Awalnya ku tak pernah menyangka akan jatuh cinta padamu. Kau yang kukenal pertama kali meninggalkan penilaian buruk dipikiranku. Kukira kau lelaki yang nakal, lelaki yang senang berpoya poya karena kulihat kau bergaul dengan mereka, anak-anak nakal. Namun, mungkin aku yang terlalu gegabah dalam menilaimu. Hingga suatu hari aku melihat sifat aslimu dibalik sosokmu yang misterius itu.

Jangan hanya melihat dan menilai, karena tidak semua yang bernilai dapat terlihat

Penilaian burukku tentang mu menguap seketika dan digantikan oleh rasa kagum dalam hatiku. Kau sosok yang baik, hangat dan bertanggung jawab. Itulah yang kutangkap saat pertama kali ku mengenalmu lebih dekat dari sebelumnya. Benih-benih kagum itu berubah menjadi rasa suka yang kini tak bisa kubantahkan. Memang rasaku baru tumbuh, namun kutak pernah tahu jika pada akhirnya rasa ini akan tumbuh semakin besar dari hari kehari. Hingga ku berangan-angan jika suatu hari kita bisa memadu kasih bersama walaupun angan-angan itu dirasa tak akan jadi nyata mengingat sosokmu yang sangat cuek jika di kelas.

Kita tak akan pernah tau akan jadi apa kedepannya jika kita tak mencoba

Rasa suka itu semakin menjadi jadi mengingat setiap hari kita selalu bertemu di kelas. Aku selalu memikirkanmu tanpa kenal lelah, memandangimu yang duduk dibangku paling belakang, dan mencoba bersikap biasa saja saat pandangan mata kita saling bertemu walaupun dalam hati rasanya senang tak terkira. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelas agar kau bisa bangga padaku. Namun ternyata aku hanya wanita biasa yang juga ingin dicintai dan mencintai. Aku tak tahan jika harus menunggu dan memendam perasaan ini sejak 8 bulan lamanya. Kucoba memberanikan diri untuk sekedar menyapamu di bbm. Walaupun kutahu akal sehatku meronta-ronta untuk tidak melakukan itu namun perasaanku berkata harus melakukannya. Aku berpikir jika ku tak mencoba maka aku akan menyesal seumur hidupku.

Advertisement

Jangan pernah malu dengan rasa cinta yang kamu miliki. Setiap orang layak untuk dicintai dan mencintai

Aku tak menyangka ternyata responmu baik terhadapku. Perlahan-lahan kau memberiku harapan hingga membungbung tinggi setinggi angkasa. Perasaan ingin bersamamu kembali menyelinap masuk ke relung hatiku. Tidak terasa hari demi hari kita semakin dekat dan sering saling sapa walaupun lewat bbm. Aku tak berani menyapamu secara langsung begitupun denganmu. Namun tetap saja aku senang sekali bisa chatan denganmu hingga larut malam. Akupun tak malu lagi memberimu “kode” mengenai perasaanku dan tanggapanmu sangat baik saat itu. Dan hari itupun tiba. Hari yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Hari dimana penantian ku telah berakhir. Hari dimana mimpiku untuk bersama akan menjadi kenyataan dan bukan hanya angan-angan semata. Tanggal 29 agustus lalu kamu menyatakan cintamu padaku. Cinta yang tak pernah kusangka akan tumbuh juga dihatimu. Aku senang tak terkira. Dunia seolah lebih indah dari biasanya. Kutahu kita sama-sama baru pertama kali pacaran namun kuberharap kaulah yang pertama dan terakhir dalam perlabuhan cintaku.

Semua berawal dari hari itu. Kita memadu kasih bersama seolah dunia hanya milik berdua

Cinta sungguh dapat merubah segalanya. Segala yang susah menjadi senang, segala kerisauan menjadi kegembiraan, segala hal terlupakan dan hanya ada kita berdua. Kita menunjukan cinta kita yang baru bersemi, saling melontarkan kata-kata sayang setiap hari, menghabiskan waktu berdua setiap saat, saling menanyakan hal yang sepele tapi menyenangkan, saling menautkan jari dan berjanji akan selalu bersama seakan cinta dan romantisme kita tak akan pernah habis. Ku ingat saat anniv kita satu bulan. Kau memberikanku sebuah hadiah yang indah. Kotak musik yang terdapat patung laki-laki dan perempuan di dalamnya. Mereka berdua tengah menari di bawah putihnya salju seakan hidup mereka hanya untuk menari berdua. Aku terpesona menatapnya dan menginginkan hidup kitapun akan seperti mereka.

