Kehancuran datang justru dari lelaki yang dulu menjadi idaman. Awal yang santun, ramah, dan pandai membuatku luluh tanpa menunggu waktu lama. Kupikir ia datang dengan segala penerimaannya kepadaku, perempuan yang hidup dekat dengan kematian karena lupus bersemayam di tubuhku. Kupikir ia adalah pilihan yang sangat tepat karena mendukungku, menyayangiku, dan menjaga hatinya untukku.

Kupikir saat keluarganya mampir ke rumah, jadi awal untuk akhir yang membahagiakan. Kupikir kepandaiannya membimbingku dalam hal akademik akan membimbingku ke sebuah rumah tangga yang indah. Kupikir dengan dianggapnya di keluargaku membuat ia akan menghormati keluargaku.

Rupanya salah. Santunnya hilang bahkan biasa saja saat membuat ibuku terisak. Egonya begitu besar saat ia membentak adikku yang mencoba membelaku. Tinggi hatinya luar biasa hingga beradu argumen dengan bapak ia anggap seperti lawan debatnya. Sebenar-benarnya alasan membela dirinya, tetap tidak benar jika keluargaku disakitinya.

Bodohnya, aku diam. Keluargaku memaafkan karena tahu aku begitu menyayanginya. Lalu, ia pergi tanpa berpamitan. Ia benar-benar pergi tanpa persetujuanku dengan alasan akan mencari pekerjaan di ibukota. Aku merelakannya. Satu minggu tanpa kabar sedikitpun, kemudian aku menerima pesan singkat tepat di hari ulang tahunku. Ucapan ulang tahun yang kunanti baru datang pukul enam sore.

Ucapan itu kemudian kubalas dan berlanjut kata berpisah darinya. Aku tak percaya, tapi itu kenyataannya. Alasannya begitu naif, ia merasakan ketidakcocokan dengan orangtuaku. Ketidakcocokan setalah empat tahun lamanya bersama, ketidakcocokan setelah dua keluarga berjumpa, ketidakcocokan setelah semuanya aku dambakan akan menjadi kisah abadi yang indah. Aku menangis semalam. Ibuku hanya berpesan bahwa Tuhan telah mempersiapkan gantinya yang lebih segalanya. Kupegang itu dan aku mencoba move on.

Advertisement

Aku membatasi komunikasi dengannya, supaya tidak terombang-ambing dalam keraguan. Aku tersadar bahwa lelaki yang kukagumi sudah berkali-kali menyakiti keluargaku. Aku seperti terkena balasan akibat kedurhakaanku. Aku mengenal beberapa lelaki lain tapi tak kunjung merasakan kecocokan sampai aku memutuskan untuk santai dan menunggu jodohku tiba. Aku sempat berpesan kepada orang tuaku untuk memilihkan jodoh yang pas. Maaf sempat datang darinya, lama setelah kenangan itu terjadi. Aku dan keluarga menerima maafnya saja, bukan lagi cintanya.

Kesendirian kuisi dengan banyak berkomunikasi dengan sahabat-sahabatku yang lama kuabaikan. Keluarga kembali aku jadikan prioritas utama. Aku fokus pada kegiatan sosial dan wirausaha. Rasanya aku kurang bersyukur saat itu. Sahabatku, bahkan sejak usia SD hingga SMA semuanya begitu baik dan tak nampak karena aku sibuk dengan duniaku.

Rasa bersalahku mendekatkan lagi aku dengan mereka. Aku semakin diliputi rasa bersalah saat satu sahabat SMAku meninggal dunia di usia yang begitu muda. Tanpa tahu pasti kabar terakhirnya, padahal kesempatan bertukar kabar itu ada, hanya aku malas menyapa. Keadaan itu membuatku lebih memaknai hidup. Di depan jasadnya, aku hanya berkata dalam hati, aku menyesal selama ini aku tidak peduli sahabat sebaik ia.

Pemakaman akan segera dimulai tapi aku harus pulang sebelum selesai proesinya. Di ujung pintu, di antara jajaran teman-temanku SMA yang lain, aku masih sempat bersalaman dengan salah satu teman lamaku. Di antara teman-teman pria lainnya, wajahnya paling sendu karena kesedihannya. Ia juga salah satu sahabat dekat almarhumah, hanya saja aku sekedar kenal.

Wajah itu, mengingatkanku pada masa putih abu-abu lalu, saat ia berlari dari kelas sebelah dan berpapasan denganku di muka pintu. Wajahnya masih sama, menyiratkan suatu ketulusan. Bola matanya yang cokelat menghindari silaunya terik matahari saat menjabat tanganku.

Sorenya, invitasi pertemanan BBm kuterima, ada mengirimkan pesan singkat. Oh, rupanya dia. Kupikir sapaannya hanya berhenti saat aku berpamitan. Aku yang sedang berada di ruang tunggu rumah sakit menyambut senang pesannya karena saat itu aku pergi seorang diri. Rupanya ia masih mengingatku. Ngobrol sana-sini termasuk membahas apa itu lupus mengalihkan sepinya ruang tunggu.

