Selepas masa sekolah, semua orang mulai berkhayal tentang diri mereka di masa depan. Ingin kerja apa? Ingin kerja di mana? bahkan ingin kerja seperti apa. Pada dasarnya semua orang mempunyai khayalannya sendiri. Ada yang berdarah-darah menyempurnakan khayalannya. Ada juga yang memilih jalur lain karena alasan realita.

Dari semua orang yang mempunyai khayalan, ada yang sudah menyempurnakan khayalannya sehingga ia bisa menjabarkan didepan pewawancara atau keluarga sendiri. Sayang sekali ketika sampai menginjak kepala dua masih belum bisa menjabarkan khayalannya itu. Sehingga yang bisa dilakukan hanyalah mengikuti arus dan luntang-lantung terus menerus. Melihat temanmu sudah memiliki visual tentang dirinya, sedangkan kamu hanya bisa terdiam, bukannkah itu sangat menyiksa?

"Tidak ada sesuatu yang bisa aku banggakan. Aku hanya terus dibully oleh temanku yang sudah atau sedang menyempurnakan khayalannya."

Rasa penyesalan itu pasti ada. Sungguh menyesal kenapa sampai sekarang aku belum bisa menjabarkan tentang diriku sendiri. Siapa aku sebenarnya? Apa yang aku inginkan dan apa yang aku cari. Sepanjang sekolah hanya diajarkan ilmu-ilmu bersifat ilmiah. Sedangkan ilmu yang bersifat filosofi dan spritualitas diri harus ditemukan sendiri. Mencari sendiri tanpa ada estimasi waktu yang jelas. Terkadang aku bertanya, Sampai kapan aku terus mencari?

Apakah aku harus berdiam saja lalu mengikuti perkataan orang. Membiarkan orang lain mengambil alih kita? Saat seperti itu aku gak bisa membedakan mana bala bantuan dan mana yang namanya doktrinisasi. Kegelisahan itu membuatku tidak bisa berpikir jernih. Rasa bersalah dan iri menghantui selalu. Aku selalu dihantui apa bisa pertanyaan gambaran 5 tahun kedepan belum bisa aku jawab. Opsi terburuknya adalah aku masih saja menjadi orang yang sama pada 5 tahun mendatang. Tidak ada kemajuan pesat dalam diri, hanya angka usia terus bertambah berbanding lurus dengan kehampaan.

Advertisement

Tuhan, aku ingin sekali menemukan jati diriku sebelum memasuki masa dewasa. Masa di mana orang sudah berfokus pada karir dan capaian hidup mereka. Masa di mana hal-hal bersifat realistis mendominasi kehidupanku.

Satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padaMu

"Rencana apa yang Kau berikan padaku?"

Kau tidak akan memberi jawaban secara langsung atau memberikan definisi dalam bentuk diklat kuliah. Hamba-Mu ini hanya ingin menemukan jati diri agar dalam 5 tahun ke depan bisa melakukan sesuai apa kehendakMu.