Bibir ku mengatup tipis, membaca sekali lagi percakapan manis di layar genggam yang tiba-tiba terasa miris. Sejak awal aku sadar jika diri ini tak akan sepenuhnya bekerja sama dengan perasaan secara benar. Aku dan kamu sama-sama melempar bumerang namun hanya aku yang akhirnya terlukai dan mengobatinya sendiri. Entah kamu atau aku yang memulai, kita sama-sama terlalu jauh menebar berbait-bait canda dan gurauan, sesekali berkelakar tentang perasaan, juga terkadang memainkan peran sepasang kasmaran yang saling mengusik kabar tiap pagi hingga malam.

Seharusnya, sejak awal kupahami tentang kisah kita yang tak pernah kita mulai dengan kejelasan, semuanya mengawang-awang. Mengalir saja layaknya aliran air meski tak tahu akan kemana muaranya. Yang aku benci, bahasa yang kau rangkai serta sikap yang kau tunjukkan selalu saja menegaskan seakan kita lebih dari sekadar teman. Kau mulai tanamkan satu dua damai, dua tiga nyaman, serta empat lima cumbu yang berhasil menghapus ragu ragu yg menyergap pikirku. Kau berhasil ciptakan banyak sketsa masa depan yang meski samar-samar namun sudah cukup mewakili alasan untuk membumbungkan perasaan.

Lalu, salahkah aku yang jauh-jauh hari sudah terlanjur jatuh hati?

Kau telah menuntunku kesana, ke dunia yang sama sekali tak akan pernah kutahu jika bukan karena mengenalmu. Membukakan pintu-pintu baru yang pada akhirnya kau masuki sendiri tanpa mengajakku. Menjarah seisi hati hingga kemudian berlalu dan pergi tanpa permisi.

Haruskah sejahat ini?

Advertisement

Aku terlanjur mempercayai setiap kata yang kau suguhkan tanpa berpikir dua kali. Dengan mudah memaafkan setiap kesalahan beserta kebohongan akan janji-janji. Dengan lugunya telah ku gadangkan aneka rupa ending bahagia, yang pada kenyataannya hanya berujung sia-sia.

Lantas, kutemui kau di penghujung hujan sore tadi, menyerahkan surat ini dan berhenti untuk meyakini diri jika kamu juga menyimpan rasa di hati. Jelas sudah, aku hanyalah hiburan asikmu saat lelah, sebuah opsi pelarian ketika kamu tak ingin sendirian, juga sebuah tempat untukmu dapatkan pelukan ramah sehangat rumah.

Haruskah aku terlihat sebegitu menyedihkan?

Perlahan, gemericik cacian itu datang. Karena kata mereka, kamu sudah bahagia, bersamanya.
Tanpa perlu ada aku yang sendirian jatuh cinta.

Apakah kamu berpura-pura melupakanku? melupakan kita?

Mulai esok, kupastikan hati ini akan sangat rindu meski benci serta sisa-sisa patah hati bergantian mengirisku. Akan kuhembuskan sesak ini perlahan pada langit malam yang dulu sering kuperbincangkan bersamamu semalaman. Kini, kuputuskan pergi setelah kau meninggalkanku terlebih dulu. Aku akan melesak jauh, bersama desak air mata yang tak lagi kuat menggantung rapuh.

Diujung satu kedipan lukaku akan luruh, namun tidak dengan kecewa yang terus menganga lebih dari separuh.