Aku hanya punya satu tempat pulang, pundak Mama.

Seperempat sudah aku hidup. Aku masih anak kecil yang biasa kau kempit di dalam peluk hangat itu. Saat itu siangnya panas sekali, aku pergi. Dengan lantangnya di depan mu, aku bilang pasti ada satu yang bisa aku takhlukkan di dunia ini–sampai sekarang hal apa itu, aku masih belum tahu.

Yang aku tahu, bahwa aku masih tidak bisa mengalahkan diriku sendiri. Egoisku masih setinggi gunung, amarahku seperti danau toba yang tidak pernah kering, tapi mimpiku, ketika sadar hidup itu keras, mimpi itu hanyut di bawa hujan semalam.

Kadang, hidup sederhana seperti milikmu begitu memikatku, pagi menanak nasi untuk anak-anak mu, siang engkau mengajak kami tidur menggalau mimpi kecil, dan tiap malam, engkau mengalahkan rimba yang hampir menelan rumah kecil keluarga kita. Sebuah kisah walaupun seukuran album foto kecil, tapi itu lebih mahal, bahkan gajiku seumur hidup masih belum mampu membelinya.

Tiap tahun, pas tanggal merah, aku berdesak-desak dengan orang-orang yang sama sepertiku–merindukan ibunya pulang kampung. Sedikit berat membawa oleh-oleh dari perantauan–berharap engkau akan bangga.

Advertisement

Tapi, saat aku salim mencium tanganmu yang kokoh, aku menemukan kekosongan yang selama ini lama aku tinggalkan. Membiarkan mu hanya seorang diri mengurus benteng tua kita, sebuahb kamar yang hanya engkau pandang setiap jelang malam.

Engkau bilang, bukan buah tangan ini yang membuat dia bangga. Tapi, atas aku-putri kecilnya yang sudah bisa duduk dan tahu jalan pulang–menuju tempat duduknya sekarang. Tidak ada anak yang akan tersesat ketika ingin pulang pada Mamanya.

Buk, ayo kita hidup bahagia!