Wahai lelaki calon imamku kelak, aku begitu mempercayaimu sampai tidak ada sedikit celah untuk mencurigaimu, meski sebenarnya jauh di dalam hatiku masih ada ketakutan akan hubungan pertemanan kalian bukan hanya sekedar pertemanan semata. Namun kejujuranmu saat awal pertemananmu dengannya memantapkan kembali rasa percayaku terhadapmu.

Kamu bilang “aku sama dia ga ada hubungan apa-apa, Cuma sekedar teman curhat. Dia tau kamu pacar aku dan tau kita udah serius menuju ke pernikahan”.

“Tapi taukah kamu calon imamku, bahwa tidak ada pertemanan yang murni antara perempuan dan laki-laki.”

Ketakutan demi ketakutan dan rasa curiga akan hubungan kalian semakin lama semakin mengguncang batinku. Kejadian yang aku takutkan benar-benar terjadi. Kalian bermain dibelakangku dengan luwesnya. Entah sudah berapa lama kalian berdampingan dengan perasaan kalian masing-masing. Entah apa yang ada dipikiran kalian saat itu, saat kalian mengkhianati kepercayaanku.

Kalian tau apa yang aku rasakan saat ini? Sakit, iya sakit yang begitu dalam bagai di sayat belati yang tajam tiada tertandingi. Untuk kejadian ini aku tidak mau menyalahkan siapapun, mungkin memang aku yang begitu mempercayaimu calon imamku, mungkin memang aku yang begitu mempercayaiamu teman wanita calon imamku. Atau mungkin memang aku yang begitu bodoh.

Advertisement

Coba kau ingat kembali calon imamku dengan waktu pacaran yang tak sebentar yaitu 8 tahun lamanya, sudah begitu banyak hitam putih yang kita jalani bersama, sudah begitu banyak harapan-harapan Indah yang sudah kau janjikan kepadaku, sudah begitu banyak rencana-rencana Indah yang kita buat bersama. Tapi dengan mudahnya kau hancurkan itu dalam hitungan detik.

Aku dan kamu lelaki calon imamku, kita sama-sama pernah melakukan kesalahan, sama-sama mencoba berpaling ke hati yang lain, dan akhirnya kita dipersatukan kembali. Namun untuk cerita kali ini apakah kita akan dipersatukan kembali? Hanya Tuhan yang pegang kuncinya.

Orang bilang kalau hubungan sudah mau langkah ke jenjang yang lebih serius banyak cobaannya, harus kuat-kuat aja buat pertahanin hubungan kalian.

Tapi sekuat-kuatnya aku kalau harus berjuang sendiri mana bisa aku bertahan. Aku hanya wanita yang juga manusia yang punya rasa kuat untuk bertahan yang terbatas.

Dan untuk kau teman wanita calon imamku, coba kau sedikit merasakan berada diposisiku saat ini, merasakan kerapuhanku saat ini, merasakan kekecewaanku saat ini. Bukankah kita sama-sama perempuan, bukankah kita sama-sama berperasaan? Untuk itu cobalah sedikit berempati kepadaku. Pikirkan bagaimana kelak calon imammu pergi bersama wanita lain.

“Aku anggap ini adalah sebuah cobaan, cobaan ini sungguh sangat menguras waktu, emosi dan tenagaku”

Doakan saja aku tetap terus tegar dengan apapun yang terjadi terhadapku.