Mantan, kau tahu, dulu aku terlalu mencintaimu, hingga aku lupa betapa banyak hal serta waktu yang kubuang sia-sia hanya demi bersamamu. Pikirankupun selalu tertuju padamu, hingga aku lupa memikirkan kehidupan panjang yang memiliki banyak sekali hal-hal yang menakjubkan.

Mantan, dulu aku sempat merencanakan berbagai hal bersamamu, kita sama-sama membahas mengenai masa depan kita yang akan datang. Mengobrol hingga larut malam mengenai kegiatan kita selama seharian. Berbagi kisah mengenai berbagai hal, hingga terkadang kita lupa bahwa waktu berlalu begitu cepat.

Mantan, bersamamu aku belajar banyak hal, dari yang terburuk hingga yang terbaik. Pengalaman saat bersamamu memberikan pelajaran berharga untukku. Aku mulai belajar sabar dan tegar saat bersamamu, aku mulai belajar menjadi seorang ibu saat sifat kekanak-kanakanmu mulai muncul. Dulu, aku berpikir hubungan kita akan berlangsung hingga ke jenjang pernikahan. Namun nyatanya, setahun, dua tahun berlalu, hubungan kita mulai teruji berbagai rintangan. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk menjalani kehidupan kita masing-masing.

Aku tahu setiap manusia pasti pernah melakukan sebuah kesalahan di dalam hidupnya, karena tidak ada manusia yang sempurna. Tuhan selalu menciptakan manusia untuk selalu berada di jalannya serta menjalankan setiap perintahnya.

Aku tahu, setiap hal yang kulakukan dulu terkadang membuat Tuhan murka kepadaku, betapa banyak dosa yang telah kulakukan. Semuanya tak dapat terhitung lagi. Apalagi saat aku pacaran, berpegangan tangan dengan lelaki bukan mahramku, berdua-duaan di tempat sepi, yang jelas-jelas hal dilarang di dalam agamaku.

Advertisement

Dulu, aku selalu menganggap enteng setiap sesuatu, apalagi dengan sikap keras kepala yang melekat dalam kepribadianku, aku selalu melakukan sesuatu sesuka hatiku, jika aku berpikir bahwa hal itu benar adanya, mesti bertentangan dengan apa yang ada, aku tetap saja melakukannya. Akupun pernah merasakan indahnya sebuah perasaan cinta kepada lawan jenis, hingga akupun terperangkap dalam sebuah cinta semu yang slalu memberikan kegalauan dan kegelisahan setiap waktu.

Awal menjalani kehidupan tanpamu, tanpa sapaan hangatmu disetiap pagi serta serta tak pernah lagi kudengar dongeng pengantar tidur darimu, aku mulai merasa sepi dan begitu merindukanmu. Tak ada satupun yang bisa kembali mengisi hatiku, karena hati ini telah terkunci rapat sehinggga tak ada seorangpun yang bisa membukanya.

Berbulan-bulan putus denganmu, aku tersadar dari tidur panjangku, sesuatu menghantam hatiku. Pacaran bukanlah sesuatu yang harus aku jalani untuk mengisi cerita hidupku. Akupun mulai belajar fokus dengan pendidikan yang saat ini kujalani, berbagai kegiatan kulakukan,dan kini akupun mulai aktif dalam organisasi-organisasi yang ada, sehingga aku menjadi seorang aktivis.

Mantan, kini aku sudah mantap berhijab, bukan karena sekarang aku orang baik dan sempurna, akan tetapi karena aku belajar untuk menjadi lebih baik dari masa laluku sehingga aku bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhanku. Lagi pula, dengan berhijab, tak seorang lelakipun dengan gampang melihat auratku.

Mantan, kau tahu? Kini aku malu jika harus memamerkan aurat kepada lawan jenis, aku malu jika ada mata lelaki menatap dalam kearahku. Aku risih jika ada lelaki yang merayu serta menyanjungku. Aku selalu berdo’a kepada Allah agar menjauhkanku dari lelaki yang belum halal bagiku.

Mantan, kini aku tidak lagi pacaran seperti dulu, penghijrahan ini mengajarkanku berbagai hal untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhanku. Cinta suciku kini kupersembahkan hanya kepada Tuhanku Sang Maha Pencinta serta suamiku kelak yang akan menjalani separuh kehidupan di dunia fana ini bersamaku.

Dulu, aku terlalu mencintai makhluk ciptaan Tuhan sepenuh hatiku, hingga membuatku buta akan hakikat cinta yang sesungguhnya. Aku terlalu sakit untuk bangkit jika tanpa lelaki yang kucintai. Seiring berjalannya waktu, perlahan Tuhan menunjukkan cahayanya kepadaku, akupun mulai belajar arti mencintai yang sesungguhnya.

Kini kusadari, tak seharusnya aku begitu mencintai lelaki ciptaan Tuhan dengan sepenuh hatiku, harusnyalah cinta sepenuh hatiku kuserahkan kepada Sang Maha Pencinta, yang telah menerangi setiap jalan dalam hidupku dengan cahaya cinta dan kasihNYA.

Kini, perasaanku lebih tenang dan tentram, meski semakin banyak rintangan yang menghadang dalam penghijrahan ini. Aku tahu, ini adalah tantangan untuk semakin memperkuat keyakinanku. Aku pasti bisa mejalani semua rintangan yang menghadang di sepanjang perjalananku, karena aku memiliki Tuhan yang akan selalu melindungiku dan memberikan petunjuk dalam setiap perjalananku.

Aku bersyukur, kini aku telah mengerti apa hakikat cinta yang sesungguhnya, apa arti mencintai dan dicintai yang sebenar-benarnya. Tanpa ada keraguan dalam kecintaan itu. Kuucapkan terima kasih kepadamu mantanku, karena berkat aku putus denganmu, aku menemukan cahaya serta hidayahNYA, sehingga aku kini berhijrah dan tidak lagi berpacaran.