Ternyata ia begitu baik hati. Ia berjanji mentraktirku eskrim dalam rangka ulang tahunnya. Aku yang menjemputnya karena rumahku sejalan dengan rumahnya. Dari situlah aku mengenal sosok yang kini menjadi pelabuhan hatiku. Aku tidak serta-merta mencintainya karena traumaku begitu besar. Berbeda dari sebelumnya.

Pria ini menghargai perempuan, tidak pernah mau berkunjung hingga larut malam, tak banyak bicara tapi mengungkapkan keseriusannya. Aku kembali jujur dengan kondisiku. Aku botak karena lupus, jalan dengan kaki terseok, mukaku membulat gemuk sedangkan tubuhku kurus kering lagi-lagi karena lupus. Ia menyatakan cintanya tepat saat aku dalam kondisi terburuk, kematian bisa datang kapan saja menghantarkan ia pada kesendirian.

Aku tak bisa membohongi diriku, aku nyaman di dekatnya tanpa berani untuk menjalin hubungan lebih dari teman. Keluarganya menerimaku dengan baik. Ibunya sangat toleran akan kondisiku. Namun, sikap baiknya dan keluarganya tak disambut baik oleh ibuku dengan alasan trauma. Sampai aku mundur teratur dan ia siap menanggalkan rasa cintanya padaku.

Toh, kami juga bukan pacaran. Terus terang, aku tak mau menghalanginya mencari isteri, karena saat itu ia sudah mengatakan bahwa dirinya berniat menikah setelah sakit hati berkali-kali. Tujuannya jelas untuk masa depan. Di saat yang sama, sosok-sosok masa lalu muncul mendekati lagi. Adapula sosok baru yang berusaha lebih mengenal tapi aku belum bisa ingkar. Aku hanya pasrah dengan banyak berdoa. Aku prioritaskan keluarga baru bahagia. Aku dan dia sama-sama berjanji untuk tetap memantaskan diri, fokus pada tujuan hidup tanpa terburu-buru memutuskan sesuatu, berpegang teguh bahwa Tuhan berkuasa di atas segalanya. Jika jodoh tak lari kemana, jika tak jodoh digenggam pun tak akan bisa.

Suatu malam aku dipanggil di depan keluargaku. Ada bapak, ibu, dan adik, mereka menanyakan apa kabar hubunganku. Keseriusanku dipertanyakan dan pernikahan akan segera dilangsungkan. Tangisku pecah, justru pada akhirnya aku merasa tak yakin pada pilihanku. Kupikirkan matang-matang dan aku mengajaknya bertemu membahas hal ini. Rupanya ia tak mau menyerah. Bayang-bayang lupus dan biaya perawatan yang tak sedikit, tak menyurutkan niatnya. Bukan karena kaya raya atau penghasilan puluhan juta, melainkan karena keseriusannya ingin membawaku pada keluarga yang penuh berkah.

15 Mei 2015, tiga bulan setelah persiapan, kalimat akad diucapkannya, aku resmi menjadi isterinya. Rasanya seperti mimpi, tangis haru mengiringi. Ia suamiku, Fajar. Sesuai namanya, ia akan menjadi fajar untuk hidupku, yang terang tetapi sejuk. Ia juga pelindungku dan tempatku bersandar. Aku pun berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Jauh dari kata romantis, Fajarku, menguatkanku saat aku gundah, berjalan bersama saat ujian datang menerpa.

Aku merasakan kekuatan cinta yang besar, justru saat Tuhan menyajikan begitu banyak ujian yang harus diselesaikan, terlebih saat menghadiahkan Riffan, buah cinta kami yang pertama, usianya hanya 14 hari setelah kelahiran prematurnya. Fajarku, mengingatkan bahwa kehilangan akan digantikan dengan kebahagiaan. Kalimatnya membuatku sadar bahwa aku harus melanjutkan hidup. Ia mengajarkan kesederhanaan, melepas tanpa mengharap kembalinya. Ia mengingatkan bahwa rezeki tak akan pergi, sama seperti saat aku nyaris melepasnya, tapi Tuhan hadirkan waktu yang lebih baik.

Kini aku memiliki cinta yang utuh tanpa cela. Cinta yang penuh syukur, cinta yang tak lupa terus belajar. Cinta yang selalu mengejar berkah dan anugrah. Cinta sebuah keluarga kecil milikku, suamiku, Riffan yang telah tiada, dan calon buah hati dalam rahimku. Aku telah sadar bahwa pria di sampingku kini jauh lebih kaya hatinya. Tuhan telah menganugrahkan sebuah keindahan yang luar biasa. Berpijak pada keimanan dan kesederhanaan, aku temukan bahagia yang sesungguhnya.