Badai datang menerpa cinta kita. Namun itu bukan alasan kita berbalik mundur. Jadikan itu alasan memperkokoh kapal yang kita tumpangi

Hingga badai yang tak diundang itupun datang. Kita bertengkar gara-gara hal yang sepele. Ini pertengkaran kita yang pertama. Sifatku yang tidak mau kalah harus berbenturan dengan egomu yang besar itu. Kita saling melontarkan kata-kata tajam yang menusuk hati. Aku sudah tak bisa menahan amarahku lagi. Kita bagaikan anak kecil yang memperebutkan permen dan tidak ada yang mau mengalah. Namun ternyata kamu lebih berbesar hati dibandingkan aku. Kamu rela membujukku agar tidak marah lagi hingga rela meminta maaf padaku lebih dulu. Aku malu padamu.. Aku tak tega melihatnya.. Melihat orang yang sangat ku sayang ini mengkesampingkan egonya demi diriku. Kamu juga memberiku kejutan kecil lainnya. Di anniv kita yang ke 4 bulan kamu mengajakku jalan-jalan ke tempat yang tidak dapat aku lupakan. Kita berlarian di tengah kebun teh yang asri, menatap takjub air terjun yang menjulang tinggi dihadapan kita. Sungguh kuasa allah yang sangat indah.. Sama seperti dirimu sayangku..

Sekali atau dua kali mungkin masih bisa kita hadapi, namun bila badai itu datang bertubi-tubi aku tak tahu akan jadi apa akhirnya

Hampir setahun kita berhubungan, namun pada kenyataannya membesarkan hati untuk mengurangi ego masing-masing itu tidaklah mudah. Ditambah lagi pendapat kita yang sering kali berbeda membuat hubungan ini semakin meremang. Saat masalah satu selesai selalu saja masalah lain datang menghampiri. Lelah, jenuh, bosan mulai hinggap dihatiku. Kita semakin sering bersitenggang dan melontarkan kata yang jauh dari romantis seperti dulu.

Kuberharap kaulah akhir dari cerita indahku. Menua dan mengukir hidup denganmu menjadi cita-citaku saat ini. Namun, sepertinya engkau bukan tokoh dalam akhir dari cerita itu

Puncak masalahnya saat libur un dimulai. Kita yang terbiasa bertemu setiap hari kini mulai jarang bertemu dan hanya berhubungan lewat handphone saja. Sesekali aku memintamu bertemu, namun kamu mulai enggan memenuhi permintaanku. Alasanmu selalu klasik.

“Aku lagi sibuk bantu-bantu nenek”

Atau

“Aku lagi engga ada uang sekarang. Nanti aja ya”

Padahal dulu kita selalu bertemu bahkan dihari libur. Jujur aku menyukai kita yang dulu. Hingga suatu hari kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tanpa sepatah katapun. Aku khawatir bagaimana keadaanmu disana. Aku ingin membunuh rasa peduli ini namun apa daya aku tak mampu. Diam-diam aku merindukan pertengkaran kita. Jika boleh memilih, aku lebih suka kita bertengkar daripada kamu menghilang tanpa kata seperti ini. Tak pernah kubayangkan sosokmu telah mempengaruhiku sebesar ini. Kepergianmu telah menyisakan ruang kosong dihatiku hingga sehampa ini. Sungguh sakit hatiku. Hingga hari ke 5 kau mulai menghubungiku kembali. Namun kau tahu aku belajar apa saat kau menghilang? Aku belajar terbiasa. Terbiasa tanpa pesan singkatmu, terbiasa tanpa perhatianmu, terbiasa tanpa sosokmu dalam hidupku walau sungguh berat untukku. Luka yang kau goreskan terlalu dalam, hingga akhirnya akupun bertekad mengakhiri hubungan ini dan melupakanmu.

Ini bukan suatu kesalahan, melainkan pelajaran berharga untuk kita dalam memilih cinta baru di masa depan

Kini aku tahu bahwa membina hubungan itu tidaklah mudah. Karena ini masalah 2 hati jadi pasti akan sedikit rumit. Kita sudah sama-sama berjuangan untuk mempertahankan hubungan ini, namun apa daya sang pencipta tak berpihak pada kita. Tak ada yang salah dalam hal ini. Setidaknya dulu kita pernah berbahagia bersama. Kau telah mengajarkanku arti dicintai dan mencintai. Aku merasa bahagia pernah menjadi bagian dari hidup lelaki hebat sepertimu dan akupun berharap kaupun merasa bahagia pernah menjadi bagian indah dalam hidupku. Terima kasih untuk segalanya yang telah kau berikan. Dan maaf untuk luka yang pernah kugoreskan dalam hatimu.