Hai.. apakabar dunia??

Rasanya baru kemarin bercerita tentang sakit. Sakit hati yang memilukan. Namun sekarang sudah bangkit kembali. Dengan sisa potongan hati yang bahagia. Ini sebuah perjalanan, hidup tidak selama bahagia, tapi hiduppun tak selamanya sedih. Bermula dari entah dari mana ceritanya, orang-orang berhilir mudik masuk kedalam kehidupanku setelah dia yang sekarang telah menjadi mantan kekasihku. Kini, Tuhan menghadiahkan kepadaku sosok yang datang kepadaku disore sebelum senja, menyapaku dengan hangat .

Sosokmu jauh, tak bisa kulihat setiap harinya, dia jauh disana, dia sedang berjuang untuk masa depan. Aku pun tak berbeda sedang berjuang dengan caraku. Kami sama-sama menjaga hati kami, sampai waktu indah itu datang. Lelaki ini tak sempurna, dia tak setampan “omesh” atau lelaki masa kini seperti “Rio Dewanto atau Joy Taslim” tapi dia tampan menurutku, tampan ketika dia tersenyum, tampan ketika dia sedang sabar, tampan ketika dia sedang menasehatiku. Lelaki ini dewasa, sabar, dan pekerja keras. Aku tak tahu, apakah dia yang dilahirkan akan bersamaku, tapi keyakinan yang entah datangnya dari mana ini yang selalu membuat aku tetap bertahan, bertahan untuk menunggunya datang kepelukanku. Dia selalu terlihat sempurna ketika egois sedang membalut otakku, dia datang dengan kesabarannya membuatku tentram, dia bisa menjadi seperti es ketika tubuhku memanas. Dia bisa menjadi malaikat tanpa sayap ketika aku butuh bantuan. Dia yang menjagaku dari jauh.

Kau jauh, kau tak tampak, tak bisa kuraih tanganmu, tak bisa kulihat senyummu, tak bisa bahumu kusandari, namun semangatmu selalu sampai di tubuhku. Padahal, kau tak pernah menjanjikan sesuatu apapun padaku, aku merasa semua berjalan cepat, waktu tak terasa berlari mengejar hari-hari. Kau tahu, semangat yang selalu kau berikan hanya lewat layar handphoneku itulah yang membuatku merasakan hari-hari bahagia. Entah ini keyakinan macam apa, tapi jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, jauh bayangan saat mataku terpejam, jauh ke dalam doa yang paling khusyuk, selalu kau yang nampak disana. Entah ini akan menjadi cerita yang seperti apa, tapi sungguh aku cukup bahagia hanya dengan kalimat yang setiap pagi tanpa lupa kau kirimkan lewat handphoneku. Kalimat sederhana yang artinyanyapun sederhana, tapi bermakna besar untuk aku menjalani hari. Kalimat yang hanya sepenggal yang tertulis “jangan lupa senyum hari ini” itu membuat aku bisa berbahagia dan semangat dalam menjalani hariku.

Sejauh ini aku selalu berusaha membenahi diriku, dari sisa-sisa kepedihan yang sudah mulai hilang berkatmu. Aku mulai bangkit, aku belajar bagaimana menjadi perempuan yang pantas mendampingimu kelak. Aku tak suka pakai rok, rok selalu membuatku susah bergerak, tapi demi terlihat lebih menarik didepan matamu, aku belajar bagaimana aku mengenakannya secara pantas. Aku tak bisa memasak, bahkan memasak mie instan saja bisa rasanya tak enak jika aku yang membuatnya, tapi aku tak menyerah aku mencatat berbagai resep di media online dan aku belajar mempraktekannya, ini aku persiapkan untukmu kelak jika kita bertemu. Muka yang biasanya hanya polos begitu saja tanpa make up sedikitpun, kini aku belajar melalui tutorial-tutorial di youtube bagaimana caranya merias wajah dengan benar, aku ingin ketika kau melihatku nanti, aku merasa lebih menarik, dan kau suka. Meski kau tak pernah memintaku untuk berubah, aku hanya ingin bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Aku selalu mempraktekan apa yang kau pesankan setiap pagi, selalu tersenyum kepada setiap sudut pandangan. Ketika, teman membutuhkanku, aku selalu belajar menjadi wanita yang tidak menolak untuk membantu, begitu yang kau contohkan untukku. Aku hanya ingin kau bangga telah memilihku.

Advertisement

Jarak ini tak bisa kita tempuh dalam waktu singkat. Butuh tiga kali penerbangan untuk sampai di tempatmu. Sering ketika kau telah lelah aku sedang bersemangat-semangatnya untuk berbagi cerita. Kala aku tertidur lelap, kau telah siap dengan pakaian kerjamu untuk menjalani harimu. Tapi dengan perbedaan itu, aku bersyukur karena kau tak pernah mengeluh, kau tak pernah membuatku risau. Kau selalu meyelipkan pesan di sela-sela jam kerjamu yang padat, entah hanya memberikan kalimat sederhana yang kadang membuat hariku lebih bahagia. Kau sering membuat moodku yang tak baik jadi ekstra baik, malasku selalu kau rubah menjadi semangat. Jarak ini memang jauh, wajahmu memang tak bisa kulihat dekat, tanganmu tak bisa ku raih, tubuhmu tak bisa kupeluk, tapi aku tak pernah merasa bahwa kau jauh, aku selalu merasa kau ada di dekatku, kau ada disampingku, berbicara, berbisik, berdendang di telingaku. Kau ada di sebelah jiwaku.

Terimakasih telah menyelamatkanku dari sepinya waktu dan jalan yang terasa buntu. Aku akan terus menunggumu sampai kau datang memberikan pelukan. Waktu yang indah itu akan segera mengejar hari-hari kita, maka bersabarlah. Meski aku tak tahu apakah kau yang menjadi jawaban atas doa-doaku selama ini atau bukan, tetap berjuanglah. Tuhan tak akan diam untuk kita yang berusaha. Jika kau merindukanku, sampaikanlah kepada Tuhan, Dia akan membisikannya padaku.