Apa kau ingat?!

Hari ini. Tepat dua tahun bilangan kalender merangkum setiap jengkal kisah kau dan aku, seandainya saja waktu itu kita tidak berpisah, aku bisa menjamin, hari ini akan jadi salah satu selebrasi mengesankan dalam hidupku.

2 tahun sudaah aku mencintaimu. Dan Nampaknya itu tidak berhenti. Bahkan hingga kini…

Harusnya malam ini kita berada di salah satu resto mewah untuk merayakannya, mengenang kembali bagaimana waktu itu, via telepon, kita saling mengungkapkan cinta. Dan keesokan paginya, kita bangun dalam status yang berbeda. Dengan komitmen yang telah mengikat jari-jari kita. Aku tak tau sejak kapan aku mencintaimu, yang kupaham, setiap hari aku jatuh cinta padamu. Pada matamu.

Namun hari ini tak ada bahagia yang bisa kita ceritakan. Tak ada pesta, tak ada perayaan, tak ada yang bersisa dari persahabatan manis kita yang kemudian kita bungkus rapi dengan gemerlap cinta, tak ada apa-apa selain keberpisahan yang menyakitkan.

Sejujurnya, aku tak pernah benar-benar ingin melupakanmu…

Advertisement

Tidakkah pesan itu sampai?

Ahh… rasa-rasanya aku sudah sangat jauh melangkah. Di belakang sana… kita tertinggal di belakang sana, dan akhirnya memutuskan sendiri bahwa langkah kita nantinya tidak akan lagi saling bersisian. Dan percayalah, kau membuatku merasa sangat kehilangan.

Lalu keadaan menempatkan kita berdiri sebagai dua kubu yang bersebrangan, parahnya kemudian, kita saling menyerang. Layaknya adegan di film-film laga, kita bergumul untuk saling menjatuhkan!

Kenapa ini?!

Bukankah dulunya kita saling menjaga untuk tidak melukai?

Lantas jika benar, sungguh ingin kutanyakan padamu; “untuk bagian manakah kau merasa pantas untuk menjatuhkanku?”

Tak lihatkah Kau bahwa kita sama-sama terluka?!

Tapi sudahlah, anggap semua ini salahku saja.

Dan ya, Maafkan Aku jika melupakan banyak kata yang sejatinya telah dengan sadar kujanjikan. Ampuni jika ada beribu pengakuan yang tak pernah sempat kuutarakan. Jika sudah saatnya kita berdiri di akhir, aku berharap semoga Tuhan senantiasa menjagamu, memberimu bahagia, sebagaimana yang kau harap selama ini…

Mungkin aku terlalu sibuk dengan diri dan penderitaan, hingga tak pernah sadar, engkaulah yang sejatinya ikut menderita di sisiku. Ketahuilah; Aku melepasmu bukan karena kehabisan alasan untuk mencinta, namun karena kutau bahagiamu tak akan terwujud jika kau tetap bersamaku.

Pergilah… setiap luka akan mendewasakan kita.