Mungkin sudah jutaan tetes air mata yang terjatuh, mewakili rasa di dalam hati. Ribuan do’a yang telah ku ucap sia-sia, Jutaan waktu yang telah terbuang percuma. Ketika aku tahu harapku telah pupus sempurna. Tak ingatkah kau akan pengorbananku, perjuanganku menemanimu, mendaki meraih mimpi membantumu bangkit disaat terjatuh, melebarkan sayapmu agar kau bisa terbang bagai elang.

Mengapa kini kau pergi setelah kesuksesan kau dapati. Pernahkah kau berpikir, ini tak adil bagiku. Adakah sedikit rasamu bagaimana jika menjadi aku. Haruskah aku benturkan kepalamu agar kau ingat bagaimana dulu peluhku untuk memperjuangkanmu. Kau pergi tanpa memikirkan bagaimana aku disini, kau pergi meninggalkan janji dimana kau akan balik berjuang disaat aku secenti lagi meraih mimpi. Andai kau bisa sedikit saja untuk bersabar cerita kita tak 'kan berakhir dan bubar.

Ohh.. ini sungguh tak adil bagiku.

Belum kering luka yang kau sayat di hati, kau goreskan kembali luka itu dengan belati.

Setelah kau pergi tanpa permisi kini kau bawa dia di depan mata secara nyata. Sempat aku bertanya, bagaimana bisa secepat dan semudah itu kau berpaling hati kepadanya? Jawaba mu begitu singkat seakan ia tiada cacat, kau bilang dia yang bisa membuat mu nyaman kau bilang dia yang bisa memberi mu banyak perhatian.

Advertisement

Ohh… Tuhan.

Alasan macam apa itu yang ia sebutkan???

Bagaimana bisa tiga tahun kita jalan beriringan jika alasan mu meninggalkan ku karena aku tak bisa membuat mu nyaman?

Bagaimana bisa selama tiga tahun aku memperjuangkan jika tak ada sedikit pun aku memberi perhatian?

Jelas.. Alasanmu tak masuk dalam akal dan pikiran.

Yang aku tahu, semenjak kau berhasil menggunakan seragam yang kau impikan, semenjak itu pula perubahan mulai kau tampakan. Kau selalu membangga-banggakan seakan dirimu pria yang paling tampan. Kau selalu tebar pesona pada setiap tatap wanita. Ah.. dirimu memang sudah keterlaluan

Benar pepatah lama yang mengatakan.

“Kesetiaan wanita diuji ketika pria tak memiliki apa-apa, sementara kesetiaan pria diuji ketia ia telah memiliki segalanya”

Pepatah itu kini nyata adanya, amat jelas membuat ku membuka mata. Pada akhirnya kaulah yang tak setia kau yang tak mampu melewati ujian-Nya. Kini enam bulan berlalu atas kepergian mu. Tak ada lagi air mata duka, taka da lagi penyesalan atas kepergiannya. Meski butuh banyak waktu untuk sembuhkan luka dan menghabiskan banyak cara untuk bangkit lebih kuat dari sebelumnya tapi aku mampu melakukannya dengan sempurna.

Andai kini ada yang bertanya, bagaimana caraku melakukannya?

Maka cukup bersujudlah, kelak kau akan tahu jawaban terbaik hanya ada dengan kembali kepada-Nya.

Iya… kini aku telah melangkah.

Aku telah pergi jauh untuk berhijrah. Membuang kenangan dan luka, membuang cerita yang telah kurangkai 3 tahun lamanya. Kini aku disini berdiri tegar sendiri, menapaki jalan baru dengan memperbaiki dan memantaskan diri. Tak ada lagi yang aku sesali, tak ada lagi yang aku tangisi.

Hanya ada rasa syukur di dalam hati karena akulah wanita yang pernah sabar menemani seseorang mendaki, akulah wanita yang dengan ikhlas membiarkan ia pergi.

Pada akhirnya telah aku pasrahkan semua pada sang ilahi rabbi, karena setiap perbuatan pasti akan ada balasan. Aku tidak mempercayai akan adanya karma, namun aku meyakini balasan Allah itu nyata adanya balasan dari sang maha pemilik keadilan yang sesungguhnya.