Nenek kakek, teruslah ada di sini sampai nanti. Sabarlah dan tetaplah sehat, setidaknya sampai nanti kubawa kalian ke sini untuk melihatku memakai toga atau bahkan menemaniku selalu sampai di masa-masa suksesku yang akan datang.

Tak terasa waktu berjalan, setiap detik yang terlewatkan dengan kalian seakan terasa begitu cepat, membuatku tersadar bahwa kini kutelah beranjak dewasa. Dan saat inipun kudapati bahwa kalian semakin menua di usia senja.

Nenek kakekku, mungkin aku adalah satu dari berjuta cucu yang beruntung, karena hingga saat ini kumasih diberikan kesempatan untuk menyaksikan tawa dan bahagia kalian. Iya tawa itu yang membuat semakin terlihat lucu saat kalian tertawa dengan menutup mulut, karna gigi kalian yang mulai tanggal.

Nenek kakekku, betapa bahagianya diriku masih memiliki kalian berdua yang utuh hingga sampai saat ini. Banyak dari temanku yang mereka tak mampu lagi melihat simbah mereka yang telah berpulang. Di usia senja yang saat ini kalian sandang, namun nenek dan kakek masih berusaha membahagiakan anak cucu yang dimiliki.

Nenek kakekku, ingin kupengang erat tangan kalian, sebagai tanda aku yang tak ingin kehilangan kalian. Meski terasa jelas di tanganku keriput itu, takkan memudarkan kasih sayang dari kalian. Tidur di pangkuan kalianpun adalah salah satu kenyamanan yang kudapat selain dari ibuku, kalian adalah orangtua yang kumiliki setelah ibu.

Advertisement

Aku rindu, saat setiap pagi nenek selalu ribut mempersiapkan sepiring nasi yang dibuat untuk penghantar awal pergi ke sekolah. Nyala api tungku memberikan kehangatan sehangat teh yang dibuatkan. Bunyi seduhan teh membuatku tak ingin cepat beranjak pergi untuk kesekolah. Dan kini, di saat aku ditempatku menuntut ilmu yang jauh dari nenek, membuatku rindu semua hal tentangnya di rumah.

Dekapan hangat kasih sayang dari belaian tanganmu, masih terasa ketika aku jauh dari pandangannya. Lantunan doa dari bibirmu masih kuingat jelas bagaimana engkau mengucapkannya, serta lembutnya sambut dari tanganmu, saat kucium masih kurasakan dengan jelas meski kini tak mampu kulakukan setiap harinya lagi. Itulah yang membuat mengapa aku ingin segera pulang untuk kembali melihatmu. Teringat jelas pula bagaimana kesabaranmu menghadapi cucumu yang tak penurut, aku rindu nenek saat aku jauh.

Begitu pula kakekku, betapa beruntungnya aku masih dapat melihat beliau yang kini telah berusia 72 tahun. Kakek, betapa ku banyak belajar arti kesetiaan dari engkau yang dalam usia senja, hatimu hanya tetap berlabuh untuk satu orang. Betapa kubahagia melihat kehangatan perlakuanmu saat bercanda dengan istri, anak, dan cucu-cucumu. Kasih sayangmu selalu terlihat saat engkau terus mengkhawatirkanku, membatasiku dengan larangan-laranganmu untuk kebaikanku, dan menegurku disaat aku lalai akan kewajibanku.

Teringat saat aku belia, bagaimana sabarmu mengajarkanku satu surat dalam alkitab, aku yang mengeluh karena lelah dan engkau yang selalu mengatakan "sedikit lagi selesai nduk", padahal masih ada berpuluh ayat yang harus kuselesaikan. Betapa engkau sangat berusaha untuk membuatku menjadi orang yang luar biasa. Kakek, terima kasih dulu pernah berlari demi membuatku bisa melangkah sendiri. Aku teringat bagaimana nafas itu bersuara sebagai tanda lelah, saat dulu engkau bersusah payah mengajariku naik sepeda.

Saat besar kini kuingat masa itu dan aku merasa menjadi orang yang jahat membiarkanmu lelah karnaku. Betapa bersyukurnya aku memiliki lelaki hebat, iya lelaki hebat pengganti ayah yang dianugerahkan tuhan untukku. Peranmu menggantikannya sebagai sosok laki-laki yang dapat aku banggakan hingga saat ini. Mungkin ini cara Tuhan, meski Tuhan telah menjemput ayahku terlebih dahulu, Tuhan telah mempersiapkanmu untuk berganti peran menjagaku.

Dan lagi, kali ini aku harus menuntut ilmu yang jauh dari pandangan nenek dan kakek. Kali ini dengan sabar kuajarkan kalian agar mampu memakai telepon genggam, supaya dari sini aku bisa tau bahwa kalian baik baik saja. Meski kutak dapat berkirim pesan karna nenek kakek tidak bisa mengoperasikan membuka pesan, setidaknya nenek kakek tau tombol mana yang harus dipencet untuk mengangkat telepon. Terkadang lucu aku membayangkannya dari sini, bagaimana sibuknya kalian mencari tombol itu saat dering telepon menyala.

Yaa Tuhan, buatlah nenek kakekku terus dalam lindunganmu.