Untuk kamu yang pernah jatuh cinta begitu dalam terhadap seseorang yang dahulu pernah ada dan selalu ada, seseorang yang akan meminjamkan jaketnya ketika kamu merasa kedinginan ditengah hujan, seseorang yang rela membuatkanmu kopi lalu dengan halus ia mengusap rambut basahmu, seseorang yang selalu membuatmu tertawa dengan lawakan basinya. Namun semua itu kini hanya sebuah kenangan, yang akan selalu kamu simpan dalam memori jangka panjang kehidupan. Semuanya tak mungkin pudar hanya karena sebuah perpisahan pahit tanpa selamat tinggal.

Untuk kamu di sana yang sudah bahagia, jangan pernah lupakan kisah kita yang luar biasa. Kenangan kita yang bermanifestasi seperti kopi, ada pahit di setiap tegukan, namun manis tak pernah tertinggal, dan ampas selalu hadir dalam seduhan terakhirnya. Untuk kamu yang selalu membuatku tertawa sendiri di kala hujan dan menghadirkan kenangan di masa lampau tentang sebuah percakapan sepak bola, bernyanyi bersama di sudut kota tentang lagu payung teduh ‘’Rahasia’’ dan aku akan selalu mengingatnya.

Namun, ketika semua kenangan itu hanya sebatas pengulangan memori indah yang kadang menyakitkan namun ada sebuah esensi untuk tetap diingat, kamu siap untuk merelakan. Kamu yang sudah siap menjemput seseorang yang sudah menunggumu lama, yang akan menghadirkan sejuta kenangan baru yang selalu membuatmu bahagia. Kamu tidak ingin kisah hidupmu itu, semacam ‘’Seekor ular yang membentuk lingkaran, lalu memakan ekornya sendiri’’ Kamu tidak akan mengulang keindahan sama dan merasa sakit yang sama pula, dan terus akan berulang. Seseorang yang baru itu, akan abadi selamanya membantumu berjalan. Dia yang akan menuntunmu ketika kamu terpapah, dia yang rela menggendongmu ketika kaki tak sanggup untuk berpijak.

Dalam proses merelakan, kamu awalnya tidak pernah ikhlas dan seringkali mengutuk keadaan.

Inilah awalnya, kamu yang selalu mengutuk dirimu yang sudah terlalu bodoh untuk terus-menerus menyiksa diri sendiri dan merasa kesakitan karena satu orang yang tidak akan memperdulikan kamu lagi. Dia yang sudah pergi tidak akan kembali, dan kamu sudah paham hal itu. Namun sering kali, ketika kenangan manis itu muncul tanpa permisi. Kamu akan menolak akal sehatmu dan berharap bahwa kisah akan tetap berlanjut dan mengharapkan dia kembali. Dan kamu berjanji dengan diri sendiri, bahwa tidak ada salahnya untuk menangis semalaman. Dan ketika tangis itu berakhir, kamu kembali sadar dan menatap jendela kamar. Kamu menghirup udara luar yang luar biasa segar, dan menerawang kedepan ‘’Inilah saatnya aku bangkit, kembali melihat ke depan’’

Advertisement

Ketika kamu pernah mencintai lalu ditinggalkan, kamu akan tetap tabah dan cukup berlapang dada.

Lagu Sheila on 7- lapang dada, kembali menyadarkan terhadap kamu yang pernah ditinggalkan, bahwa berjalan meratapi kehidupan tanpa sebuah keikhlasan itu amat percuma. Kini, kamu sadar, dia bukanlah satu-satunya yang akan membuatmu bahagia, dia bukanlah satu-satunya yang akan menemanimu menyeduh kopi sambil bernyanyi disudut taman. Dan kamu pun akan tersenyum mengingatnya. Berkaca dan berdialog bersama cermin lalu berkata ‘’ Hei, aku pantas untuk bahagia’’

Perlahan kamu akan paham arti ‘’melepaskan’’ dan bersiap menyambut dia yang akan membawamu ke dunia baru.

Melepaskan hanyalah sebuah kerelaan tentang sebuah keikhlasan, kamu paham dia bukan seseorang yang akan menemanimu berpetualang di kehidupanmu seterusnya. Dia hanyalah figuran yang sempat berperan untuk ikut merasakan berskenario dalam catatan takdirmu. Dia akan tetap ada dalam scene sebuah film yang kamu perankan, namun ia hanyalah sementara lalu akan digantikan oleh scene berikutnya yang lebih indah. Akhir dalam sebuah film kamu yang akan menentukan, akan seperti apa jadinya. Kalau kamu ikhlas menyambut pemeran baru. Tidak salah untuk kamu mencobanya untuk diajak berperan. Berbahagialah, sambut ia dengan senyuman, ajak ia berlari. Karena dia yang mencintaimu tidak akan membiarkanmu kelelahan sendirian.

Seseorang yang baru memang akan selalu ada, namun dia yang pernah duluan ada akan tetap kamu ingat.

Ketika kamu sendirian, menatap langit sore dengan memperhatikan burung-burung yang kembali ke sarangnya, ketika lelah berkelana seharian. Kamu tidak lupa untuk memutar satu lagu yang mengingatkanmu kepada dia yang pernah duluan ada.
DIALOG DINI HARI- SENANDUNG RINDU

Satu kisah terpendam
Mengukir relung hati yang terdalam
Rinduku padanya
Mengendap, ikhlas, pagi, siang, malam.

Tiba-tiba terbesit sebuah rasa untuk mengingat sebuah kenangan, rindu itu hadir kepada seseorang yang pernah ‘’meninggalkan’’, sayangnya kamu hanya merasakan dengan senyuman getir yang disembunyikan dalam seduhan kopi panas, rindu itu hanya mengendap seperti ampas kopi yang selalu tertinggal dalam setiap seduhan.
Namun itu hanya sementara, ternyata kamu sudah ikhas dengan sebuah kenangan. Kamu tak lagi ingin mengingatnya terlalu lama. Kamu kembali berkaca, tersenyum lebar untuk tidak akan menyia-nyiakan dia yang sudah ada yang berani mengajakmu berlari untuk meninggalkan kenangan, karena kamu yakin ‘’Aku pantas untuk bahagia”.

Ketika kamu sudah yakin meninggalkan kenangan, seseorang yang baru akan bersedia membuatmu bahagia.

‘’Kini aku akan siap sedia untuk menatapmu lebih lama, memperhatikan setiap pakaian yang akan kamu kenakan, kini aku yang akan memperhatikan setiap langkah yang akan kamu pijak, karena kini aku akan sepenuhnya mencintaimu lebih dalam’’

Itulah sebuah ungkapan yang akan kamu tunjukan kepadanya, kini kamu sudah yakin sepenuhnya dengan pilihan yang kamu terima. Segalanya akan baik-baik saja. Kamu membiarkan takdir ikut berperan dalam catatan kehidupanmu. Dialah takdirmu, dialah seseorang yang Tuhan kirimkan untuk membuatmu menciptakan kenangan baru.

‘’Ini untukku yang sudah bersedia meninggalkan cerita lama yang kurang mengasyikan, dan ini lembaran baru yang akan aku tuliskan bersamamu mengelilingi sudut kota ditemani secangkir kopi hitam. Karena bersamamu segalanya akan baik-baik saja, dan inilah kisahku yang baru. Bersamamu menyambut cerita baru ’’