Sayang, kau memang bukan orang baru sekali dalam duniaku. 10 tahun yang lalu aku mengenalmu, hanya tahu namamu. Dan aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku tidak pernah membayangkan lebih, tidak juga berharap lebih, karena aku tahu kau telah punya kekasih yang selalu kau dampingi kemanapun ia pergi.

Sayang, Masa SMA kita yang penuh kenangan indah pun berlalu begitu saja. Kau dan aku juga tak saling sua, 5 tahun lamanya. Aku bahkan mulai lupa, ada namamu diantara deretan alumni sekolah kita. Hingga seseorang menikah, dan kita bertemu lagi pada momen teman kita yang indah…..

Sayang, aku seperti amnesia tentang apa saja yang telah terjadi hingga kita memutuskan menyusul mereka yang telah lebih dulu berumah tangga. Ya, aku memang tahu siapa namamu, tetapi tidak cukup mengenalmu. Sayang, bahkan aku khawatir kau tak tahu nama panjangku saat hendak mengucap akad. Syukurlah, semuanya berjalan lancar.

Sayang, kini 3 tahun telah berlalu dan kita dikaruniai seorang putri. Tetapi aku merasakan sesuatu dalam dirimu tidak berubah. Kecuekanmu, ke"tidakpedulianmu", dan kesibukanmu telah menjadi musuh dalam hari-hariku. Kau begitu sibuk dengan duniamu bahkan lupa artinya berkabar. Kau tidak pernah membalas pesanku sekalipun jarak kita terpisah 3000 kilometer jauhnya.

Sayang, tahukah engkau makna sebuah komunikasi? Aku berusaha mengertimu, bahwa di dunia ini memang ada pria yang super duper slowly sepertimu, yang saling percaya saja kau rasa sudah cukup mewakili apa yang disebut cinta. Tapi tahukah kau, sayang? Aku sebagai wanita butuh sedikit saja perhatian dan setidaknya ucapan selamat pagi dari pria yang kucintai.

Advertisement

Sayang, akankah kau membaca ini? Andai saja kau luangkan waktumu……

Guangzhou, 19 Desember 2016