Aku tak tahu harus memulainya darimana, yang jelas saat ini aku sudah tidak akan lagi berharap apapun pada siapapun. Tidak akan lagi menunggunya pulang. Tidak akan lagi menemani hari-harinya ketika ia di sana. Tidak akan lagi berjuang untuknya, untuk kita. Sudah kesekian kali aku mengalami keadaan seperti ini, merasakan hal ini, dan kurasa aku sudah sangat lelah sekali. Begitu juga dengannya, yang juga sudah tidak lagi mampu menunggu. Bisa apa aku dengan keadaan seperti ini? Mengumpat keadaan, mengumpatnya? Sungguh, aku tidak ingin menyalahkan siapapun.

Kadang aku bertanya-tanya, mengapa Tuhan memberikan rasa ini tumbuh begitu dalam sementaraIa tak membiarkan kami bersatu dalam ikatan yang halal? Bahkan ketika keadaan, nasib, dan takdir benar-benar seperti sudah menjadi musuh kami, tidak pernah bisa berpihak pada kami, aku sudah berusaha dengan cara apapun untuk membunuh rasa ini. Memang dengan sekejap rasa itu berhasil kubunuh, tapi entahlah kenapa tumbuh lagi, lagi, dan lagi.

Bukan sekadar soal aku cinta kamu, aku sayang kamu, dan aku butuh kamu. Tapi aku ingin kamu jadi imamku dengan segala kelebihan dan kekurangan yang engkau miliki. Belajar tentang kehidupan bersama, belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain, memaafkan kesalahan satu sama lain, tertawa bersama, berduka bersama, sampai pada akhirnya salah satu dari kita harus pergi terlebih dahulu meninggalkan semuanya. Tapi itu semua hanya sebuah khayalan semata.

Pernikahan tidak hanya menyatukan dua orang yang saling mencintai, namun juga menyatukan dua keluarga yang mungkin sangat berbeda latar belakang, adat istiadat, bahkan keyakinan. Ketika aku tidak bisa membuat keluargaku keluargamu, bahkan sekadar menerimamu, khayalan itu akan tetap selamanya menjadi khayalan kecuali adanya keajaiban yang turun dari langit.

Ketika selalu kucoba dan kucoba untuk mempromosikan dirimu pada keluargaku, dengan beribu alasan mereka menolaknya. Ketika selalu kucari dan kucari cara agar keluargaku menerimamu, dengan mantap mereka bilang tidak. Ketika selalu kuperjuangkan dirimu di depan keluargaku, dengan tegas mereka tetap tidak memberikan restunya.

Advertisement

Aku tahu, aku sadar, aku sudah lelah, begitu juga kamu yang tidak lagi bisa menungguku, menunggu keluargaku, sementara kamu sudah menyiapkan semuanya untukku, untuk kita. Hanya tinggal menunggu restu? Ya, itu jelas terlalu membuang-buang waktumu sehingga kamu memutuskan untuk mengakhiri kedekatan kita yang hampir sempurna ini. Memaksamu menungguku lagi? Ingin, tapi tak mungkin.

Aku yakin Tuhan selalu mendengarkan doaku. Akan mengabulkan setiap permohonanku. Tapi sampai saat ini aku seperti belum mendapat jawaban dari-Nya. Keadaan semakin sulit, sementara rasa ini terus tumbuh dan semakin mendalam. Apakah aku terlalu berharap padanya sehingga Tuhan belum memberikan jawaban-Nya, karena kita semua tahu, Tuhan sangat mencemburui hati yang berharap selain kepada-Nya.

Aku yakin langit akan memberikan kabar baiknya. Seperti ia menampakkan pelangi setelah adanya hujan. Tapi sampai saat ini ia belum menampakkan pelanginya. Atau bahkan selamanya ia takkan menampakkan pelanginya untukku? Sepertinya langit juga tidak memihak padaku, pada kita. Bahkan mungkin semesta juga tidak akan berpihak pada kita. Siapa pula makhluk yang bisa berpihak dan membantu kita?

Apa salahnya terus memperjuangakan rasa yang ada. Meski aku belum mendapat jawaban dari Tuhan, meski aku belum mendapat kabar baik dari langit, dan meski aku belum juga mendapat restu dari keluargaku. Tapi aku tahu akan ada akhir dari sebuah perjuangan, akan ada akhir dari sebuah penantian, dan akan ada akhir dari sebuah cerita. Mungkin ini akhir dari perjuanganku, penantianmu, dan cerita kita.

Ketika aku sudah tidak lagi punya peluru untuk membelamu di depan keluargaku. Ketika aku sudah tidak punya alasan lagi agar kamu tetap tinggal. Ketika kamu sudah terlalu lama dan tak bisa lagi menunggu, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kita mengakhiri semuanya. Menyimpan dengan rapi semua kenangan yang mungkin kelak akan kita ceritakan pada anak-anak kita masing-masing, bahwa kita pernah punya cerita yang begitu indah dan sarat akan kenangan dan perjuangan.

Seperti pepatah bijak, setiap kejadian pasti akan ada hikmahnya. Setiap peristiwa pasti ada pelajaran yang bisa dipetik. Kita harus tahu bahwa hidup itu sarat dengan perjuangan. Kapan perjuangan itu berakhir? Ketika kita tidak lagi hidup. Aku harus tetap berjuang meski dalam pengertian yang lain. Berjuang melepaskanmu, berjuang mengikhlaskanmu, berjuang melawan rasa ini, berjuang melupakanmu, hingga akhirnya harus berjuang menerima seorang penggantimu kelak.

Tidak ada usaha dan perjuangan yang berarti tanpa sebait doa dan pengharapan. Begitupun sebaliknya. Ketika aku sudah tidak lagi bisa berbuat apapun selain memanjatkan doa, aku selalu memohon pada Tuhan, bila kami memang dilahirkan untuk berjodoh, dekatkanlah kami dengan cara yang baik, bukalah restu dari keluarga kami, dan persatukan kami dalam ikatan yang halal. Bila kami dilahirkan sebatas sebagai saudara sedarah dari Adam, tolong samarkan dan hapuskan rasa ini, karena aku tahu rasa ini adalah anugerah dari-Mu, yang akupun tidak mampu jika harus menghapusnya sendiri. Dan terimakasihku pada-Mu Tuhan, telah memberikanku pelajaran dan pengalaman hidup seberarti ini.