir. Menjadi satu-satunya lelaki yang menikahi dan menjadi imamku. Menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Mengasuh mereka, kan kuceritakan kisah kita. Tentang bagaimana aku mengenalmu, jatuh cinta, dan akhirnya menikahimu.

Harapanku, kau akan menua bersamaku di penghujung senja kita.

Berjalan di sepanjang pantai saat matahari terbenam. Melambai pada cucu kita yang meninggalkan kita dalam langkah kecilnya. Saling memeluk saat udara menjadi terlalu dingin. Saling berbisik saat kita tidak lagi butuh berteriak.

Aku mencintaimu lelakiku, suamiku, calon ayah dari anak-anak di masa depanku. Aku mencintaimu, pria tak sempurna yang dengan hebatnya menyempurnakan hidupku. Aku mencintaimu, jodoh yang kuharap tak pernah berhenti terlilit takdir yang sama denganku.