Bukankah kamu pernah membaca,

Bahwa mencintai dan bertahan untuk tidak mengungkapkan, untuk tidak memiliki, untuk tidak melanjutkan apapun dari sesuatu yang kau namakan ketulusan, adalah hal yang lebih menyakitkan daripada patah hati. Sebelum kamu, mungkin aku pernah mengalaminya.

Mengingat kembali dirimu yang kemarin sedang berjalan dalam siklus slow motion dan menikmati semua yang kalian lakukan bersama. Itu semua hanya ada di akhir hari. Kemarin kita hanya tertawa seperti dua orang anak kecil yang melihat badut disebuah taman bermain. Kita tidak kenal lelah mencoba menerbangkan layangan meski bukan musimnya. Kita lalu berlari, saling mengejar tanpa perlu takut untuk tidak menemukan. Kita tidak peduli akan hal yang mengganggu keasyikan kita, yang mereka pandang aneh, justru semakin kita lakukan.

Kuteguk kembali kopi hitam di senja hari. Kala mengingatmu yang merasakan pahit, bukankah kopi pun nikmat karena rasa pahitnya.

Dan tiba saatnya, kita menjadi orang seperti kebanyakan mereka diluar sana. Seperti kekurangan waktu. Bahkan lucunya sebuah kebiasaan baik kini menjadi terlalu biasa sehingga kita mencoba keluar dari zona yang ada. Tenggelam dalam cinta dan kesukaan masing-masing. Tenanglah, jika itu baik dukungan akan selalu ada meski tidak dalam bentuk ungkapan atau rangkulan. Sayang, yang kita temukan adalah sebuah kekecewaan. Mendapati dirimu retak dalam rasa bertepuk sebelah tangan, dan kau memukanku yang menelan kegagalan atasimpianku. Lalu kita pernah duduk bersama disini, dalam diam memandang langit, saling pandang kemudian tertawa. Hal terbodoh yang semakin menyadarkanku.

Advertisement

Langit sudah gelap, dan angin malam kini mulai menusuk tiap pori kulitku. Seperti pagi hari akan menemukan ujung di malam hari. Begitupun kalimat aku butuh waktu rasanya sangat adil bila tidak berlama lama, dan menemukan ujung bahwa ini waktunya bagiku.

Begitupun dirimu yang sadar seperti aku kemarin. Kau sadar mencintai seseorang dalam jarak yang sangat dekat namun tidak akan pernah bisa mengungkapkannya. Karena kau tahu, yang terjadi kedepannya adalah dirimu sendiri yang akan terhempas dalam rasa bertepuk sebelah tangan. Seperti dia yang masih memperjuangkan perasaannya kepada orang yang tidak lagi menaruh rasa yang sama terhadapnya. Begitupun dirimu. Kau juga memperjuangkan perasaanmu pada dia yang tidak akan pernah merasakan hal yang sama untukmu. Bedanya kamu diam. Justru karena itu kamu diam.

Cobalah meneguk kopi hitam ini disaat waktu terasa begitu tidak adil dan menghimpitmu dalam kecemburuan. Cemburu kepada mereka yang bisa mengungkapkan begitu saja, cemburu pada mereka yang sempat memiliki. Dan aku tidak ingin mereka cemburu padamu hanya karena perhatian semu yang kau dapat darinya. Bukankah sudah cukup rasanya berdiri diambang batas kemampuan bertahanmu untuk terus baik-baik saja dengan seperti ini?

Kita tidak sedang bermain lagi. Aku pernah merasakan hal ini. Tidak akan kusesali yang kurasakan, bukankah semua ada waktunya? Setiap permainan juga melewati banyak tahap lalu akhirnya menemukan finish, atau game over. Sayang, ini bukan permainan. Hatimu bukan tokoh dalam game. Nyawa dan waktu mu tidak bisa kau beli seperti dalam game. Sudahlah. Kau hanya butuh waktu untuk lebih sakit lagi atau memilih inilah waktunya kau beranjak dari tempat dimana kau terus menunggu yang tidak mungkin, dan menanti entah sampai nanti.

Jangan meniruku, sebab bagaimanapun yang kau alami pernah kurasakan, tetap alur cerita ini masing-masing punya tokoh yang memiliki otonomi sendiri dalam mengambil langkah.Tegukan terakhir dalam gelas kopiku malam ini dan beginilah sekiranya langkah yang kuambil.

Aku tidak kuat lagi berpegangan pada sesuatu yang terlihat abu-abu, jika dia tidak bisa memberi spasi agar aku dapat memikirkan cerita yang baru, maka akulah yang harus meletakkan tanda titik sebelum aku pergi. Agar kedepannya ketika waktu kembali berteman, aku benar-benar telah selesai dan mengakhiri yang lalu tanpa perlu lagi menungu dimasa yang datang. Tanpa perlu bersembunyi dibalik kepura-puraanku berbahagia, dalam warna abu-abu yang kian kau pertebal.